Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

EMPAT BELAS

205 29 0
                                        

Echa berbaring diatas kasurnya memikirkan perkataan Chenle tadi, entah kenapa Echa merasa sedikit aneh seharusnya dia senang karena Chenle laki-laki yang dia sukai menyatakan cintanya tapi kenapa Echa merasa terbebani dengan rasa itu.

Echa menarik napasnya dalam-dalam berusaha menenangkan dirinya sendiri.

•••

Keesokan paginya Echa terbangun awal karena dia berniat untuk bersepeda karena ini hari minggu alun-alun pasti akan ramai di penuhi mengunjung akhirnya Echa memilih untuk bersepeda disekitar danau.

Saat sedang santai menghirup udara segar di tepi danau sambil mengayuh sepedanya, dari jauh Echa melihat Yeji yang sedang dirundung oleh beberapa wanita yang sepertinya seusia dengan dirinya.

Karena tak tega akhirnya Echa mengayuh sepedanya dengan kencang dan dari jarak beberapa meter Echa melihat gadis tersebut ternyata dia adalah Yeji.

"Berhenti!!! "
"Ck. Siapa lagi ini? " decak kesal salah satu gadus tersebut.
"Oh. Ada pahlawan yang akan menolong gadis cupu ini?  " ujarnya kembali.

Echa melihat Yeji yang sudah acak-acak dari sudut bibirnya keluar darah segar dan pipinya terlihat memar. Echa menatap kesal kearah tiga wanita yang kini berdiri dihadapannya.

Echa mulai berantem dengan ketiga wanita tersebut. Pertarungan sesama wanita, apalagi jika bukan saling menjambak rambut. Karena karah jumlah Echa akhirnya kalah.

"Hah? Boleh juga lo. Tapi sekarang lo bakalan berakhir sama kayak dia.. " saat hendak memukul Echa tiba-tiba terdengar suara deheman yang membuat mereka mengalihkan pandanhannya.

"Siapa tuh, ganteng banget. " "Iya,  iya ganteng banget. Anak mana tuhh... " bisik mereka.

"Renjun? " ucap Echa

Renjun datang dengan setelan larinya tak lupa dengan headphone yang selalu menggantung di lehernya. Sekilas Renjun sempat melirik Echa.

"Gue udah panggil polisi kalo kalian gak pergi sampe hitungan 5 mereka bakanlan nangkep kalian. "

Ketiga wanita tersebut mulai panik, apalagi ketika Renjun mulai menghitung mundur, mereka semua berlarian dengan panik.

Setelah dirasa aman Echa membantu membangungkan Yeji. "Lepasin gue!! " sinis Yeji sambil menepis tangan Echa.

"Lo it- " belum selesai Renjun mengatakannya Echa memberikan kode untuk berhenti berbicara.

"Gue obatin yaa luka lo. " ucap Echa dan Yeji hanya menatap wajah Echa.

Disinilah mereka sekarang. Echa membantu mengobati luka diwajah Yeji sedangkan Renjun hanya diam menatap kedua gadis tersebut.

"Udah, lukanya udah gue obatin. " saat hendak pergi Yeji menahan tangan Echa.
"Kenapa lo bantuin gue tadi? Bisa saja lo tadi pergi ninggalin gue. "
"Karena gue pernah diposisi lo dan gue gamau ada orang yang ngalamin hal sama kaya gue. "

Yeji meneluk Echa dengan erat dan menangis dipelukannya. "Maafin gue ca, gue gak bermaksud buat nyakitin lo selama ini, gue cuman trauma sama kejadian yang gue alamin pas SMP. "
"iyaa gue ngerti sekarang tenangin diri lo jangan sedih lagi yaa.. " ujar Echa sambil mengelus pundak Yeji.

Entah mengapa ada rasa bangga pada diri Renjun, hati baik Echa berhasil mengetuk pintu hati Renjun yang selama ini telah terkunci rapat-rapat.

Setelah mengantar Yeji naik taxi kini Renjun menemani Echa kembali ke tempat awal untuk mengambil sepedanya yang tertinggal.

"Kok lo mau nolongin dia? " tanya Renjun
"Karena gue pernah diposisi dia. "
"Tapikan dia yang bikin lo ada di posisi itu."
"Gausah di kasih tau lo juga tau kali. Kejahatan itu jangan dibalas dengan kejahatan lagi. Ibaratkan api kalo disiram bensin pasti bakalan makin gede tapi kalo disiram air pasti padam, gue cuman gamau jadi bensin itu gue maunya jadi air yang bisa nenangin apinya. "

Entah kenapa tiba-tiba Echa teringat dengan moment ketika Chenle menyatakan perasaannya kepadanya.

"Kenapa? " tanya Renjun yang heran melihat Echa menghentikan langkahnya. Tak menjawab Echa hanya menatap Renjun.

Tanpa sadari Renjun kini meraih tangan Echa membuatnya tersadar dari lamunannya.

"Lo ngelamun? "
"Ha-hah? Engga kok engga. "
"Iyaa... Lo ngelamun. " Echa baru sadar bahwa kini tangannya digenggam oleh Renjun.

Echa kini menuju jalan pulang dia sengaja tak menaiki sepedanya dan hanya mendorongnya, tatapannya pun kosong. Terlalu banyak hal yang ada dipikiran Echa.

Saat menyebrang Echa tak sadar bahwa lapunya mulai hijau dari sebelah kanan melaju sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi dan hampir menabraknya namun beruntung Renjun menarik tubuhnya.

"Lo gila? Lo mau hati hah? " bentaknya namun Echa hanya mengedip-ngedipkan matanya kateja masih belum sadar dengan apa yang barusan terjadi.

"Jangan dimarahin gitu nak dia mungkin masih syok. Kasihan kan pacarnya. " ujar seorang wanita tua kepada Renjun.

Karena khawatir hal seperti tadi terjadi lagi akhirnya Renjun memutuskan untuk mengantarkan Echa kembali ke panti. Renjun dan Echa berjalan beriringan.

"Makasih ya lo tadi udah nolongin gue kalo gaada lo gatau deh gue udah jadi apaan tau-... "

Saat sedang sibuk mendengarkan perkataan Echa, tiba-tiba perut Renjun terasa sakit dia terus memegang perutnya ban berusaha untuk terlihat kuat.

"Dan lagi.. RENJUN... Astaga lo kenapa? " kaget Echa setelah melihat wajah Renjun yang sangat pucat.
"Nggak, gue gapapa kok. " dustanya
"Bohong muka lo pucet banget. "
"Lo pergi aja sana. "
"Enggak, nggak mungkin gue ninggalin lo gitu aja.
"GUE BILANG PERGI YA PERGI!! " sentak Renjun dengan nada tinggi, mendengar hal tersebut membuat Echa terkejut dan takut.
"YAUDAH GAUSAH MARAH-MARAH JUGA. " teriak Echa yang merasa kesal.

Setelah Echa menghilang dari pandangannya, Renjun berjalan dengan tertatih-tatih dan duduk disebuah halte yang sepi dia menidurkan tubuhnya diatas sana dan mulai meringkuk kesakitan. Wajahnya sudah pucat, benar-benar pucat.

•••

Entah bagaimana caranya Chenle membawa Renjun pulang dan menidurkannya di kasurnya. Pembantunya bernama Bi Narti terlihat panik melihat kondisi Renjun sekarang.

"Nden, Bibi telpon nyonya sama tuan ya den.."
"Nggak Bi jangan, nanti mereka khawatir."
"Tapi nyonya sama tuan harus tahu kondisi aden sekarang. "
"Nggak usah, sekarang Bibi kedapur aja yaa.. "
"Ba-baik den. "

"Gue bilang apa kalo mau olahraga ajak gue. " kesal Chenle
"Lo gak liat hp lo?  Gue udah nelpon lo berapa kali, hah? "
"Hehehe.. Lo tau sendirikan kalo jam tidur gue udah kek beruang lagi hibernasi. "
"Ck. " decak Renjun

"Lo coba liat ke panti, Echa udah nyampe apa belum. " ujar Renjun tiba-tiba
"E-echa?? "

Sesuai permintaan Renjun kini Chenle pergi kepanti untuk memastikan keberadaan Echa. Saat tiba disana Bu Sekar bilang bahwa sejak pulangnya dari bersepeda Echa tak mau keluar dari kamarnya.

Bu Sekar meminta Chenle untuk membujuk Echa keluar dari kamarnya karena dari pagi dia belum memakan apapun.

Tok.. Tok.. Tok.. Chenle mengetuk pintu kamar Echa.

"Ca, ini gue Chenle. Keluar sebentar dulu yukk.. Lo kenapa hm?? Cerita sama gue jangan kayak gini,  keluar dulu yahh.. " ujar Chenle dengan lembut.

Selang lima menit kemudian akhirnya Echa membukakan pintunya.













































"Salahku adalah membukakan pintu untuknya saat itu. "














~TBC

Cold! || Huang RenjunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang