TIGAPULUH DUA

126 13 0
                                        

Maaf yaa baru update sekarang T_T kedepannya bakalan update sesuai jadwal (seminggu sekali hari Rabu)





Enjoyyyy








Renjun kembali ke rumahnya dengan dipapah oleh Pamannya, dokter bilang reaksi Renjun tadi hanya efek samping dari kemoterapi yang dia jalankan.

Renjun kembali kerumahnya dengan disambut oleh Bi Narti.

"Mba Arum sama Mas Helmi kemana Bi? "
"Anu den, nyonya sama tuan udah berangkat ke Amerika. "
"Renjun kamu gak ngasih tau paman soal ini. "
"Maaf gak sempat. "
"Oke makasih bi, Bibi bisa balik kerja lgi. "
"Baik den, permisi.. "

"Kamu ikut paman ke apartemen yaa.. "
"Terus yang jagain rumah siapa? "
"Kan ada Bu Narti, paman gak bisa biarin kamu sendiri kayak gini. Ya meskipun Bi Narti bisa jagain kamu tapi paman gak tenang kalo kamu berada di tangan orang lain. "
"Lebay deh. " ujar Renjun sambil berusaha untuk sedikit bercanda.
"Paman kayak ginu karena paman khawatir banget sama kamu. "
"Iyaa, iyaa Renjun ikut ke apartemen Paman. "

Siang berganti malam. Ditengah rumah Echa disibukkan dengan sejumlah buku yang kini membuat ingin meledak. Terlalu begitu banyak angka yang dilihatnya, hingga dia mual.

"Ahhh!! Gue rasa mau muntah. " ucapnya sambil menepuk-nepuk pundaknya namun tak lama kemudian sebuah tangan kecil meraihnya dan membantunya menepuk pundaknya.

"Cici? " panggilnya sambil tersenyum
"Kak Echa pusing banget ya? Sampe pucet gitu. "
"Iyaaa nih, Kak Echa gak ngerti sama pelajarannya. "
"Bukannya harusnya Kakak belajar sama Kak Renjun. "

Echa langsung menyipitkan matanya begitu Cici menyebut nama Renjun. "Ouhhh jadi baik sama Kak Echa cuman buat nanyain Kak Renjun? " Echa terus menggoda Cici dengan menggelitik perutnya.
"Ahh!! Hehehe ampun kak.. hehehe ampunn.. "
"Humm jadi gak sayang nih sama Kak Echa? "
"Iihh bukannya gitu Kak Echa... Nih yaaa dengerin Cici, Kakak sama Cici kan setiap hari juga ketemu jadi bosen tauuu. "
"Ihhh bocil satu ini yaa, ngomongnya ngeselin!! " ucap Echa sambil kembali menggelitiki perut Cici.

"Jadi kemana Kak Renjun, Kak? Kok udah gak kesini lagi sih. "
"Itu... "
"Kata siapa ini ada!! " ucap Renjun yang tiba-tiba datang.
"Renjun... " gumam Echa

"Kak Renjun!!! " Teriak histeris Cici dan langsung berlari untuk memeluknya.

Dari kedatangannya hingga saat ini, baik Renjun maupun Echa tak ada yang memulai untuk bicara Cici dan Dio terlihat kebingungan yang melihat kedua orang dewasa ini malah salah diam dan hanya saling curi-curi pandangan.

Dio berbisik sesuatu pada Cici dan mereka terlihat sepakat akan sesuatu? Cici dan Dio akhirnya meninggalkan mereka berdua untuk saling bicara.

Setelah beberapa jam mengunjungi panti dengan alasan mengajari Echa pelajaran yang dia tak kuasai. Echa mengantarkan Renjun hingga depan rumah.

"Maafin gue. " ucapnya dengan sungguh
"Buat apa? "
"Buat tadi pagi, buat pas di kantin dan buat lomba itu. "
"Gausah minta maaf, disini gue yang salah karena terlalu banyak menyimpan harap buat balasan cinta dari Lo. "

"Gw- " saat Renjun hendak berbicara, Echa memotong perkataannya "Stop. Gue gamau denger kata lain lagi, gue pacarnya Chenle!! " mendengar hal tersebut justru membuat Renjun malah memeluknya, pelukan yang erat Echa berusaha untuk melepaskannya namun semakin keras usaha Echa melepaskannya semakin kuat juga Renjun memeluknya.

"Gue pacar Chenle!! " ucapnya sambil terus meronta-ronta, Renjun tetap setiap menahan pelukannya.
"Gue pacar Chenle!! Gue bilang gue pacar Chenle!! " mendengar hal tersebut membuat Renjun melakukan lebih dari memeluknya, dia mengelus lembut rambut Echa. Air mata mengalir begitu saja dipipi Echa.

"Gue gak peduli Lo pacar siapa atau milik siapa. Selama gue masih hidup Lo tetap Echa milik gue seorang...!! "
"Kenapa jatuh cinta sama Lo mesti serumit ini. Gue cuman pengen tahu gue suka Lo dan Lo suka sama gue udah gitu aja.. " ucapnya seraya dengan Isak tangis. "Dan kita bisa sama-sama buat waktu yang lama " lanjutnya
"Maaf gue gabisa ngasih itu ke elo. " jawab Renjun namun tak terdengar oleh Echa.

Renjun kembali kerumahnya dengan sedikit kacau pikiran dan perasaannya berkecamuk, saling bersaing untuk menjadi pilihan untuk apa yang akan dia lakukan.

Sementara itu dikediaman Chenle dia nampak sibuk menunggu jawaban panggilan telepon.

"Gimana nak, diangkat? "
"Belum mah, kayaknya udah tidur deh. "
"Tidur?? Apa yang lain, jangan-jangan selingkuh lagi hahaha... " Goda Jaehyun

Chenle hendak melayangkan bantal yang ada didekatnya namun Kinan datang dan berdecak agar Chenle tidak jadi melemparkan bantalnya.

"Yaudah gapapa, ajak Echa nya lain kali aja. " ucapnya sambil menata makanan di meja makan.

Saat sedang sibuk menyantap makanan hidangan Kinan, tiba-tiba Jaehyun mendadak ajukan pertanyaan yang membuat Chee terlihat kesal dan marah "Gimana Tante, udah temuin anak Tante?"

Dengan emosi Chenle melempar sendok dan garpunya ke atas meja dan berdiri dari kursinya "Udah gue bilang anaknya Mamah itu cuman kita gaada yang lain!! " Bentaknya yang kemudian pergi masuk kedalam kamarnya membuat Kinan tersentak sekaligus khawatir.

Beberapa menit kemudian Kinan pergi kekamar Chenle. Dia mengetuk pintunya berkali-kali dan meminta ijin kepada sang pemilik kamar untuk membukakan pintunya.

"Chenle, buka pintunya sebentar.. " berulang kali Kinan mengatakan hal tersebut sampai akhirnya suara gemercing kunci terdengar dan membukakan pintunya.

Chenle duduk disudut kasurnya diikuti oleh Mamahnya. Kinan mengelus pelan rambut Chenle.

"Kau tahu, berapapun anak yang Mamah miliki kamu tetap anak Mamah. Bang Jaehyun anak Mamah, Ochit anak Mamah dan begitupun Chenle. Chenle juga anaknya Mamah.. " ucapnya, mendengar hal tersebut membuat Chenle langsung memeluknya.

Setelah selesai menenangkan Chenle, Kinan turun kemudian menemui Jaehyun yang nampak menunggunya diruang keluarga.

"Maafin kelakuan Chenle yan Tante. "
Kinan tersenyum "Nggak, gausah minta maaf. Gaada yang salah. " ucapnya menenangkan, Jaehyun yang setengah ragu menatap wajah Kinan kini mencoba untuk memberanikan diri "Maaf Jaehyun gak bisa manggil Tante dengan sebutan Mamah. " lagi-lagi Kinan tersenyum, dia membawa Jaehyun kedalam pelukannya.

"Kalian gausah minta maaf. Gaada yang salah, baik Chenle maupun kamu kalian tetap anak Tante. Wajar kamu gak bisa manggil Tante Mamah karena Tante cuman orang asing dikeluarga ini. "
"Enggak Tante, Tante bukan orang asing. Kita keluarga. "

Kinan menghapus air matanya dan kemudian meminta Jaehyun untuk segera tidur ke kamarnya.

"Tante gapapa kan? "
"Udah gausah khawatir, Tante baik-baik aja. "
"Selamat malam Tante. " Ucap Jaehyun sebelum beralih pergi.

Malam Rabu membuat Echa terjaga dari tidurnya, dia terus menatap langit seakan menantikan sesuatu muncul dibalik gelapnya malam. Echa mengembuskan nafasnya panjang, menarik selimutnya dan menenggelamkan tubuhnya dibalik selimut tebalnya.

Dering telepon rumah Panti berbunyi dengan tergesa-gesa, Bu Sekar mengangkat telponnya. Matanya membulat begitu mendapat telepon tersebut.

"Apaa?? "

Bu Sekar kini berada di rumah sakit menunggu cemas diluar dengan keadaam yang sudah berantakan seakan langitnya runtuh dia bahkan tak memperdulikan banyak mata yang menatapnya iba.

Tak lama kemudian Echa datang karena ditelpon oleh Bu Sekar untuk segera datang ke Rumah sakit karena salah satu anak panti bernama Tieta alami kecelakaan saat pulang dari sekolahnya.

"Dengan keluarga Cici? "
"Iya dok saya Ibunya. "
"Benturan yang dialaminya sangat fatal... " belum selesai dokter mengatakannya, Bu Sekar memotong perkataannya "Nggak dok!! " "Lukanya sangat serius, Tieta harus segera dioperasi. "
"Cici... " teriak Bu Sekar dipelukan Echa.

Echa tampak begitu berusaha menahan rasa tangisnya dan hanya memeluk Bu Sekar untuk menenangkannya.






































"Tuhan, apa rasa ini salah? Mengapa kau tunjukkan padaku kebenaran yang membuatku terjerat akan jawabanya. "









~TBC

Cold! || Huang RenjunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang