Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

DUAPULUH SEMBILAN

129 15 0
                                        

Echa menangis di ruangan UKS, hatinya tak dapat menahan rasa yang begitu menyakitinya. Mendengar sebuah kata buruk yang dilontarkan oleh orang yang dicintainya merupakan salah satu kepedihan dalam hidup.

Sementara itu dilain tempat, Renjun tengah merenungkan kembali perkataannya pada Echa. Namun penyesalannya hilang begitu dia melihat Chenle yang sedang mencoba membuat Echa berhenti menangis.

Entah kenapa Renjun terus memperhatikannya bukan moment antara keduanya melainkan menatap wajah Echa dari jauh.

"Kau tahu luka terbesar seorang pria adalah melihat gadis yang dicintainya bermanja dan bermesraan dengan pria lain. "

Renjun memilih untuk kembali ke kelasnya dan menyibukkan dirinya dengan membaca buku.

"Gak kerasa Senin udah ujian aja, bentar lagi lulus nih!! " seru seorang murid yang ditanggapi gembira oleh temannya.
"Renjun Lo udah siap-siap buat ujian Senin nanti? " tanya salah satu mereka.

Belum Renjun hendak menjawab, teman disebelahnya sudah terlebih dahulu menjawab pertanyaan itu. "Lo gak liat yang dia pegang apa? "

Saat Renjun hendak melanjutkan obrolan tiba-tiba semua murid datang dan diiringi kedatangan guru pengajar mereka.

"Baik duduk anak-anak... " seorang pria yang cukup tak asing nampak mengabsen seluruh wajah anak-anak kelasnya.

Pandangannya terhenti begitu melihat wajah Renjun yang nampak sedang mencemaskan sesuatu.

"Baiklah, saya akan memperkenalkan diri. Saya Kim Doyoung, saya adalah guru baru kalian yang akan mengajari kalian pelajaran Matematika. "

Renjun nampak sedikit tertarik ketika pria yang kini menjadi gurunya mengatakan bahwa dia guru matematika pengganti.

"Saya pindahan dari Korea, mohon kerjasamanya. " ucap Doyoung setanah mungkin.
"Pak!! Guru juga bisa pindahan ya? " Tanya salah satu siswa yang diikuti gelak tawa seisi kelas, kecuali Renjun.
"Bisa dong, buktinya saya! "

Renjun nampak berdecak ketika guru Doyoung menjawab pertanyaan kekanak-kanakan temannya itu.

"Pakk!! "
"Eitss tidak ada yang boleh bertanya diluar dari pelajaran yang saya ajarkan!! " Tegas Doyoung membuat Renjun sedikit tertarik.

Saat jam pelajaran berakhir, Renjun nampak sibuk memasukkan buku-bukunya kedalam tas.

"Renjun? " Tanya guru Doyoung, tanpa menjawab Renjun hanya berbalik dan menatap wajah gurunya itu.

"Apa kau tahu Chenle izin kemana? "
"Bukankah bapak gurunya? Kenapa bapak bertanya pada saya, bukankah itu sudah tugas bapak? " Jawab Renjun dan mulai melangkah pergi.

"Saya melihatnya keluar dari gerbang sekolah bersama seorang wanita manis. " Mendengar hal tersebut membuat Renjun sedikit tertarik dengan arah pembicaraannya.
"Paman... Hentikan!! " Jawab Renjun kesal
"Habisnya kau ini, formal sekali pada pamanmu ini. "
"Aku tidak mau teman-temanku mengetahui bahwa kau pamanku. "
"Memangnya kenapa dengan itu, pamankan tampan. " Ujarnya sambil mengacungkan ibu jari dan telunjuknya dibawah dagunya untuk menunjukkan bahwa dia memiliki ketampanan yang Ia sebut.

Saat digerbang sekolah Renjun berpapasan dengan Echa dan Chenle yang saling membalas tawa. Echa terdiam begitu dirinya saling melempar pandangan dengan Renjun.

"Ayokk udah siap. " Ujar Pamannya Renjun.
"Chenle!!! " Panggil Doyoung antusias dan akhirnya mereka saling bertukar peluk. "Oh iya paman bawa sesuatu buat kamu, cepat ambil di dalam mobil. "
"Siapp bossquee. "

"Gak bakalan dikenalin nih? " Goda Doyoung.
Renjun sedikit berdecak kesal "Ini paman gue, paman Doyoung dan paman ini Echa... Pacar Chenle. "

Doyoung dan Echa saling berjabat tangan.
"Paman yang ini bukan? " Teriak Chenle

Cold! || Huang RenjunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang