Beberapa jam sebelum kecelakaan Cici.
Bu Sekar mengantarkan Cici hingga kedepan sekolahnya, hari ini Cici bersekolah sendiri karena Dio ijin untuk tidak masuk sekolah karena sakit.
Sebelum pergi Bu Sekar memberi Cici araahan "Nanti di sekolahnya baik-baik yaa.. "
"Iyaa Bu. "
"Nanti pas pulangnya Cici tungguin Ibu ya, ada yang harus Ibu urus dulu jadi gak bisa nungguin Cici. "
"Okee Buu.. " ucap Cici sambil mengacungkan ibu jarinya.
Jam menunjukkan pukul 11 siang, sekolah Cici berakhir semua murid keluar dari kelas dan disambut oleh kedua orang tua mereka atau hanya sekedar Mamah atau Ayah mereka yang menjemput. Cici tersenyum lemah melihat sebuah keluarga yang berpeluk riang bersama anaknya yang baru saja keluar dari kelasnya.
Cukup lama Cici menunggu, hingga seorang satpam penjaga sekolahnya mendekatinya.
"Loh, adek Cici belum dijemput? "
"Belum nih Pak, Ibu lagi ada urusan sebentar jadi jemputnya agak terlambat. "
"Ohh gitu yaudah adek Cici tungguin disini yaa, jangan kemana-mana. " ujar Pak Satpam yang dijawab anggukan oleh Cici.
Karena kesal menunggu lama, Cici berinisiatif untuk kembali ke panti sendirian. Karena dia pikir dia hafal jalan pulang, meski begitu sebenarnya dia cukup takut untuk pergi tapi akhirnya dia memutuskan untuk pergi saja sendiri.
Cici berjalan perlahan ditepian jalan sembari mengingat perkataan Bu Sekar untuk "Jalan ditepian, jika ada orang tak dikenal memberikan sesuatu. Langsung teriak atau lari saja. " Cici cukup pintar untuk mengingat semua yang dikatakan Bu Sekar kepadanya tentang bahaya anak kecil sendirian di tepi jalan.
Cici memandang pasrah lurus kejalan. "Hufff nyebrang, kira-kira Cici bisa gak ya? Hummm pasti bisa!! " Ujarnya menyemangati dirinya.
Langkah kecilnya mulai bergerak melewati jalanan hitam-putih, dengan mantap kakinya terus melangkah tanpa melihat sekeliling. Dari kanannya datang sebuah mobil box yang melaju dengan oleng, mobil tersebut melaju dengan ugal-ugalan. Dia tak melihat bahwa didepan jalannya terdapat seorang anak kecil yang tengah menyebrang, hingga sebuah kejadian yang tak pernah diinginkan terjadi.
Cici terserempet oleh mobil box yang dibawa sopir ugal-ugalan tersebut. Tersadar menabrak seseorang, bukannya turun untuk menolong sang sopir justru langsung pergi begitu saja.
***
"Ini salah Ibu... "
"Udah Bu, ini bukan kesalahan Ibu. " ucap Echa menangkan sambil kembali memeluk Bu Sekar.
Sementara itu disekolah setelah kejadian semalam Renjun berniat untuk menemui Echa namun sedari tadi dia tak menemukan sama sekali keberadaan Echa. Hingga akhirnya dia melihat Yeji tengah bersama beberapa teman sekelasnya.
"Ji, gue mau ngomong sebentar. " ucap Renjun sambil menarik Yeji pergi, terlihat beberapa temannya yang saling berbicara dan tersenyum jail.
"Ada apa? " tanyanya santai
"Echa gak masuk? "
"Tadi pagi sih dia masuk, tapi pas pelajaran ketiga dia izin pulang katanya salah satu anak panti kecelakaan terus masuk rumah sakit. "
Renjun hendak pergi sepertinya hendak menyusul Echa namun dengan cepat Yeji menahannya.
"Gue saranin buat Lo gausah susulin Echa. "
"Kenapa enggak? "
"Itupun kalo Lo gamau sakit hati. "
Tanpa perduli kan perkataan Yeji, Renjun benar-benar pergi ke rumah sakit yang sebelumnya sempat Yeji katakan sebelum dia memutuskan untuk pergi. Mungkin ini sakit hati yang dimaksud oleh Yeji, melihat Chenle dan Echa. Chenle terlihat memeluk Echa dengan erat berusaha untuk menenangkannya.
Hatinya begitu sakit melihat gadis yang begitu Ia cintai bersama dengan laki-laki lain terlebih laki-laki tersebut adalah sahabatnya sendiri.
Renjun berbalik badan. Dia memilih untuk mundur, saat ini Echa membutuhkan seseorang yang berhati lembut dan hangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold! || Huang Renjun
Fan-Fiction[END] Seorang gadis yang menyangka bahwa seorang pria telah menyelamatkannya dari berbagai kemalangan yang sudah bagaikan makanan sehari-harinya. Namun dia salah, pria tersebut yang dikenal sebagai Jack Frost yang memiliki hati sedingin ES hanya mem...
