Selama kemoterapi Renjun memimpikan Echa yang menunggunya sambil kedinginan diluar, air matanya menetes.
Dokter keluar dan mengatakan bahwa operasinya berjalan dengan lancar. Opersi kemoterapi yang dijalani Renjun menghabiskan waktu satu jam setengah kini jam menujukkan pukul dua dini hari.
Kini tinggal Papanya Renjun yang menunggu, Chenle mengantarkan Arum untuk kembali ke rumah untuk beristirahat. Setengah jam sejak dipindahkannya Renjun keruang inap Renjun mulai sadar.
"Nak akhirnya kau sadar juga. " ujar Papanya
"Echa pah, Echa dimana?? " panik Renjun yang langsung menanyakan keberadaan Echa.
"Echa? "
"Iyaa pah, tadi Renjun bareng sama dia. Renjun harus susulin dia. " Renjun mencoba melepas infusnya dan beranjak hendak pergi.
"Jangan nak, jangan kamu baru aja habis operasi biar Papah aja yang cari dia. " ujar Helmi sambil mencegah Renjun.
"Nggak bisa pah, Renjun harus pergi. "
"Nggak, papah gak izinin kamu pergi. "
"Renjun mohon.. " ucap Renjun sambil menatap mata Papahnya membuatnya luluh dan mengizinkan Renjun pergi.
Saat itu hujan sudah reda. Renjun tengah menunggu taxi yang dipesan oleh Papahnya namun taxi tersebut tak kunjung tiba hingga akhirnya Renjun memutuskan kembali ke cafe dengan berjalan kaki, Renjun memencarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Echa hingga matanya menangkap tubuh seorang wanita yang dia yakini itu Echa.
Dengan mantap Renjun melangkahkan kakinya menghampiri Echa.
"Echa!!? "
"Renjun!!? " Echa begitu bahagia ketika melihat kedatangan Renjun hingga sontak membuatnya memeluk tubuh Renjun.
Renjun sadar bahwa wajah Echa pucat dan tubuhnya begitu dingin dan benar saja Echa jatuh pingsan dipelukannya.
"Echa.. Echa... "
Dari belakangnya muncul mobil Taxi, Renjun berniat untuk menghentikannya namun mobil tersebut sudah lebih dahulu menghampiri Renjun.
"Adennya, Renjun yaa?? " tanya sompir tersebut, entah ini takdir atau sebuah kebetulan sopir taxi tersebut rupanya sopir taxi yang sama tempo hari mengantarkannya dan Echa.
Tak ambil pusing Renjun segera menggendong Echa dan memasukkannya ke dalam mobil diikuti Renjun yang duduk disampin Echa.
Renjun menyandarkan kepala Echa di pundaknya, dia begitu khawatir hingga melupakan kondisinya yang sama-sama tengah kesakitan. Renjun tahu bahwa sopit taxi tersebut ingin sekali bertanya, namun sopir tersebut tampaknya paham dengan situasu saat ini jadi dia hanya diam sambil sesekali mengitip Renjun lewat kaca spion.
Begitu tiba, sopir taxi tersebut membantu Renjun memanggilkan pegawai medis untuk menangani Echa.
Renjun tampak oleng sambil memegang perutnya Renjun terjatuh namun beruntung sopir taxi tadi dengan segera menangkap tubuh Renjun.
"Den gapapa? "
"Gapapa pak, makasih.. " alibi Renjin, namun wajahnya tak bisa berbohong dia begitu kesakitan dan merasakan pusing di kepalanya.
Hari mulai terang, matahari mulai menyebarkan cahayanya keberbagai sudut bumi. Echa terbangun dan menyadari bahwa dirinya berada di rumah sakit.
"Renjun?? " gumamnya setelah dia mengingat bahwa semalam dia bertemu dengan Renjun.
Seseorang keluar dari balik pintu kamar mandi, dengan rambut yang masih basah Renjun menatap wajah Echa yang masih kebingungan dengan situasi saat ini.
Perlahan Renjun mendekati ranjang Echa mulutnya hendak bergerak untuk menanyakan kondisinya namun entah kenapa mulutnya terasa sangat sulit untuk digerakan, hingga akhirnya Renjun memilih untuk diam.
"Semalem lo kemana? " tanya Echa, Renjun bergeming dia tak bisa menjawab pertanyaannya.
"Gue.. "
"Udah pada bangun nih? " sapa Chenle yang baru saja membukakan pintu.
"Nih gue bawain makanan buat kalian, gue tau makanan rumah sakit gaenak jadi gue bawain kalian makanan. Oh iyaa ca, gue udah bilang sama Bu Sekar kalo lo disini dan gue bilang gak usah terlalu khawatir kan lo dijaga sama orang yang tepat. " jelas Chenle sambil melirik-lirik kecil ke arah Renjun.
Renjun merasa kepalanya sedikit pusing, dia tidak mau membuat kehebohan akhirnya Renjun memilih untuk menahannya.
Renjun memilih untuk keluar dari ruang inap Echa dan ketika diluar kakinya tak dapat menopang tubuhnya hingga dia terjatuh.
"Astaga nak Renjun!! " panik Bu Sekar yang melihat Renjun terjatuh pingsan.
"Bagaimana kondisinya dok? "
"Ini efek normal, biasanya jika sudah menjalani kemoterapi, pusing adalah salah satu efek samping dari operasinya. "
Bu Sekar nampak terkejut ketika dokter tersebut mengatakan kemoterapi dan operasi. Bu Sekar menatap iba tubuh Renjun yang mulai sadar.
"Nak Renjun.. "
"Bu, saya mohon jangan kasih tahu hal ini kesiapa-siapa terutama Echa. "
"Iyaa nak, Ibu akan jaga rahasia. "
Bu Sekar meraih tubuh Renjun dan membiarkannya menangis dipelukannya. Renjun sendiri sudah menganggap Bu Sekar seperti tantenya.
Bu Sekar kembali pada niat awalanya, yaitu menjenguk Echa yang dirawat di rumah sekit tersebut.
"Ibu kok lama, abis dari mana? " tanya Echa yang nampak sedikit kecewa.
"Ibu.. Ibu tadi kena macet. "
"Ibu istirahat aja dulu biar Echa, Chenle yang suapin. " ujar Chenle yang terus melanjutkan suapannya.
"Makasih ya nak.. "
Bu Sekar mengajak Chenle untuk berbicara empat mata diluar. "Kamu tahu soal penyakit Renjun? " tanya Bu Sekar hati-hati.
"Ibu tahu? "
"Tadi Ibu gak sengaja lihat dia jatuh pigsan disini. "
"Terus sekarang, sekarang Renjun dimana bu? "
"Kamu tenang aja, Renjun ada di ruang sebelah sudah ditangani degan baik oleh dokter. "
Chenle dan Bu Sekar kini beralih untuk mengbrol sambil duduk, untuk pembicaraan yang cukup serius.
"Apa benar Renjun mengidap kanker? " tanya Bu Sekar.
"Iyaa bu, Renjun mengidap kanker pencernaan sejak dia usia 6 tahun. Sekarang penyakitnya makin parah dan kemungkinan Renjun untuk sembuh total sangat tipis. " jawab Chenle yang tak sanggup membendung air matanya lagi.
Setelah perbincangan tadi Chenle dan Bu Sekar kembali masuk kedalam ruangan. Echa terkejut melihat mata Chenle yang sembab seperti orang yang habis menangis.
"Ibu.., ibu apain Chenle. Lo nangis le? " khawatir Echa.
"Enggak, gue justru khawatir sama lo. " alibi Chenle.
"Astaga lo lebay banget sih, gue kan udah gapapa nih.. liat.. nihh.. tuhh gue udah sehatkan.. " ucap Echa sambil menenggak tubuhnya dan membusungkan dadanya untuk membuktikan bahwa dia sudah segar.
Keesokan harinya, Echa memaksa untuk tetap masul sekolah karena sebentar lagi ulangan Echa tak mau ketinggalan pelajaran.
Saat hendak menuju kelasnya, sekilas Echa melihat Renjun dan kemudian dia berinisiatif untuk mengikuti Renjun.
"Renjun!! " panggil Echa membuat sang pemilik nama beralih untuk memandangnya. Echa memanfaatkan moment tersebut untuk melangkah lebih dekat.
"Selama 2 hari kmarin lo kemana, kok gak keliatan lagi? " tanya Echa sedikit malu-malu.
"Bukan urusan lo! "
Echa kini sudah tak terkejut lagi dengan respon Renjun yang seperti itu, bisa dibilang kini dia sudah terbiasa namun hatinya tak dapat dibohongi, sakit sekali ketika Renjun membentaknya atau berbicara dengan nada yang tinggi kepadanya.
"Gak bisa ya lo lembut sedikit kalo ngomong sama gue? " guman Echa setelah Renjun pergi. Echa menarik napasnya dalam-dalam.
Langkah Renjun terhenti begitu dia sadar bahwa Echa mulai pergi, dari wajahnya bisa saja dapat terlihat rasa bersalah yang teramat dalam.
Echa masuk kedalam kelas dan disambut meriah oleh Yeji dan yang lainnya. Mereka ramai menanyakan kabar Echa dan meminta maaf karena tidak sempat menjenguknya di rumah sakit.
"Sorry ya kita gak pada jenguk, rencananya kita masuk ke rumah sakit hari ini tapi lonya malah masuk sekolah. " ucap Yeji
"Yahh berarti timing nya kurang tepat dong, hahahaha.. " canda Echa membuat Yeji ikut tertawa.
"Oh iyaa selama 3 hari lo gak masuk, Renjun juga gak masuk loh. "
"Hah? Kok bisa? "
"Katanya sih dia sakit. "
"Apa jangan-jangan Renjun sakit karena gue yaa?? " gumam Echa
"Kenapa ca? " tanya Yeji
"Hah? Bukan apa-apa kok. " jawab Echa sambil tersenyum.
"Diamnya menjadi bom waktu yang menbunuhku dimasa depan. "
~TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold! || Huang Renjun
Fanfiction[END] Seorang gadis yang menyangka bahwa seorang pria telah menyelamatkannya dari berbagai kemalangan yang sudah bagaikan makanan sehari-harinya. Namun dia salah, pria tersebut yang dikenal sebagai Jack Frost yang memiliki hati sedingin ES hanya mem...
