Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

DUAPULUH TUJUH

147 14 0
                                        

Echa masih terdiam membeku bahkan hingga saat kini ketika di dalam eklas, Echa maish terdiam seperti mati membeku.

Tadi itu... Apa dapat dikatakan sebagai ciuman? Tapi nggak kalo ciuman itu seharusnya nempel. Tadi kan Chenle cuman nyium jempolnya.

"Echa!! "
"Aaaa!! Engga bukan..!! " Teriak Echa terkejut.
"Lo kenapa? " Tanya Yeji yang sama terkejutnya.
"Gue mau tanya deh.. "
"Tanya apaan? "
"Jadi gini.. adeuhh gimana ya gue jelasinnya.. "
"Yaa tinggal jelasin aja.. "
"Jadi gini... Adeuhh gue bingung nih jelasinnya. "
"Astaga Lo itu bikin gue penasaran tau gak sih? Kenapa sih? "
"Yaudah gue ceritain semuanya tapi janji Lo jangan teriak. "
"Iyaa iyaa nih kekunci.. " ucap Yeji sambil memperhatikan bahwa mulutnya benar-benar tertutup rapat.

Echa sedikit membenarkan posisi duduknya dan sejenak melihat sekeliling, dia mulai menceritakan tentang perlakuan Chenle padanya saat sebelum masuk kelas, serta menanyakan padanya apa itu yang namanya berciuman?

"ASTAGA!! " teriak Yeji yang kegirangan?
"Yeji!!! " Panggil Echa geram
"Tapi bener juga sih kalo ciuman kan harusnya nempel tapi ini enggak kan yaa.. humm " gumam Yeji bergaya pemikir keras.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul tengah hari, itu tandanya saatnya untuk makan siang.
"Ciee yang makin mesra aja.. " goda Yeji sambil menyenggol tumitnya.
"Apaan sih? "
"Tuhh tuh.. ada pangeran tanpa kuda nungguin. " Ujar Yeji sambil melirik kearah Chenle yang sedang menunggunya diluar kelas.

Tanpa pikir panjang Echa segera bangkit dan menghampiri Echa dengan langkah kecilnya, Chenle tersenyum melihat kedatangan Echa. Tanpa mengucapkan sepatah kata Chenle segera menarik tangan Echa dan membawanya pergi, Echa sedikit terkejut jujur saja dia masih terbayang atas kejadian tadi pagi.

"Ad-ada apa? " Ucap Echa gelagapan
"Kok gugup gitu sih? Kenapa emangnya Lo bikin salah yaa?? "
"Mm... eng-enggak kok enggak.. "
"Terus? "
"Gue cuman masih mikirin kejadian tadi pagi, itu... Ituu disebut ciuman.. gak sih? "

Astaga. Betapa polosnya gadis bernama Echa ini, dia begitu berani menanyakan hal tersebut pada pelakunya.

Chenle terkekeh pelan "Kayak gini Barus namanya kiss.. " ucap Chenle sambil mengecup sudut bibir Echa membuat Echa kembali bereaksi sama seperti tadi pagi.
"Chenlee..!! Inikan disekolah. " Kali ini Echa memberontak dan memukul pelan pundak Chenle.
"Lo manis kalo pipi Lo merona gini. "

Chenle mengelus pelan pipi Echa yang sudah memerah karena tingkahnya. Ingin sekali Echa mencubit hidung laki-laki di depannya, semua tingkahnya selalu manis dan romantis membuat Echa diperlukan seperti layaknya tuan putri dari negri dongeng.

Tanpa mereka sadari seseorang dari  tadi menyaksikan moment romantis antara keduanya. Renjun. Dia menyaksikan langsung wanita yang dia cintai bermesraan dengan sahabatnya dalam ikatan sebuah hubungan.

Renjun meremas buku yang digenggamnya dan memilih untuk pergi dengan tak ingin melukai perasaannya sendiri lebih dalam.

Renjun menyibukkan diri sendiri dengan melempar kerikil kecil kedalam danau untuk mengalihkan amarah dan rasa cemburunya.

"Kalo cemburu yaa bilang aja cemburu gak usah di tutup-tutupin kayak gitu. "
"Lo tau apa soal gue? "
"Renjun... Renjun... Lo itu emang gak pernah berubah tau gak. "

Aisha berdecak menyaksikan tingkah kekanak-kanakan temannya yang satu ini. Dia sendiri juga bingung jika dia menyukai gadis tersebut kenapa dia tidak berusaha untuk menyatakannya.

Ditempat lain Echa disajikan dengan pemandangan buku-buku yang berjajar rapi dihadapannya dimana lagi jika bukan di perpustakaan bersama Chenle.

Sejak tadi hingga sekarang tak sedetikpun Chenle melepaskan tautan tangan mereka.

Cold! || Huang RenjunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang