Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

DUAPULUH SATU

180 26 0
                                        

Echa dan Chenle kembali ke panti sekitar jam 4 karena saat perjalanan pulang tadi lalu lintas cukup ramai karena pegawai kantor sudah pulang satu persatu membuat jalanan lebih padat.

Saat sedang sibuk merapikan belanjaan tadi Echa iseng mengambil kangkung yang ada di kulkan dan memberikannya pada Chenle.

"Nihh buat lo, sayuran king kong... Hahaha. " goda Echa membuat kedua pipi Chenle kembali memerah.
"Tapi gue kan gak tau cara masaknya. "
"Hmmm... Yaudah sekarang lo jangan pulang dulu gue buatin lo tumis kangkung. "
"Gue bantuin yaa.. "
"Boleh asalkan gak ngancurin aja. " goda Echa kembali
"Iyaa iyaa.. "

Echa dan Chenle menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk membuat tumis kangkung, Echa sengaja menyisihkannya kedalam kotak makan untuk Chenle bawa pulang.

Setelah selesai Chenle pamit pulang kebetulan saat itu Bu Sekar sedang tidak ada di rumah, saat sebelum benar-benar meninggalkan panti Renjun menghubunginya.


"Lu dimana? " tanya Renjun disebrang sana.
"Gue.. Gue lagi di luar. "
"Nanti baliknya gue boleh minta tolong gak, buat ngambil resep obat gue. "
"Okee ntar gue ambilin buat lo. "

Tiba-tiba terdengar suara erangan Renjun yang kesakitan dari telpon, Chenle yang mendengarnya menjadi sangat panik.

"Renjun!!? Renjun lo gapapa? Renjun?? "
"Ya..aa gue gapapa. " ujarnya dengan susah payah, namun dia tak bisa tutupi rasa sakitnya.

Renjun terjatuh dan pingsan "Renjun!!? Renjun!! Ahh gak bener ini. " gelisah Chenle dan langsung menjalankan motornya dengan kecepatan penuh.

"Renjun...? " tanpa sadar sebenarnya sendari tadi Echa menguping pembicaraan lewat ponsel antara Chenle dan Renjun.


Sesampainya di rumah Renjun, Chenle menemukan Renjun yang tergeletak pingsan di teras rumahnya bergegas dia mencoba menggotong tubuh Renjun sembari memanggil orang rumah.

Karena kondisi Renjun yang tak memungkinkan akhirnya orang tua Renjun memanggil dokter ke rumah untuk memeriksa keadaan Renjun.

"Bagaimana dok? "
"Akan lebih baik jika Renjun melakukan pemeriksaan lebih mendalam. Kondisinya semakin memburuk, saya khawatir kemungkinan Renjun untuk sembuh semakin menipis. "

Tak sanggup mendengar hal tersebut Ibu Arum, Mamah Renjun menangis dipelukan suaminya. Chenle yang menyaksikannya juga ikut merasakan kesedihan karena Renjun adalah sahabatnya.

Chenle berjalan sedikit sempoyongan meninggalkan rumah Renjun dan ketika diluar tangisnya tak bisa lagi dibendung, dia terus teringat akan perkataan dokter tadi yang mengatakan bahwa "Kemungkinan Renjun sembuh semakin tipis. "


Keesokan harinya di sekolah, Chenle nampak sedikit risau mengenai kondisi Renjun hingga tak berapa lama kemudian Renjun datang Chenle sangat bersyukur dia pikir Renjun akan kembali absen.

"Lo udah sehatan? " tanya Chenle setelah Renjun duduk dibangkunya.
"Nyokap bilang semalem yang nemuin gue, lo. Thanks yaa.. " ucapnya
"Yaa... Lo seriusan udah sehatan? " tanya Chenle kembali.
"Iyaa gue ngerasa gue sehat. Puas? "

Jam pelajaran pertama dan kedua berakhir Renjun merapikan bukunya dan bersiap untuk pergi.

"Eh,  lo mau kemana? " cegah Chenle
"Gue ada jadwal ngajar di kelas Echa.. Maksudnya kelas 12-3. " jawab Renjun dan bergegas pergi.

Saat di dekat kelas Echa, Renjun tak sengaja melihat Echa yang sedang bermain dengan teman laki-lakinya. Laki-laki tersebut terlihat memainkan rambut Echa membuat Renjun tersulut api cemburu.

"Hkkmm... " dehem Renjun ketika masuk kelas dan membuat semua bergegas kembali ke meja mereka masing-masing termasuk Echa.

Renjun membenahkan buku yang dibawanya. "Ada yang bisa bantuin saya buat nulis di depan? " tanya Renjun karea tangannya masih di gips.
"Saya!! " ucap Echa sambil mengangkat tangannya, lalu tanpa berpikir panjang Echa bangkit dan meraih spidol yang ada di tangan Renjun.

Renjun dan Echa mulai menulis di papan tulis, kebetulan Renjun menulis dengan tangan kirinya jadi ketika dia menulis pada ujung papan tanganya dan tangan Echa saling bersetuhan. Echa dan Renjun saling melemparkan pandangan.

Setelah kelas Renjun berakhir Echa tak langsung keluar kelas begitu saja, dia berniat ingin membantu Renjun yang terlihat sedikit kerepotan membawa buku catatan teman kelasnya dan buku pelajaran ditangannya.

"Gue bantuin yaa.. " tak ada jawaban namun dari sikap Renjun, Echa mengerti bahwa Renjun mengizinkannya.

"Gue denger-dengar guru Matematika baru datengnya minggu depan. " basa-basi Echa ketika dijalan.
"Iya. " jawab singkat Renjun seperti biasa.
"Berarti mulai depan lo gak akan ngajar lagi? "
"Iya.. "

Echa sedikit kesal ketika mendengar Renjun hanya mengatakan iya disetiap pertanyaannya akhirnya Echa berpikir untuk mengerjainya.

"Hukuman lo juga berakhir? "
"Iya... "
"Sekarang Lo ngajar di kelas 12-1 kan? "
"Iya.. "
"Nanti istirahat gue susulin Lo ya. "
"Iya.. "
"Lo mau gak jadi pacar gue? "
"Iya.. Hah? " kaget Renjun
"GILA YAKK LO?? " lanjut Renjun kemudian bergegas pergi mendahului, Echa terlihat tersenyum menang karena telah berhasil menggoda Renjun.

"Siapa suruh cuek ke gue. " gumamnya yang tak lama mencoba mengejar langkah kaki Renjun.

Echa terus mengekori Renjun sejak tadi dan kini mereka tengah berjalan menuju kantin, namun siapa sangka dijalan mereka berjumpa dengan Yeji dan Chenle yang kebetulan saat itu sedang latihan untuk lomba. Chenle dengan lomba basketnya dan Yeji dengan team cheers nya sebagai pemandu sorak.

"Yeji!!! " teriak Echa kegirangan karena sejak masuk sekolah dia belum bertemu dengan Yeji karena dia harus berlatih dilapangan bersama teman-teman cheers nya.

"Ettt.. Ett.. Jangan peluk gue, gue bau keringet nih!! " ujar Yeji yang mencoba menjauhkan tubuhnya dan bersembunyi dibalik tubuh Chenle membuat Echa justru menjadi memeluk tubuh Chenle.

Echa sontak menatap wajah Chenle yang tersenyum manis kepadanya, penampilan Chenle hari ini sukses membuat Echa terpana. Mengenakan kaos basketnya, Chenle memadukannya dengan bandana dikepalanya serta keringat yang sedikit bercucuran membuat Chenle tampak sangat menganggumkan dimata para wanita manapun.

Echa terkejut begitu Chenle meniup pelan wajahnya membuatnya tersadar dari lamunannya. "Kenapa? Masih betah meluk gue nya? " tanya Chenle sontak membuat Echa melepaskan pelukannya dan kembali ke sisi Renjun yang nampak mulai tidak nyaman dengan situasi sekarang ini.

"Kalian mau ke kantin juga? Gimana kalo kita bareng aja. " usul Yeji yang kemudian disetujui oleh mereka.

Hari ini sekolah mereka tengah membuat peraturan baru mengenai makanan yang akan dikonsumsi oleh semua siswa yakni dengan memberikan makanan sama rata dan terjadwal. Saat sedang sibuk menyantap makan siang mereka Echa melihat bahwa Renjun menyisihkan sosis yang tersedia dalam makanan tersebut dan memberikannya pada Chenle.

Kali ini Echa tak mau ambil pusing dia takut jika bertanya kembali dan akan terjadi seperti kasus daging tempo hari, akhirnya Echa menyelesaikan makanannya dengan rasa penasaran di dalam dirinya.

Setelah selesai makan Echa menemani Renjun untuk melepaskan gips ditangannya karena ini sudah jadwalnya.

"Tangannya masih belum 100% pulih, kalo bisa nak Renjun jangan bawa barang-barang yang terlalu berat dulu ya, takutnya malah menjadi buruk lagi. "ucap guru yang bertugad di ruang UKS.

Diluar ruangan Echa menahan tubuh Renjun "Pokoknya kalo lo butuh bantuan gue bakalan siap 24 jak buat lo. " ucap Echa dengan manis membuat Renjun sedikit luluh, ingin sekali Renjun membelai rambut Echa namun dia tak bisa akhirnya Renjun hanya pergi meninggalkan Echa tanpa sepatah katapun.

















































"Inginku hanya mencintainya dengan leluasa namun sulit untuk mencobanya. "



















~TBC

Cold! || Huang RenjunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang