Ketika sedang berjalan santai matanya menangkap sosok Echa yang sedang merunduk karena penasaran Chenle mendekatinya.
"Ca..!? "
Chenle terkejut begitu melihat wajah Echa yang sudah dibasahi air matanya sendiri.
"Loh, kok lo nangis? " tanpa menjawab pertanyaannya Echa dengan cepat memeluk tubuh Chenle dan menangis dipelukannya.
Dengan sedikit ragu Chenle mengelus kepala Echa berusaha untuk menenangkannya.
"Coba cerita sama gue, lo kenapa jangan kayak gini. Gue ikut sedih kalo liat lo kayak gini. " seperti mengandung sihir perkataan Chenle tersebut memberi sedikit ketenangan pada diri Echa.
Chenle menutun Echa untuk duduk dan mulai menceritakan kejadian yang menimpanya hingga dia berakhir menangis seperti ini.
"Lagian lo ngapain ngikutin Renjun mulu. "
"Gue kan udah bilang, kalo gue ngerasa aman kalo gue ada di deket dia. "
"Tapi hadirnya lo di sekitar dia bikin dia jengkel. Lo tau kan Renjun kayak gimana orangnya. "
"Tapi gue- "
"Udah, berhenti yaa.. " potong Chenle sambil menghapus sisa air mata di pipi Echa. Echa menatap Chenle, mereka berdua saling menatap.
Saat hendak kembali ke kelasnya Echa berpapasan dengan Lia dan kawan-kawannya. Kaki Echa gemetar dia benar-benar ketakutan "Seandainya ada Renjun" kata-kata itulah yang kini terus menghantui isi pikiran Echa.
Saat Echa hendak lari, seragamnya ditarik oleh Lia. "Ett.. Ettt.. Mau kemana lo, kok langsung pergi gitu aja? "
Tubuh Echa didorong hingga menabrak tembok dibelakangnya. "Ikut gue!! "
"Nggak!! "
"Ikut gue gak!? "
"Nggak mau? Emangnya lo siapa hah, nyuruh-nyuruh gue? "
"Oh. Jadi lo mulai berani hah? Lo berani lawan gue? "
Lia menarik paksa tubuh Echa dan membawanya hingga ketengah lapangan, semua orang ribut-ribut dan mulai berkumpul di sekitar lapangan.
"Gaes lihat nih ada anak freak yang ngelawan sama Lia, kalo kalian ada yang berani macem-macem kalian akan bernasib sama kayak cewek freak satu ini." teriak Yeji berusaha memberi tahu semua orang.
Echa sudah menahan malunya setangah mati bayangkan saja semua mata satu sekolah ini sedang menatapnya. Guru? Ada sekitar 2-3 guru yang lewat di lapangan tersebut namun mereka sangat cuek, alasannya? Karena Ayah Lia adalah donatur terbesar disekolahnya tanpa kekayaan Ayahnya sekolah ini mungkin sudah bangkrut dari empat tahun yang lalu.
Yeji dan Lisa tampak sibuk mengeluarkan sesuatu dari dalam sebuah kantung plastik, apalagi kalau bukan terigu dan telur.
"Kali ini gak akan cuman terigu sama telur aja tapi gue bakalan persembahkan sesuatu yang lebih special. Bawa sini!! "
Seorang siswa laki-laki nampak membawa sebuah ember yang terlihat cukup berat dan mengeluarkan bau busuk.
"Ini air yang diambil dari got dibelakang sekolah dan gue mau persembahkan ini buat cewek freak kayak dia. " ujar Lia dengan sedikit menekankan di kata 'freak'
Lisa yang dibantu dua temannya yang lain membuat Echa duduk bersikut di hadapan Lia.
"Langkah pertama kita pecahkan telurnya." mereka yang berdiri di belakang Echa melemparkan telur yang ada ditangan mereka masing-masing.
Dari lantai ketiga Chenle melihat Echa yang sedang dirundung oleh Lia dan teman-temannya.
"Echa..?? " Chenle bergegas berlari untuk menolong Echa.
"Langkah kedua taburkan terigunya banyak-banyak. " Lisa, Yeji dan Yeji menaburkan terigu di tangan mereka ketubuh Echa. "Langkah ketiga tungakan minyak!! "
Lisa, Yeji dan Yeri membangunkan tubuh Echa. Mereka yang disekitar Echa mundur beberapa langkah.
"Dan yang terakhir... Kita taburkan airnya... "
Echa menutup matanya bersiap untuk terkena semburan air got tersebut namun anehnya dia tak merasakan apapun dia hanya sedikit merasakan cipratannya dan ketika dia membuka matanya dihadapannya sudah berdiri Renjun yang membentangkan tangannya untuk menutupi tubuh Echa.
Dari jauh Chenle melihat hal tersebut dia merasa telah gagal menyelamatkan Echa.
"Re.. Renjun. " ucap Lia terbata-bata.
"Lo gapapa? " tanya Renjun kepada Echa.
Ini aneh dari matanya tersirat jelas bahwa dia sangat mengkhawatirkan Echa, matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergemetar.
"Eng-enggak gue gapapa. "
"Syukurlah... " ucap Renjun sambil menarik Echa kedalam pelukannya.
Dari belakang terlihat sangat jelas wajah kesal Lia. Lia yang mulai emosi kini menghampiri Renjun dan Echa berusaha untuk memisahkan mereka.
"Apa-apaan sih!! " dengan cepat Renjun menepis tangan Lia hingga Lia terjatuh ketanah.
Wajah Renjun benar-benar sangat menakutkan ketika dia marah saat ini dia seperti orang yang kehilangan kesadaran.
"Renjun... " panggil Echa dengan lembut yang sukses langsung mengubah sorotan matanya yang awalnya terlihat kejam menjadi biasa saja. Tanpa berkata Renjun membawa Echa pergi tentunya dengan lembut.
Echa disuruh duduk dikursi dan menghadap belakang karena Renjun sedang mengganti pakaiannya.
"Udah?? " taada jawaban
"Udah belum?? " tanya Echa sekali lagi dan tetap taada jawaban namun secara tiba-tiba sebuah jaket melingkar dipundaknya.
"Gue anter lo balik sekarang. " ujar Renjun.
Entahlah Renjun sangat membingungkan sifatnya yang selalu berubah-rubah membuat Echa kebingungan, sekarang saja Echa tak dapat membaca isi pikiran Renjun. Saat hendak pergi dari luar rungan datang Chenle yang terlihat tergesa-gesa.
"Echa.. Echa lo gapapa? " saat hendak memeluk Echa, Renjun menahannya dan menatap wajah Chenle mengisyaratkan untuk tidak lakukan hal tersebut.
"Gue gapapa lok Le, sorry yaaa gue bikin kalian cemas kayak gini. "
"Gue sebagai sodaranya Lia gue minta maaf sebesar-besar, gue gak nyangka kalo dia bakalan senekat ini. "
"Ini bukan salah lo, jadi gausah ngerasa bersalah ya.. " ucapnya meyakinkan Chenle.
"Gue mau anter dia balik, lo tolong ijinin gue sama dia hari ini. "
Chenle setengah kaget mendengar perkataan Renjun namun akhirnya dia mengiyakan hal tersebut.
"Gue aja yang anter dia. " ujar Chenle dan Renjun beralih menatap Echa untuk meminta Echa jawaban.
"Gu-gue sama Renjun aja le, gapapa. " jawab Echa.
Diluar Renjun dan Echa seperti menunggu seseorang datang tapi Echa tak tahu siapa dan apa yang mereka tunggu.
"Kita nunggu apa Ren? " taada jawaban, yaa itulah Renjun.
Hingga tak lama kemudian seorang ojol datang memberikan Renjun tas belanja, tak lupa Renjun juga memberikan uang kepada bapak tersebut. Tanpa berkata Renjun langsung menyodorkan tas tersebut ke Echa.
"Apa ini? " Echa mengambil tas tersebut dan mengeceknya "Baju? "
"Pake aja. " ucapnya.
Setelah nunggu beberapa menit akhirnya Echa keluar dengan pakaian baru yang dibeli Renjun stelan yang dipakai Echa adalah white blouse dengan celana jeans. Sangat cocok ditubuh Echa, ukurannya pun pas. Aneh.
"Renjun adalah laki-laki penuh dengan misteri yang ku kenal. sikapnya yang selalu berubah-ubah membuatku kewalahan. Tapi satu hal yang tak berubah, yaitu rasa sukaku kepadanya."
~TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold! || Huang Renjun
Fanfiction[END] Seorang gadis yang menyangka bahwa seorang pria telah menyelamatkannya dari berbagai kemalangan yang sudah bagaikan makanan sehari-harinya. Namun dia salah, pria tersebut yang dikenal sebagai Jack Frost yang memiliki hati sedingin ES hanya mem...
