Saat hendak membayar makanan yang telah dimakan kulit tangan Echa dan Renjun tak sengaja bersentuhan hingga membuat keduanya sama-sama terkejut dan saling melemparkan pandangannya.
"Ini bi, sekalian. " ujar Renjun yang langsung mengalihkan pandangannya.
Terlihat jelas raut kekecewaannya dalam wajah Echa moment tadi begitu singkat untum dijadikan semuah kenangan.
"Jadi berapa bi? "
"Oh udah di bayar neng, tadi sama cowok yang disebelahnya. " Echa benar-benar terkejut mendengar perkataan Bibi penjual tersebut.
Echa menatap kepergian Renjun dari belakang tanpa sadari bibirnya tertarik sendiri menciptakan lengkungan senyuman.
Kini Echa dan Chenle janjian untuk bertemu di rooftop sekolah, Echa ingin menyampaikan bahwa perkataannya waktu itu semata-mata karena ingin membebaskan diri dari Lia.
"Gue tau kok apa yang mau lo omongin, gue gak anggep kalo kita udah jadian. Tapi gue masih tetep nunggu jawaban lo." ujar Chenle yang mencoba meraih tangan Echa namun ditepisnya seketika.
"Jangan... "
"Kenapa? " Chenle meraih tangan Echa namun kali ini taada penolakan dari Echa "Ini udah jadi keputusan gue, sebab atau akibatnya nanti bakalan gue tanggung sendiri juga. Kalo udah tau jawabannya jangan gantungin gue ya.. "
Entah sihir apa yang digunakan Chenle setiap tutur katanya selalu membuat Echa merasa terbuai dan iba mendengarnya.
Kini satu sekolah sudah tahu bahwa Echa dan Chenle belum resmi pacaran melainkan sedang PDKT tak perlu bertanya bagaimana caranya mereka mengetahui itu, dari mulut ke mulut begitulah kehidupan.
Kebetulan hari ini Echa pelajaran olahraga dan dia tak sengaja melewati salah satu kelas dimana kelas tersebut sedang jam Matematika, bagaimana Echa bisa mengetahui hal tersebut karena Renjun yang mengajar kelas tersebut.
Echa terlihat kesal ketika beberapa siswi genit yang dengan sengaja menggoda Renjun dengan berpura-pura tidak mengerti dengan materi yang dibawakan Renjun hingga berakhir dengan mereka yang berdempetan dengan tubuh Renjun atau hanya sekedar memotretnya diam-diam. Meskipun Renjun terlihat tidak nyaman dan mulai kesal namun dia berusaha untuk memendam rasa kesalnya tersebut dan berusaha untuk bersikap profesional dan tersenyum.
Tapi itulah bahayanya, senyumannya yang justru membuat wanita-wanita genit itu semakin gatal. Menyebalkan. Detik berikutnya Renjun menangkap basah Echa yang tengah memperhatikannya dengan cepat Echa segera melarikan diri.
"Echa!! " teriak Renjun dari pintu kelas tadi, Echa yang sudah kepalang malu akhirnya hanya memilih untuk pergi. Renjun tersenyum melihat tingkah lucu Echa.
Echa dan anak-anak kelasnya sedang mempraktekan permainan bola voly tim wanita bermain terpisah dan membaginya kedalam dua tim kembali laku memulai permainannya.
Semua nampak bersenang-senang ketika bermain voly meskipun banyak salah tapi mereka menikmati permainan tersebut.
"Renjun!! Renjun!! " panggil seorang wanita yang mencoba mengejar Renjun.
Echa yang mendengar suara tersebut akhirnya mencari asal suara dan menemukan seorang siswi yang berlarian menghampiri Renjun dan terlihat mengobrol dengannya.
"Echa awasss!! " teriak semua siswi, tidak sempat menghindar akhirnya kepalanya terkena hantaman bola tersebut hingga jatuh pingsan.
Setelah setengah jam tak sadarkan diri, perlahan Echa mulai siuman dia kebingungan dan masih merasakan sakit dikepalanya.
"Astaga tuhan makasih gue kira lo gabakalan sadar, gue khawatir tau gak sih. " panik Yeji dan Echa hanya tersenyum meringis.
"Kok gue bisa ada disini? Anak-anak yang bawa gue? "
"Sebenarnya... "
Yeji menceritakan bahwa tadinya Echa memang hendak digendong oleh Vino salah satu teman kelasnya namun tiba-tiba Renjun datang dan dorong Vino gitu aja terus bawa Echa ke UKS.
Echa tersenyum mendengar cerita Yeji. "Lo suka yaa sama Renjun? " tanya Yeji menggoda.
"H-hah? "
Saat jam sekolah berakhir entah kenapa tubuhnya membawanya menuju kelas Chenle yang juga merupakan kelad Renjun tapi belum sepenuhnya Echa tiba di depan kelasnya dia sudah melihat Renjun bersama wanita yang tadi siang dia lihat ketika pelajaran olahraga.
Langkahnya terhenti, hatinya terluka ketika melihat Renjun tersenyum dengan manis kepada wanita itu. Echa kembali dengan raut wajah yang kusut bahkan dia tak sadar bahwa Cici dan Rio menyambutnya, dia langsung pergi begitu saja kedalam kamarnya.
"AaaAaakkk... Kenapa sih?? Kenapa cinta itu rumit banget. " teriaknya kesal.
Sementara itu Renjun kembali ke rumah seperti biasa dan di jam yang sama dia keheranan melihat kedua orangtuanya yang sudah berduduk santai menunggunya di ruang tengah.
"Loh mamah, papah kok disini? "
"Kamu ikut kita kembali ke Amerika yaa minggu depan. " ujar Mama Renjun
"Tapi Mah, Renjun kan masih sekolah. "
"Kita kan bisa buat surah pindah untuk kamu dan kamu lanjut sekolah di Amerika sana. " kali ini Papahnya yang bersuara.
Renjun tak bisa berkata-kata lagi, dia hanya terdiam Mamahnya mengerti apa yang dipikirkan Renjun saat ini. Beliau mendekati Renjun dan mengajaknya duduk disampingnya.
"Kamu tau gak setiap hari itu Mamah selalu khawatir sama kondisi kamu, Mamah cuman pengen kita selalu bersama. " Renjun menatap Mamahnya dengan sangat dalam.
"Renjun gak bisa Mah, Renjun... "
"Kejar dia... " ujar Papanya meyakinkan Renjun. Mamah Renjun menangis dipelukan anaknya.
Renjun kini tengah menatap langitnya malam lewat jendela kamarnya yang dibiarkan terbuka hingga Bi Narti datang dan menutup jendelanya.
"Astaga den, angin malam gak baik buat aden. " panik Bi Narti dan Renjun hanya menunduk paham.
Bi Narti beralih untuk duduk disamping Renjun "Nyonya sama tuan udah cerita sama Bibi, katanya aden gak akan ikut ke Amerika. "
"Aku minta tolong sama Bibi yaa.. " ucap Renjun sendu.
"Tanpa aden bilang pun, Bibi pasti bakalan jagain aden. Sekarang aden tidur dulu yaa... "
"Iya bi, makasih udah selalu jagain Renjun. " dan Bi Narti hanya tersenyum, beliu sempatkan untuk mematikan lampu kamat Renjun agar dia lebih nyaman untuk tidur.
Jam menunjukkan pukul 12 malam, Renjun terbangun dan merasakan sakit yang teramat perih dilerutnya. Renjun mengerang sekeras mungkin membuat seisi rumah terbangun.
"AaakkkAaakkk... " jeritnya, Mamah Bi Narti dan Papahnya masuk dengan tergesa-gesa.
"Renjun... Renjun... Ini Mamah nak, kamu tahan yaa kamu tahan... Pa!! Cepet kamu siapin mobilnya. "
Papah Renjun bergegas keluar kamar untuk memanaskan mobil, lalu kembali ke kamar Renjun dan menggendongnya masuk kedalam mobil. Semua orang ikut ke mobil.
"Bi tutup pintunya. " ujar Mamah Renjun dan mereka bertiga termasuk Renjun masuk kedalam mobil.
Didalam mobil Renjun terus mengerang kesakitan diatas pangkuan Bi Narti.
"Den yang kuat den, tahan sebentar lagi den..."
Setibanya di rumah sakit Renjun langsung mendapatkan tindakan utama dan dibawa ke ruangan UGD untuk mendapatkan penanganan yang lebih cepat.
Semua orang menjadi panik, Mamahnya Renjun menangis dipelukan Papahnya sedang Bi Narti beradu cemas dengan situasi saat itu.
"Cinta yang ku ketahui hanya sebuah tentang pelepasan yang tak pernah diinginkan. "
~TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold! || Huang Renjun
Fanfiction[END] Seorang gadis yang menyangka bahwa seorang pria telah menyelamatkannya dari berbagai kemalangan yang sudah bagaikan makanan sehari-harinya. Namun dia salah, pria tersebut yang dikenal sebagai Jack Frost yang memiliki hati sedingin ES hanya mem...
