Saat sedang menunggu, tiba-tiba Renjun merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. Dia tahu hari ini akan tiba, sebab dia tahu bahwa penyakitnya itu semakin menggerogoti tubuhnya.
Lututnya melemah, tak sanggup menopang tubuhnya hingga berakhir ambruk ke tanah. Tak ingin menyusahkan, Renjun segera memanggil taxi dan pergi.
***
Setelah puas melihat kembang api, Chenle mengecek ponselnya untuk melihat jam. Namun niat Chenle teralihkan setelah melihat notifikasi dari Renjun.
────────────────────────
Renjun
Chenle...
Gue minta maaf, apa lo bisa batalin penerbangan lo hari ini dan anterin Echa balik? setelah itu lo Dateng ke rs nanti gue jelasin semuanya
────────────────────────
Wajahnya seketika berubah setelah membaca chat tersebut, raut wajah panik terlihat jelas diwajahnya. Tanpa berpikir panjang, Chenle menarik tangan Echa "Kita pulang sekarang, ya? udah malem biar gue yang anter."
Sebenarnya Echa terkejut, salah satunya karena Chenle tiba-tiba mendadak meraih tangannya. Tapi dia jauh terkejut setengah melihat ekspresi Chenle, raut wajah panik terlihat jelas di wajahnya. Bahkan Echa dapat merasakan panik yang menyelimuti Chenle saat itu. Tapi Echa tak mau bertanya banyak dan hanya menuruti perkataan Chenle yang meminta untuk pulang.
Setelah mengantar Echa pulang dengan selamat, Chenle bergegas pergi ke rumah sakit tempat biasa Renjun di rawat. Saat hendak menuju kamar inap, Ia berpapasan dengan dokter spesialis yang mengurus Renjun. Saat itu Chenle satu-satunya orang terdekat dengan Renjun, karena kedua orang tuanya sedang menjalankan bisnis. Sedangkan Bi Narti pulang kampung.
Akhirnya Chenle mewakilkan keluarganya untuk mendengarkan diagnosis dokternya.
"Saya minta maaf... saya tidak yakin Renjun dapat bertahan lama, bahkan kini terdapat komplikasi darah. "
Ctass..!! Bagaikan tersambar petir, Chenle keluar dari ruangan dokter tersebut dengan lemas. Kakinya seakan tak sanggup membopong tubuhnya, air matanya keluar dengan deras. Dia tak tahu harus berkata apa selain menangis, dia tak mau kehilangan satu-satunya sahabat yang dia miliki di dunia ini.
Renjun menyambut kedatangan Chenle dengan senyuman tipis, dia tahu betul apa arti ekspresi wajah temannya itu.
Renjun mencoba berbicara "Gue udah tau, jadi gausah lo pura-pura gak sedih. " mendengarkan perkataan tersebut membuat air mata yang tadinya tertahan lolos begitu saja, Chenle menunduk menangis disamping Renjun.
"Thanks, lo udah terima permintaan gue. "ujar Renjun, sambil menepuk pelan pundak kiri Chenle.
Tak lama setelah itu kedua orang tua Renjun dan Paman Doyoung datang. Bu Arum hampir pingsan setelah melihat anaknya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Kulitnya yang putih, membuat wajahnya semakin terlihat pucat.
Renjun setengah sadar, melihat kedatangan keluarganya. Dia tersenyum lemah "Aku senang semua orang ada di sini, dengan begitu aku bisa pergi dengan damai."
Mendengar perkataan yang menyayat hati tersebut, membuat mamahnya semakin tak mampu membendung tangisnya.
Jam menunjukkan pukul 12.10 semua sudah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, Renjun terdiam menatap keluar jendela. Satu tahun, tepat satu tahun yang lalu dia jatuh hati pada gadis polos dan ceria yang selalu mengekori nya.
Teringat dengan Echa, Renjun meraih ponselnya dia mengirimkan sebuah pesan text kepadanya.
────────────────────────
Renjun
Malem ca, kalo lo punya waktu gue mau ngajak lo jalan. sebut aja ini kencan, rasanya gak gentle kalo gue gak bilang langsung soal perasaan gue. jadi untuk saat ini gue tahan dulu rasa ini, biar besok gue ketemu dan gue ungkapin semua rasa gue ke lo
Echa
Oke, besok kita ketemu di taman *** jam 4 sore
────────────────────────
Senang? Tentu. Entah apakah boleh Echa merasakan hal ini, tapi dia begitu senang setelah membaca pesan dari Renjun membuat kantuk yang tadinya ada jadi hilang.
Tak lupa, Echa membagikan berita menyenangkan itu kepada ibu panti. Beliau juga ikut senang melihat anak asuhnya itu dimabukkan asmara.
Waktu terus berjalan, Renjun sedang bersiap dibantu oleh ibunya dan Chenle yang siaga di sampingnya. Renjun telah meminta restu kedua orang tuanya untuk menemui Echa hari ini, meskipun membutuhkan bujukan ekstrak, Renjun berhasil mendapatkan izin.
Sementara itu Echa telah sampai di tempat yang dijanjikannya dengan Renjun. Echa tanpil cantik mengenakan dress motif bunga-bunga dengan warna coklat muda membuat kulitnya tampak bersinar.
5 menit.. 10 menit.. 30 menit.. berjam-jam berlalu. Renjun tak kunjung muncul dihadapannya ‘apa renjun berbohong? apa renjun mau mengerjainya?’ mata Echa berkaca-kaca tak sanggup membayangkan apabila hal-hal yang ada di dalam pikirannya benar terjadi.
Disaat pikiran dan hatinya bergelut, ponselnya berbunyi. Chenle, ada apa dia menelpon.
"Halo ca. "
"Iya le ada apa? "
"Renjun ca.."
"Renjun? oiya lo coba hubungi renjun deh, kayaknya dia lupa kalo ada janji sama gue hari ini, gue udah nungguin dia dari jam— "
"Renjun meninggal ca.. "
"H-hah? "
"Renjun meninggal. "
"Lo jangan bercanda, ini loh gue lagi nunggin dia. Dia mau ajak gue jalan hari ini. " ujarnya dengan air mata yang kian berlinang.
Tangannya bergemetar, Echa menjatuhkan ponselnya begitu saja seiring dengan ambruknya tubuhnya ke lantai. Dia menangis, menangis sejadi-jadinya hingga tersedu-sedu.
Saat mendapatkan kabar bahwa Renjun sudah meninggal, tubuhnya mendadak lemas tangannya gemetar air matapun lolos begitu saja. Dunia seakan berakhir bagi Echa, pikirannya kosong semua hancur dalam sekejap.
Setelah menerima telepon tersebut, Chenle juga mengirimkan sebuah pesan video yang memperlihatkan Renjun dengan wajah yang sangat pucat.
"Gue bahagia bisa kenal cewek ceria kayak lo, selama ini hidup gue hanya hitam-putih sampe lo hadir didalamnya makasih sudah menwarnai hidup gue. Gue cinta sama lo, gue bener-bener cinta sama lo maafin gue. Seharusnya gue bilang ini langsung ke lo hari ini pas kita ketemu nanti, tapi kayaknya takdir lain ca. Jangan marah atau sedih yaa.. " disela-sela bicaranya renjun terbaruk cukup keras bahkan hingga mengeluarkan darah di mulutnya. "ini udah jalannya begini, selama ini gue gak pernah ngucapin rasa suka karena gue sendiri gak pernah tahu bahwa rasa nyaman ketika di dekat lo, rasa membutuhkan lo adalah sebuah cinta. Gue cinta sama lo Echa. " lanjutnya dan video itu berakhir dengan Renjun yang tersenyum tipis dan mengisyaratkan untuk menyudahi rekaman tersebut.
Echa datang dengan perasaan kalut dan panik, sampai dia berada di hadapan Chenle. Echa terlihat berusaha untuk masuk kedalam ruangan Chenle. Namun usahanya dihalangi oleh Chenle, karena di dalam sedang ada dokter dan kedua orang tua Renjun.
"Enggak!!! Enggak!!! Dia harus ngomong langsung didepan muka gue le.. Renjun!! Renjun!! Renjunnn... " Echa berontak dengan berurai air mata, Chenle berusaha memagang tubuh Echa.
"Echa sdar, Echa sadar caa, Echa SADAR!! Renjun udah mati!! " seketika mendengar kata "Mati" tubuhnya melemas dan terjatuh kelantai, Echa kembali menangis dipelukan Chenle.
"Renjun.. renjun lee, renjun.. " dia tak sanggup lagi berkata-kata selain hanya memanggil namanya.
Angin yang biasanya dapat membawa ketenangan, kini hanya menyampaikan sebuah rintihan kepedihan hati.
Echa tak kuasanya menyaksikan laki-laki yang begitu Ia cintai dikebumikan, tak ada yang lebih menyakitinya selain melihat hal tersebut. Kini tak ada lagi lelaki yang selalu menjawab singkat pertanyaan panjangnya dan menenangkannya kala takut menguasai dirinya.
”Terimakasih untuk kesempatan mengenal mu, itu adalah anugerah terbesar dalam hidup, cinta memang tidak perlu ditemukan cinta lah yang menemukan kita. Aku tidak akan menangis karena kamu telah pergi tapi aku akan tersenyum karna semua itu pernah terjadi, untuk kamu terimakasih sudah pernah jadi tokoh utama di dalam hidup ku, kisah yang hampir menjadi ending bahagia. Kita memang berada di prolog & epilog yang sama. Kehadiran mu sekilas namun membekas amat lama di hidup ku. kutitipkan rasa ini di lembaran terakhir agar aku tidak membawanya lagi di perjalanan ku selanjutnya, ya memang aku tidak percaya dengan kehidupan selanjutnya, tapi jika memang ada aku ingin bersamamu di kehidupan selanjutnya, sekarang.”
---TAMAT---
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold! || Huang Renjun
Fiksi Penggemar[END] Seorang gadis yang menyangka bahwa seorang pria telah menyelamatkannya dari berbagai kemalangan yang sudah bagaikan makanan sehari-harinya. Namun dia salah, pria tersebut yang dikenal sebagai Jack Frost yang memiliki hati sedingin ES hanya mem...
