thirteenth note

941 183 12
                                        

Bintang terlihat diantara kerumunan siswa yang berjalan menuju gerbang sekolah. Membawa sepasang kakinya melangkah dengan lesu, baru hari pertama UAS tapi beban soal yang diberikan cukup membuat perempuan itu merasa pening. Ujian Akhir Semester serasa ujian hidup. Walaupun belajar seribu tahun kalau soalnya berbeda untuk apa.

"Ini muka Adeknya Kakak yang paling cantik kenapa ditekuk begitu hm?" Dani memperhatikan raut wajah Bintang, dengan hati-hati dia memasangkan helm di kepala adiknya itu.

Sementara Bintang hanya menggeleng pelan. Dia membenarkan helm di kepalanya lalu langsung mendudukkan diri di bagian belakang motor kakaknya. Dani pun menghidupkan mesin motornya dan memacunya ke jalan raya. Mungkin adiknya hanya merasa kelelahan dengan ujian hari ini, pikirnya.

"Kak mampir ke cafe deket lampu merah dulu ya. Pengen beli cake," Ucap Bintang tiba-tiba setelah diam cukup lama.

"Siap tuan putri."

Tidak jauh setelah melewati lampu merah, Dani menepikan motornya berhenti di cafe yang dimaksud adiknya. Mereka turun dari motor lalu masuk ke dalam cafe tersebut. Aroma perpaduan kopi dan cake menjadi yang pertama menyambut kedatangan mereka. Meja dekat jendela yang menghadap jalan raya selalu menjadi tempat favorit Bintang. Kebetulan ada satu meja yang kosong di sana.

"Gimana ujiannya hari ini? Soalnya susah ya, Dek?"

Perempuan itu menghela napas panjang, "Soalnya mah gampang. Jawabannya yang susah, Kak."

Dani terkekeh, "Udah ga usah dipikirin. Nih makan yang manis manis katanya bisa balikin mood." Sang Kakak mendekatkan piring berisi Red Velvet cake kesukaan adiknya yang baru saja disajikan ke meja mereka.

"Kamu lagi pengen sesuatu ga, Dek?" Tanya Dani lagi, dia memperhatikan adiknya yang tengah menikmati cake di depannya.

"Pengen nikah," Jawab Bintang singkat.

Dani refleks menarik hidung adiknya dengan gemas, "Heh jangan ngadi ngadi ya bocah bau kencur!"

"Aduh Kak sakit tau ih! Lepasin!" Sang Adik berusaha melepaskan tarikan tangan kakaknya dari hidungnya.

"Jawab yang serius atuh neng geulis. Kakak nanya serius ini," Dani pun menjauhkan tangannya dari hidung Bintang, dia meminum Iced Americano di hadapannya sembari menunggu jawaban sang Adik.

"Serius capek mikir pelajaran sekolah sampe bikin pengen nikah aja aku, Kak," Bintang menopang dagunya, menyendok potongan cake lalu mengunyahnya malas.

"Yeuh tapi nikah juga bukan solusi buat itu. Dikira nikah itu isinya enak terus apa? Jangan pesimis atuh," Ujar pemuda yang lebih tua, dia menyomot sepotong cake dari piring adiknya.

Bintang balik menatap kakaknya, "Lagian kenapa tiba-tiba Kakak nanya gitu? Emang mau ngasih apa yang aku mau kalo aku sebutin?"

"Engga sih. Pengen tau aja," Kekehnya jahil, Dani menaik-turunkan kedua alisnya main-main.

Merasa kesal, Bintang membuat ekspresi datar. Dia memalingkan wajahnya ke arah jendela, malas menatap kakaknya yang menyebalkan itu. Cukup lama Bintang memperhatikan ke arah jalan raya, hingga cake pada piringnya hampir habis dilahapnya. Sebenarnya tujuan utamanya mengajak kakaknya singgah di cafe ini adalah gedung Bar and Club di seberang jalan raya itu. Dia hanya penasaran apakah Angkasa sering datang ke Bar and Club tersebut.

Dan rasa penasaran Bintang pun akhirnya terjawab. Untuk kedua kalinya dia melihat Angkasa masuk ke dalam gedung yang bertuliskan Neo Bar and Club. Sempat ada perasaan kecewa yang muncul dalam hatinya. Tapi dia tidak ingin terlalu gegabah menarik kesimpulan mengenai Angkasa.

SEMESTA [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang