Beberapa hari terakhir ini Haikal tidak mendapatkan kabar dari Keru. Kekasihnya itu sama sekali tidak mengiriminya pesan. Bahkan dia tidak bisa bertemu Keru di sekolah. Mungkin karena Keru sedang disibukkan dengan Ujian Praktik dan persiapan Ujian Nasional. Jadi Haikal mencoba memaklumi hal tersebut.
Tapi hari ini, akhirnya Haikal mendapat pesan dari Keru yang mengajaknya bertemu. Dan di sini lah dia sekarang, menunggu kedatangan Keru di taman kota. Keru yang menentukan tempat pertemuan mereka. Karena hari ini akhir pekan, jadi sekalian kencan begitu katanya. Mau kencan atau tidak yang penting Haikal bisa bertemu dengan Keru. Sebab dia sudah rindu sekali pada kekasihnya itu.
Haikal lagi-lagi menatap arloji di tangannya, sudah 20 menit dia duduk di kursi taman itu menunggu kedatangan Keru. Namun kekasihnya itu tak kunjung datang juga. Tiba-tiba ada seseorang yang menutup matanya dengan telapak tangan dari belakangnya. Tanpa melihat wajah orangnya pun Haikal sudah hafal bau khas parfum yang dia cium dari tangan orang tersebut.
"Kak Keru ish!" Haikal menggenggam tangan orang yang menutupi kedua matanya. Dia pun menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa orang itu benar Keru.
Keru tersenyum saat mereka saling bertatapan, "Hehe udah lama ya nunggu? Maaf tadi di jalan macet banget. Biasa lah akhir pekan." Ucapnya, lalu dia mendudukkan dirinya di samping Haikal.
Haikal pun langsung memeluk Keru sesaat setelah orang itu duduk di sampingnya, dia melingkarkan tangannya pada pinggang Keru dengan erat, "Kangen banget sama Kakak!"
Akh!
Keru meringis kesakitan, dia refleks melepaskan pelukan Haikal. Sebab tangan kekasihnya itu menekan luka di punggungnya yang masih belum sepenuhnya kering secara tidak sengaja.
Melihat gelagat aneh Keru membuat Haikal mengernyit heran, "Kak Keru kenapa? Ada yang sakit?" Tanyanya seraya menengok ke bagian punggung Keru yang dia pikir menjadi sumber dari rasa sakit yang Keru rasakan.
Keru mengibaskan tangannya dengan cepat, "Engga, Dek. Gapapa kok, kemaren encok waktu main basket sama Angkasa. Masih sakit sedikit." Lanjutnya dengan kekehan ringan.
"Huh kirain! Inget umur makanya, Kak," Haikal tertawa setelah meledek kekasihnya itu.
"Kakak ingetnya cuma sama kamu doang sih," Goda Keru sembari mencolek ujung hidung Haikal main-main.
Haikal balas menarik hidung Keru dengan gemas, "Gombal banget ini pacarku~"
"Duh sakit, Dek!" Keru menjauhkan tangan Haikal dari hidungnya, dia kemudian menatap manik mata kekasihnya dengan lekat, menautkan jemarinya disela-sela jemari Haikal. "Ga kerasa ya hubungan kita udah dua tahun lebih. Ga kerasa juga bentar lagi Kakak lulus."
Haikal mengangguk pelan, dia menyandarkan kepalanya pada bahu Keru sembari memainkan jemari kekasihnya, "Aku berharap kita tetep bisa kayak gini meski Kakak udah lulus. Kakak jadi lanjut kuliah di sini kan?" Tanyanya, sedikit mendongak untuk menatap kekasihnya.
"Maaf..." Keru menghela napasnya.
Mendadak Haikal menegakkan tubuhnya kembali, menatap wajah Keru yang tampak sedih, "Kakak mau pergi ke New York?"
Anggukan kepala dari Keru menjadi jawaban atas pertanyaan Haikal tersebut.
Haikal menurunkan pandangannya, air mukanya seketika ikut berubah menjadi mendung, "Aku udah menduga hal ini pasti akan terjadi. Harusnya Kakak ga usah bilang soal itu ke ayah Kakak."
"Kakak ga bisa tahan itu lagi, Kal. Ga mungkin kita mau diam-diam begini selamanya."
"Lebih baik begitu, Kak. Daripada kita harus berpisah begini," Haikal menggigit bibir bawahnya, dia menunduk semakin dalam, "Aku ga bisa bayangin hari-hariku tanpa Kakak."
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA [✓]
Fiksi Penggemar[⚠ gue ga saranin cerita ini untuk dibaca karena cerita ini sebenernya gue tulis untuk orang-orang yang gue sayang sebagai bentuk apresiasi kenangan-kenangan yang pernah dilewati bersama. Tapi kalo kepo mau baca juga gue ga ngelarang. Read at your o...
![SEMESTA [✓]](https://img.wattpad.com/cover/233072558-64-k696562.jpg)