third note

1K 175 1
                                        

Jam istirahat telah tiba. Bukannya langsung pergi ke kantin seperti biasanya, Angkasa justru berjalan menuju lorong kelas IPS. Dia membawa beberapa lembar kertas di genggaman tangannya. Baru saja dia menerima laporan lagi dari sekbid lain. Merasa tak memiliki banyak waktu, alhasil dia tidak ingin menunda-nunda pekerjaannya.

Oleh karena itu di sini lah dia sekarang, matanya berusaha menemukan seseorang yang dia cari di dalam kelas tersebut. Ditatapnya bangku yang biasanya menjadi tempat duduk orang yang dicarinya dari ambang pintu. Namun dia mendapati bahwa bangku itu terlihat kosong. Apakah orang itu sudah pergi ke kantin? Tapi bahkan tas orang itu tidak ada di sana.

"Nyari siapa, Sa?"

Angkasa menatap pemuda yang menghampirinya itu, "Arjuna mana, Ken?"

"Dia ga masuk hari ini," Ken melirik bangku Arjuna sekilas.

"Kenapa?"

"Gatau. Gue bukan emaknya," Jawab Ken seraya mengangkat bahunya ringan.

"Cinderella lo itu lagi cosplay jadi Princess Aurora di kamarnya kali. Mungkin lo perlu dateng ke rumahnya buat ngasih ciuman biar dia bangun dari tidur panjangnya."

"Kamu terlalu banyak nonton dongeng," Angkasa menggelengkan kepala heran, "Yaudah saya pergi dulu."

Si sekretaris OSIS itu pun beranjak meninggalkan area kelas IPS. Tujuannya saat ini adalah kantin, cacing-cacing di perutnya mulai berdemo. Setelah membeli semangkuk Bakso dan segelas Es Teh, Angkasa membawa nampan makanannya untuk mencari tempat duduk.

"Sendirian aja. Mana kak Keru?" Sejak sepasang mata Angkasa menemukan keberadaan Haikal di salah satu meja kantin itu, dia memutuskan untuk duduk bersama di sana.

Haikal memasang wajah memelas, "Sibuk latihan olimpiade."

"Kasian, pacaran rasa jomblo. Mending jomblo aja sekalian."

"Iri bilang bos! Jones sih."

Memilih untuk tidak menanggapi lagi, Angkasa mulai menikmati makanannya. Sampai dia teringat sesuatu, "Arjuna ga masuk kenapa?"

"Sakit," Jawab Haikal singkat, mulutnya sibuk menguyah es batu.

Angkasa mengernyitkan keningnya, "Sakit apa?"

"Katanya habis dari gunung kemaren badannya jadi panas dingin," Suara kunyahan es batu di mulut Haikal membuat Angkasa merasa ngilu, "Jangan-jangan dia ketempelan setan gunung. Gue suruh rukyah ga mau."

"Temen-temen Arjuna otaknya ga bener semua ya," Angkasa kembali dibuat heran, sebab Ken dan Haikal menjawab pertanyaannya mengenai Arjuna yang sakit dengan jawaban aneh-aneh.

"Lu juga temennya ya malih! Otak lu juga ga bener dong."

"Bukan, saya rekannya di OSIS."

Haikal membuat ekspresi datar, "Ya ya terserah. Mang napa nyariin dia?"

"Ini. Mau saya ajak ngelanjutin LPJ ntar balik sekolah rencananya," Ujar Angkasa seraya menunjukkan kertas-kertas yang dibawanya.

"Datengin aja rumahnya."

"Saya ga punya waktu sebanyak itu, ada urusan."

"Urusan apa lu? Sok sibuk amat."

"Rahasia."

Setelahnya Haikal tak berniat bertanya lebih lanjut. Dia paham Angkasa ini bukan orang yang mudah terbuka dengan orang lain. Meski mereka teman satu kelas, tapi pertemanan mereka tidak sedekat itu. Bahkan sampai sekarang Haikal menganggap Angkasa ini orang yang cukup misterius.

SEMESTA [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang