twenty third note

910 145 18
                                        

Selesai berganti pakaian di toilet Angkasa bergegas memasuki area Bar and Club untuk mulai bekerja. Dia sedikit berlari menuju counter Bar, pelanggan telah ramai memenuhi ruangan Bar and Club tersebut. Keru juga terlihat sudah berada di stage DJ untuk melakukan pekerjaannya.

"Maaf ya, Bang Jef. Gue sedikit telat, konsultasi sama guru pembimbing olimpiade dulu tadi," Angkasa memasuki area dalam counter Bar, dia segera mengambil alih tugas Bartender di sana.

Jefri menawarkan senyuman manis hingga muncul lekukan kecil dipipinya, "Santai, Jen. Gue maklum kok, olimpiadenya bentar lagi ya?"

"Hmm masih lumayan lama, Bang," Jawab Angkasa sembari membuatkan pesanan pelanggan, "Beberapa bulan lagi. Jadi semoga Bang Jef harap maklum ya kalo kedepannya gue mungkin bakal sering telat dateng ke Bar."

"It's okay," Jefri menepuk bahu Angkasa dengan pelan, "Semangat ya, gue balik dulu." Setelahnya pemuda jangkung itu berjalan keluar dari dalam area counter Bar.

"Sip. Hati-hati di jalan, Bang."

Yuta sebagai pemilik Neo Bar and Club tidak pernah memberikan peraturan yang terlalu ketat pada karyawannya. Jika ada yang terlambat datang, biasanya akan dihandle terlebih dahulu oleh shift sebelumnya. Asalkan mereka memberitahu terlebih dahulu jika akan terlambat datang, beserta alasannya. Kalau durasi waktu mereka terlambat dan alasan mereka terlambat dapat dimaklumi, maka Yuta tidak akan memberikan surat peringatan.

"Arjuna itu lucu ya," Ujar Angkasa tanpa menatap lawan bicaranya, dia membasuh kedua tangannya pada wastafel. "Apalagi kalo lagi ketakutan gitu. Kemaren waktu LDKS dia nempel mulu ke gue."

"Jen, mending lu ngaku dah sekarang. Lu suka sama Arjuna kan?" Keru yang berdiri tepat di sebelah Angkasa, dia mengalihkan perhatiannya untuk menatap adik kelasnya itu, "Lu udah berkali-kali ngomong hal yang sama ke gue hari ini 'Arjuna itu lucu ya'." Lanjut Keru mengikuti gaya bicara Angkasa saat mengatakan kalimat tersebut.

Jam menunjukkan pukul 10 malam, itu lah alasan mengapa Angkasa dan Keru ada di toilet sekarang. Mereka sedang mengambil waktu istirahat.

"Biasanya lu nyeritain soal Bintang mulu, tapi akhir-akhir ini Arjuna Arjuna Arjuna terus yang lu sebut," Menyipitkan matanya membuat tatapannya terlihat lebih tajam, Keru menyilangkan kedua tangannya di dada. "Itu tandanya lu udah mulai naruh perhatian lebih ke Arjuna, Jen."

Angkasa mengerutkan keningnya, dia mengeringkan tangannya dengan tisu, "Ah engga lah, Kak. Gue cuma baru tau kalo Arjuna yang biasanya galak bisa jadi selucu itu."

Keru membalas dengan suara decakan, "Jeno Jeno... mulut lu emang bisa bilang engga. Tapi mata lu ga bisa bohong, Jen. Gue pernah merhatiin cara lu natap dia. Keliatan tau dari sorot mata lu."

"Masa sih?" Angkasa balik menatap ke arah Keru yang tengah mencuci tangannya, "Perasaan gue kalo natap ke semua orang sama aja dah."

Keru menarik napas panjang kemudian menghembuskannya kasar, "Mending lu renungin sekarang terus tanya sama diri lu sendiri. Lu suka Arjuna atau ga?" Finalnya, pemuda yang lebih tua beranjak meninggalkan Angkasa seorang diri di toilet.

Angkasa terdiam menatap kepergian Keru yang kemudian menghilang pada balik pintu. Dia menggeser netranya ke arah cermin di depannya. Pemuda itu menatap lekat pantulan bayangan dirinya sendiri pada permukaan cermin. Bertanya pada diri sendiri kata Keru, Angkasa masih merasa tidak yakin dengan perasaannya sendiri.

"Apa gue suka sama Arjuna?" Monolognya dengan bayangannya sendiri.

"Apa gue suka sama Arjuna?" Monolognya dengan bayangannya sendiri

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SEMESTA [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang