[⚠ gue ga saranin cerita ini untuk dibaca karena cerita ini sebenernya gue tulis untuk orang-orang yang gue sayang sebagai bentuk apresiasi kenangan-kenangan yang pernah dilewati bersama. Tapi kalo kepo mau baca juga gue ga ngelarang. Read at your o...
"I, Jevano Angkasa Satrianda, take you, Arjuna Bima Sakti, to be my lawfully wedded husband, to hold from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness and in health, until death do us part."
Setelah lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan tetap, Angkasa dan Arjuna memutuskan untuk menikah. Hari ini semua orang berkumpul untuk menjadi saksi pengucapan janji suci antara Angkasa dan Arjuna.
Ayah, Bunda, kerabat, sahabat, teman, bahkan Papa dan Mama Arjuna turut hadir dalam upacara pernikahan mereka. Akhirnya Papa dan Mama Arjuna memberikan restu mereka setelah perjuangan panjang yang Angkasa dan Arjuna lalui. Bagaimana pun juga restu orangtua adalah hal yang paling utama.
Setelah janji suci diucapkan, dan cincin pernikahan melingkar pada jari manis mereka, Angkasa mencium bibir tipis Arjuna dan melumatnya sekilas, "Kamu tau ga kenapa aku sekarang jadi orang paling beruntung di dunia? Karena aku bisa punya semesta. Kamu, Arjuna.... Bima Sakti semestaku."
Arjuna mendengus geli mendengarnya, dia pun mengalungkan tangannya pada leher Angkasa. Memberikan ciuman yang lebih panjang dan lebih dalam.
Semua orang yang menjadi saksi perjalanan Angkasa dan Arjuna merasa terharu akhirnya mereka telah meresmikan hubungan mereka. Bunda sampai menitikkan air matanya, tak menyangka putranya telah tumbuh dewasa begitu cepat. Sekarang putranya itu sudah menemukan seseorang yang akan menjadi tempat bersandar dan mendampingi hingga maut memisahkan.
Haikal, sebagai sahabat Arjuna juga ikut merasa bahagia akhirnya mereka bisa bersatu. Kebahagiaan yang hampir sempurna, karena akan menjadi sempurna jika saja Keru turut hadir bersama di sini. Mengingat Keru hanya membuat Haikal mengorek lukanya lebih dalam. Orang itu sudah pergi ke tempat jauh yang tak akan pernah bisa dia gapai sampai kapanpun.
Keluar dari gedung pernikahan Angkasa dan Arjuna, Haikal menatap langit dengan lekat, "Hari ini Angkasa sama Arjuna udah nikah. Aku bahagia liat mereka akhirnya bisa bersama. Apa Kakak di sana juga bahagia?" Monolognya pelan.
Haikal tak tahu kenapa menahan rindu bisa sesakit ini rasanya. Lebih sakit lagi karena merindukan orang yang tidak akan kembali untuk selamanya, "Satu tahun lalu Kakak bilang mau pulang. Aku pikir pulang kesini, ternyata Kakak pulang ke tempat yang jauh banget."
Haikal menghela napasnya dalam-dalam, masih menatap ke arah langit, "Aku udah berhasil wujudkan cita-cita Kakak buat buka tempat les musik. Salah satu muridku di tempat les musik itu juga besok mau maju dalam kompetisi. Dia bener-bener berbakat dan sangat mencintai dunia musik, persis kayak Kakak. Chenzario Lesmana, nama anak itu." Dia menurunkan pandangannya, lalu mengusap air matanya dengan kasar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.