"Kamu tak perlu mengungkapkan seberapa besar cintamu padaku, cukup dengan Perhatian yang kau berikan padaku, bagi ku itu adalah rasa cinta yang diam-diam kau ungkapkan untukku."
----
Adibah memutuskan menemui sang Umi yang sedang memasak di dapur. Dari pada ia disana di ledek oleh Abinya, lebih baik Adibah membantu Umi di dapur.
"Sini Umi, Adibah bantu!" ujar Adibah mengambil alih spatula ditangan Uminya.
Fatimah terkejut saat anaknya mengambil alih spatula. Adibah tidak pernah berubah dari dulu selalu membuat Umi nya terkejut. "Astagfirullah, Kamu ngagetin Umi sayang."
"Udah biar Umi saja yang masak, lebih baik Kamu duduk aja! Ngeri Umi melihat perutmu yang sudah membesar, masih saja selalu becicilan." ujar Fatimah mengambil alih kembali spatula tersebut.
"Tapi Umi. Adibah ingin bantu Umi." kata Adibah dengan wajah memelas.
"Masyaallah anak Umi, yasudah Kamu bantu Umi meletakan makan yang sudah jadi ke meja makan sana!" gemas Fatimah pada anaknya.
"Oke Umi." senang Adibah.
Adibah mulai menyajikan makanan di meja makan. Setelah selesai Umi menyuruh Adibah untuk memanggil Abi dan Atthar. Saat Adibah ingin menghampiri suami dan Abinya, ia melihat sesosok yang Adibah rindu sedari tadi.
"Bang Rafiq! Adibah kangen Abang." teriak Adibah sambil sedikit berlari, menghampiri Rafiq yang sedang berbicara pada Atthar dan Abi.
Ketiga laki-laki tersebut menoleh pada asal suara tersebut.
Atthar yang melihat Adibah berlari seperti itu meringis sendiri. Bagaimana tidak, padahal Atthar sudah sering memberi tahu istrinya jangan berjalan seperti itu, tetapi Adibah tidak mendengarkan ucapannya.
Begitu juga dengan Abi, yang melihat Putrinya seperti itu menggelengkan kepalanya. Walau sudah menikah putrinya tidak pernah berubah.
"Astagfirullah dek, kamu ini! pelan-pelan dek!" kata Rafiq sedikit meringis melihat perut adiknya yang semakin membesar.
Adibah tidak menghiraukan ucapan Abangnya. Langsung berhambur kedalam pelukan Rafiq. Adibah sangat rindung dengan Abangnya. "Abang jarang banget sih main ke rumah Adibah! Kan Adibah kangen sama Abang." kesal Adibah.
Rafiq membalas pelukan sang Adik, dia terkekeh ternyata Adibah masih cerewet seperti dulu. Tidak pernah berubah. "Maaf ya, akhir-akhir ini Abang lagi sibuk di kantor." kata Rafiq meminta maaf pada Adiknya, dengan sedikit mengurangi pelukannya, agar tidak menekan perut buncit Adibah.
"Iya deh, yang udah punya calon! Jadi rajin kerja buat nikah nanti!" ledek Adibah, sengaja menyindir sang Kakak.
"Tau dari mana Kamu?" tanya Rafiq sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Ya tahulah, berarti benerkan? Abang mau nikah ya?" kata Adibah menyudutkan Rafiq.
"Doakan saja, insyaallah iya." balas Rafiq mengalah.
Adibah hanya menganggukkan kepala. Melepas pelukannya. Memberi tahu, bahwa Umi menyuruh mereka makan.
🌠🌠🌠
Usai makan tadi Adibah memutuskan menuju kamar miliknya bersama Atthar. Teryata kamar Adibah tetap sama tidak ada yang berubah satu pun.
Atthar hanya membuntuti istrinya dari belakang, dia menutup pintu kamar. Setelah itu memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Adibah terkejut saat Atthar memeluknya dari belakang. Jantungnya berdegup sangat kencang. Padahal, dia sudah sering di perlakukan seperti ini oleh suaminya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Husband
Romansa•Proses Revisi• Adibah Putri Humairah seorang gadis berparas cantik, dengan kepribadian luga dan sopan yang harus di jodohkan dengan laki-laki pemilik kepribadian yang bersifat dingin Muhammad Atthar Al Hafidz yang merupakan mahasiswa semester akhir...
