Bab.12b

8.3K 1.2K 86
                                        

“Ke mana Felicia? Tumben lo sendiri?”

Yuda bertanya sambil celibgak-celinguk ke arah teras.

“Nanti dia nyusul, lagi beli sesuatu di supermarket dekat sini.”

“Oh, soalnya Andre dari tadi nanyain dia terus. Gue sampai bingung jawabnya.” Yuda berucap sambil menggoyangkan pengocok minuman di tangannya.

Reiga mengerutkan kening. “Andre, anak band itu?”

“Yes, tadi dia nongkrong di sini lama. Curhat gitu, karena mau curhat ama lo malu. Dia naksir Felicia, dan tanya kalau ponakan lo udah punya pacar belum.”

“Trus, lo jawab apa?”

“Gue jawab baru putus dari cowoknya yang mesum, bener omongan gue,kan?”

Reiga mengetuk-etuk sebatang rokok di jarinya. Ia menatap Yuda dengan kesal, menganggap jika temannya terlalu banyak omong. Benaknya berpikir tentang pembahasan masalah cowok yang nembak dengan Felicia. Ia mempunyai dugaan, kalau cowok yang dikatakan Felicia adalah Andre. Jika benar, maka hubungan mereka yang berkembang ternyata di luar sepengetahuannya.

Ia menyalakan pematik dan mengisap rokok di jari. Asap mengepul, menyelubungi wajahnya yang rupawan. Reiga tidak menyadari, tatapan para pengujung wanita ke arahnya. Dengan rambut gondrong yang dibiarkan terurai, kaos hitam dan celana jin, penampilannya memang terlihat keren. Meski begitu, matanya menyorot dingin ke arah Yuda. Jika pandangan mata bisa membekukan tulang, Yuda sekarang sudah menjadi patung.

“Eh, ini AC yang kegedean nyalanya atau apa, ya? Kok gue ngrasa merinding.” Yuda berteriak dari balik meja barista.

Reiga mendengkus jengkel, mengisap rokok dengan tenang hingga sesosok wanita mengenyakkan diri di depannya.

“Rei, kamu sendirian?”

Ia tersentak, menatap Putri Jelita dalam balutan blus putih dan rok hitam. Bagi banyak orang, jenis pakaian Putri Jelita akan terlihat membosankan, tapi tidak bagi wanita itu. Dengan rambut digelung ke atas untuk menampakkan lehernya yang jenjang, Putri Jelita tersenyum manis.

“Aku lihat kamu lagi suntuk?”

Reiga mematikan rokoknya ke dalam asbak dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kamu nggak sibuk? Kenapa akhir-akhir ini aku sering lihat kamu di sini?”

Putri Jelita mengangkat bahu. “Sibuk, tapi aku membatasi jam kerjaku hanya sampai jam tiga sore. Keluargaku tahu itu, dan mereka nggak maksa.”

“Kamu nggak takut kalau tunanganmu tahu, kalau kamu sering kemari?”

“Darel? Dia sama sekali tidak peduli padaku.” Ada nada getir seiring dengan kalimat yang keluar dari mulutnya. “Yang dia pikir adalah bisnis dan bagaimana caranya membangun jaringan yang besar antara dia dan keluargaku.”

Reiga meringis kecil. “Bagus kalau begitu. Type suami idaman.”

“Idaman keluargaku, bukan aku!” tukas Putri Jelita keras. “kamu jelas tahu, siapa yang aku inginkan!” Tanganya terulur untuk meriah tangan Reiga dan menaitkan jemari mereka. “Rei ….”

Dari sudut matanya, Reiga melihat Yuda memberi kode. Sahabatnya itu menjulingkan mata seakan-akan mengatakan agar dia bertindak cepat, jangan menunggu lama-lama. Tangan Yuda kini bahkan melengkung dengan sikap seakan sedang memeluk. Melihat tingkah laki-laki itu, ingin rasanya Reiga berdiri dan mengeplak bagian belakang kepalanya. Namun, ia tahan diri. Mengingat sedang berada di tempat umum.

“Rei, kamu lihatin apa?”

Mengalihkan pandangan dari Yuda yang bersikap konyol, Reiga menyadari jika tangan mereka masih bertautan. Ia ingin melepasnya saat dari pintu terdengar teriakan gembira.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 08, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Dear OmTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang