Bab.9b

13.3K 1.8K 146
                                        

Setelah dua hari, luka dan memar di wajah Felicia membaik. Meski begitu, gadis itu masih tetap membisu dan tidak ingin bercerita apa pun. Tidak peduli seberas keras, Reiga berusaha memancingnya bicara.

Hingga akhirnya, ia mengutarakan ancaman yang membuat Felicia menatapnya tak percaya.

“Kamu boleh marah padaku, tapi ceritakan apa yang terjadi. Kalau sampai malam ini kamu nggak cerita, aku akan menelepon orang tuamu dan aku yakin, mereka akan membatalkan bulan madu demi melihatmu!”

“Om, kenapa sampai begitu. Nggak perlu sok-sok perhatian,” ucap Felicia sambil melengos.

“Terserah apa katamu. Ayo, cerita atau kamu mau aku telepon mereka?”

Felicia menunduk, menekuk lutut di atas sofa. Ia merasa malu tapi sekaligus sedih saat bersamaan. Jujur saja, ia ingin menyimpan sendirian apa yang terjadi dengannya semalam. Namun ia tahu, Reiga tak akan berhenti mengorek cerita jika ia tak mengatakan yang sebenarnya.

“Fel ….”

Teguran Reiga membuat hatinya makin tersayat. Ia menarik napas panjang, berusaha menguatkan diri sebelum bicara.

“Semalam, saat aku di mall ketemu Rio.” Ia mulai bercerita dengan suara yang lirih. “Dia memaksaku ikut ke pesta bersama teman-temannya. Ternyata … dia membawaku ke klub malam.”

Reiga menahan napas mendengar penuturan Felicia. Suara gadis itu begitu lirih hingga nyaris tak terdengar. Dengan tak sabar ia sedikit mendesak.

“Lalu?”

“Lalu, di tempat itu aku bingung. Dan ….” Suara Felicia hilang ditelan isakan. “Ri-o, me-maksaku minum alkohol. Aku nggak ma-u dan dia marah.”

“Dia memukulmu?” tanya Reiga dengan dada bergetar marah.

Felicia menggeleng. “Bukan di-a tapi orang lain. Aku takut, lari keluar lalu gelap nabrak benda-benda dan nabrak cewek. Dia marah, memukulku. Aku jatuh … sakit.”

Kali ini, Felicia tak dapat membendung kesedihannya. Ia terdiam saat Reiga meraih kepalanya dan meletakkan di pundak laki-laki itu. Perasaan sedih, terhina, dan marah yang ia rasakan dari tadi malam, tumpah seketika. Ia memeluk Reiga, dan berharap jika pundak sang om mampu menggantikan pundak papanya.

“Aku memang kuper, Om. Aku nggak tahu mana-mana dan nggak tahu apa-apa, makanya mereka begitu.” Lagi-lagi Felicia berucap sambil terisak.

Hati Reiga bagai diketuk palu saat mendengar curahan hati Felicia. Rasa bersalah yang ia rasakan dari tadi malam, kini makin memuncak saat mengetahui apa yang telah dialami Felicia. Ia sama sekali tak menyangka, jika kecerobohan dan juga sikapnya yang pelupa, berujung petaka bagi anak tiri kakaknya. Mengembuskan napas panjang, berusaha meredakan kemarahan yang menggelegak dalam dada, ia mengusap rambut Felicia dengan lembut.

“Sudah, tenang. Ada aku di sini.” Ia berucap pelan sambil mengecup puncak kepala Felicia.

Entah untuk berapa lama dirinya menangis, Felicia tidak tahu. Yang ia inginkan hanya bebas dari rasa takut yang membelenggunya sejak semalam. Dalam pelukan Reiga, ia menemukan kenyamanan layaknya rasa aman yang diberikan sang papa untuknya. Secara perlahan, tangisnya mereda.

“Sudah tenang?” tanya Reiga lembut.

Ia mengangguk, mengusap air mata di pelupuk dengan punggung tangan.

“Sini, rebahkan kepalamu dan tidurlah. Aku lihat kamu kurang tidur akhir-akhir ini.” Reiga menepuk-nepuk pahanya. Setengah memaksa, merebahkan kepala Felicia di atas tubuhnya. “Pejamkan mata, lalu tidur. Ada aku di sini.”

Dear OmTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang