Rumah Singgah Jeno
Jeno membawa semua orang itu agar masuk ke dalam rumah singgahnya. Rumah ini sebenarnya ingin dia dan Jaemin tempati jika mereka sudah tidak lagi menjadi "Grim". Tapi masalah itu bisa diurus belakangan, dia akan membangun rumah lainnya lagi suatu hari nanti.
"Di rumah ini ada banyak kamar, kalian bisa menggunakannya semau kalian, tapi tolong jangan masuki ruangan yang ada papan nama Jaemin, karena itu ruangan Jaemin, dia tak suka jika ada yang masuk ke ruangannya." ujar Jeno saat mereka semua sudah berada di ruang tengah.
"Jeno-ya, kurasa kau harus menjelaskan sesuatu, benar?" tanya Taeil yang diangguki Jeno.
"Tapi tidak sekarang, aku ingin mandi dulu, putra bungsu Tuan Jung bisa makin trauma jika melihatku yang bersimbah darah begini, aku permisi. Kalian bisa gunakan kamar di sini juga kamar mandinya jika ingin mandi. Nanti ada anak buahku yang akan mengirim baju kemari sebagai baju ganti sementara kalian semua." ujar Jeno sebelum akhirnya si pemuda Lee itu memutuskan untuk masuk ke kamarnya dan Jaemin, master room, yang ada di lantai dua.
Sepeninggalan Jeno, mereka belum beranjak dari tempat mereka.
"Tiba-tiba aku merasa takut saat menatap mata Jeno tadi." ujar Haechan memecah keheningan di sana.
"Mungkin lebih baik saat ini kita menuruti apa yang dikatakan Jeno saja jika kita mau selamat dari dia." ujar Ten.
TING TONG
Johnny yang dekat pintu membukanya, dan menemukan tiga orang yang tidak mereka kenal. Wajah mereka nampak asing bagi Johnny.
"Maaf? Mencari siapa?" tanya Johnny.
"Oh, Anda Tuan Seo Johnny?" Johnny mengangguk.
"Tenang saja Tuan, tak usah khawatir, kami bukan orang jahat, kami adalah anak buah Xander, kami diminta membawa beberapa baju ganti untuk Anda semua." pemuda tadi tersenyum ramah pada Johnny yang disambut balik dengan senyuman.
"Tapi bolah tahu siapa namamu?" pertanyaan Johnny disambut senyuman oleh si pemuda tadi.
"Chris, Christoper, itu nama saya, yang di belakang saya adalah Lino dan Felix. Kami bertiga adalah anak buah Xander." dua pemuda lainnya membungkuk sopan.
"Kau sudah datang, Chris?" suara Jeno mengagetkan Johnny. Chris mengangguk.
"Aku, Felix dan Lino sudah membawakan barang-barang yang kau minta. Mau diletakkan dimana?" tanya Chris, Jeno mengode mereka untuk mengikutinya. Johnny memberi jalan pada ketiga pemuda itu, setelah menutup pintu Johnny baru menyusul ke ruang tengah.
"Jeno, ini apa?" tanya Taeyong tak paham dengan pakaian-pakaian yang dibawakan oleh Jeno untuk mereka.
"Untuk seminggu ke depan Anda semua ada di bawah pengawasanku dan Jaemin. Jaemin baru saja menghubungiku dan mengatakan tugas kami bertambah. Ada banyak hal yang harus aku beritahukan pada kalian semua. Tapi, sebelum itu bersihkan diri kalian." Jeno mempersilakan mereka semua untuk masuk ke kamar, meninggalkan Jeno dengan tiga anak buahnya.
"Kau tak apa membeberkan identitas?" tanya Chris.
"Tidak masalah Chris, dua diantara mereka punya perjanjian denganku dan Jaemin, jadi tak masalah, lagipula semenjak insiden pengeboman di restoran keluarga Jung, identitas kami sudah mulai terkuak pada mereka." jawab Jeno dengan tenang. Keempatnya duduk di sofa ruang tengah.
"Apa rencanamu, Xander?" tanya Felix.
"Tidak ada rencana apapun, aku dan Jaemin hanya diberi tugas tambahan untuk ini. Jaemin pergi melapor pada Tuan Ahn, dan tadi baru menghubungiku, kami mendapat hukuman, yaitu kami harus menjaga mereka semua seminggu ke depan. Jaemin saat ini tengah menyelidiki maksud dari serangan tadi. Karena jika memang kelompok tadi mengincar keluarga Na, kenapa baru diserang sekarang, kenapa tidak saat di rumah sakit? Atau apa memang kelompok ini ingin menghancurkan semuanya? Itulah yang harus diselidiki." jelas Jeno.
"Dan Jaemin melakukan semuanya?" tanya Lino. Jeno mengangguk.
"Dia sendiri yang ingin, lagipula dia ingin menyibukkan diri, ada beberapa hal yang mengganggu Jaemin, jadi aku biarkan saja, toh nanti dia juga kembali padaku lagi kalau hal yang mengganggunya sudah selesai." ujar Jeno dengan begitu santainya.
"Kau ini tidak ada khawatirnya sama sekali, huh?" tanya Chris yang tak habis pikir. Jeno terkekeh.
"Aku khawatir hyung, jelas itu. Tapi aku tahu untuk saat ini dia butuh waktunya sendiri. Dia bukan namja lemah, memang ada namja 'selemah' Jaemin yang bisa membantai lima belas orang sendirian?" Chris, Lino, dan Felix mendengus mendengarnya.
"Lagipula kalau aku menemaninya aku malah jadi pajangan tak berguna, jadi aku di sini saja. Dia nanti juga menyusul kalau hatinya sudah membaik." sambung Jeno sembari menarik senyum tipis.
Jeno sebenarnya khawatir pada Jaemin, keadaan Jaemin yang mulai labil semenjak kehadiran Renjun di kampus itu membuatnya cemas. Dia takut Jaemin melukai dirinya sendiri, tapi saat ini Jeno berusaha percaya jika Jaemin akan baik-baik saja. Lagipula tadi Jaemin sudah menghubunginya dan sudah berjanji jika dia akan baik-baik saja.
"Jeno" namja tampan itu segera mendongak saat namanya dipanggil oleh Jungwoo.
"Nyonya Wong, sudah selesai?" Jungwoo mengangguk, dia diikuti para nyonya besar itu duduk di sofa yang tadi diduduki oleh Chris, Lino dan Felix. Ketiga namja itu tadi segera berdiri saat para Tuan dan Nyonya itu turun.
"Chris hyung" panggil Jeno, Chris mendekati sang 'atasan'.
"Anggotamu masih berenam kan?" Chris mengangguk.
"Ambil Hwang Hyunjin dan Seo Changbin dari tempat pelatihan, katakan pada Jordan hyung jika itu permintaanku. Setelah kau mendapatkan keduanya, latih mereka secara pribadi hyung, jika butuh bantuan kau bisa memanggilku atau Jaemin. Dan-" Chris, Lino, dan Felix meneggakkan tubuh mereka saat Jeno menghentikkan ucapannya.
"Dan apa, Xander?" tanya Chris.
"Kirim I.N dan Han ke tempat ini, lalu kirim Seungmin pada Lysie, katakan itu perintahku, dan kalian bertiga yang melatih Hyunjin sekaligus Changbin, mengerti?" Chris mengangguk.
"Yes, sir." Jeno mengangguk puas.
"Kalian bisa pergi sekarang, terimakasih sudah mau kurepotkan." Chris tersenyum.
"Masih belum sebanding dengan hutang kami padamu, ini bukan apa-apa, kesetiaan kami ada padamu, Xander." Jeno tersenyum tipis.
"Aku tahu dan aku berterima kasih untuk itu, kalian bisa pergi." ketiganya pamit undur diri.
"Nah, jadi urusanku sekarang ada pada kalian semua. Akan aku jelaskan semuanya!"
.
.
.
-TBC 14-
*Woohooo~ akhirnya up yang ini juga kkkk~
*Tenang chapter ini sengaja pendek, chapter selanjutnya agak panjang
*Vote dan komennya kutunggu~
KAMU SEDANG MEMBACA
[NOMIN] Their Mask
FanfictionDua anak yang hidup sebatang kara bersama, hanya bisa bergantung satu sama lain. Tumbuh dari sepasang teman hidup, menjadi sahabat sehidup semati, lalu sepasang kekasih, hingga suami-'istri' di usia muda, 19 tahun. Kisah hidup mereka yang keras memb...
![[NOMIN] Their Mask](https://img.wattpad.com/cover/235719672-64-k573720.jpg)