Nasib Sekretaris Han

9.3K 1K 32
                                        

Basecamp Xander & Stray Kids

Jaemin mengejar Jeno yang melangkah menuju ruangan pribadinya. Jaemin menarik lengan suaminya dan memutar tubuh yang lebih besar darinya itu.

"Jeno kenapa?!" Jeno menatap mata istrinya dan menghela nafas, dia melepaskan cengkraman tangan istrinya di lengannya.

"Tidak ada Na" ujarnya kalem, tapi Jaemin tahu Jeno pasti memikirkan perkataannya.

"Jeno, jujur padaku, kau kenapa? Apa jawabanku tadi menyakitimu? Katakan padaku!" desak Jaemin, dia tak suka jika Jeno menutupi sesuatu darinya, dia merasa seperti orang asing jika Jeno berbuat seperti itu.

"Hahh~ ayo duduk!" Jeno membawa istrinya untuk duduk di sofa yang ada di sana.

"Ada apa?" tanya Jaemin lagi, Jeno menatap istrinya dan mengusap pipi sang istri.

"Entah mengapa mendengar jawabanmu tadi, aku merasa kau seperti ini karenaku." ujar Jeno.

"Kau terlibat dalam dunia ini semua karenaku, aku merasa seperti itu setelah mendengar jawabanmu tadi, meski aku tahu kita terjun ke dunia ini bersama-sama sejak lama." lanjutnya. Jaemin menggenggam jemari Jeno yang menangkup pipinya.

"Jangan berpikir seperti itu, aku tahu eomma khawatir padaku, hal yang wajar, jika aku jadi orang tua nanti pun aku juga pasti tak ingin anakku terluka sedikitpun, tapi pekerjaan ini sudah aku jalani begitu lama bahkan sejak remaja, kita berdua juga sudah sepakat untuk melakukan pekerjaan ini bersama, dan akan berhenti saat satu dari kita berhenti, kau berhenti aku pun juga, begitu juga sebaliknya." Jeno tersenyum tipis mendengar perkataan Jaemin.

"Maaf aku tadi langsung pergi, pasti orang-orang di sana berpikir yang tidak-tidak." Jaemin terkekeh pelan.

"Tapi Nana sayang"

"Ya?"

"Beri aku space selama dua hari, boleh?" raut muka Jaemin berubah, senyumnya perlahan hilang.

"W-waeyo?" Jeno tersenyum dan menggeleng.

"Hanya beri aku space dua hari saja untuk merenungkan beberapa hal." ujar Jeno, Jaemin menatap suaminya sedih, Jeno mencium bibir Jaemin sayang.

"Hanya dua hari sayang." Jaemin mengangguk lesu lalu pergi keluar dari sana tanpa kata, Jeno menatapnya dengan sedih. Dia butuh space sebentar untuk menenangkan pikirannya yang mulai liar kemana-mana.

"Maafkan aku sayangku"

.

.

Jaemin kembali ke ruang tengah dengan aura suram, dia langsung memeluk Renjun tanpa banyak bicara. Membuat si mungil itu menatap kembarannya dengan heran. Apa ada masalah antara Jaemin dan Jeno? begitulah pikirnya.

"Ada apa?" Jaemin hanya menggeleng dan mendusalkan kepalanya ke leher Renjun. Mengabaikan mood Jaemin yang buruk, mereka kembali berdiskusi mencari jalan keluar untuk masalah yang menimpa Yuta dan mereka semua.

"Kita tak ada rencana apapun selain melindungi apa yang kita miliki saat ini." ujar Lucas, otaknya rasanya mau meledak saja dengan informasi yang baru saja ia dapat.

"Hahh~" para kepala keluarga itu nampak pusing, di sisi lain Taeyong nampak mencemaskan sesuatu.

"Jaemin, dimana Jeno?" tanya Taeyong, Jaemin yang tadi sedang mendusalkan kepala di leher Renjun mendongakkan kepala.

"Di ruangannya, ada sesuatu?" tanya Jaemin sembari duduk normal menghadap Taeyong.

"RS Archie, aku cemas pada gelagat Sekretaris Han akhir-akhir ini." Jaemin mengangguk paham, saat ia baru saja hendak pergi dia baru ingat kalau suaminya mau diberi space dua hari.

"HUWWAAAA EOMMMAAA!" Winwin dan Yuta tersentak kaget dan segera menatap putra manisnya.

"W-Waeyo Nana-ya? Kau mengagetkan eomma" Jaemin menyerobot tempat antara Yuta dan Winwin, lalu memeluk sang eomma.

"Jeno jahatt padakuuuuu" Winwin geleng kepala dengan tingkah putranya, dan dia hanya bisa mengusap kepala Jaemin.

"Nana?"

"Oh iya, Seungmin!" Seungmin yang ada tak jauh dari sana mendekat.

"Ada apa, Na?" Jaemin mengangkat kepalanya.

"Antarkan Nyonya Jung ke tempat Jeno ya?" Seungmin mengangguk.

"Mari nyonya ikut saya" Taeyong berdiri dan mengikuti langkah Seungmin.

.

.

Felix menatap malas sosok paruh baya yang ada di seberang gedung, tepatnya disebuah hotel bintang lima, yang merupakan hotel milik keluarga Qian.

"Orang ini benar-benar penjilat!" desis Felix, dia sejak mengikuti pria yang adalah Sekretaris Han itu sudah menahan diri untuk tidak menghajar hingga mati pria paruh baya itu. Felix cukup terkejut dibuatnya karena pria ini benar-benar berani 'bermain' dengan Jeno.

Sekretaris Han sejak Felix ikuti dia sudah menemui tiga orang berjas, dan Felix tahu siapa itu tiga orang yang tadi ditemui Sekretaris Han, tiga orang itu adalah tiga orang yang terlibat kasus pembunuhan dan kecelakaan orang tua Jeno, dengan tidak lain tiga orang itu adalah orang-orang terdekat Lee Jaehyuk, dan sekarang Felix dibuat terkejut, ternyata Sekretaris Han menemui Eric dan Theressa. Felix mengepalkan tangannya.

"Kalian benar-benar ingin kubawakan neraka" desis Felix. Dia mengarahkan kameranya ke arah tiga orang tersebut.

"Bangchan hyung jika kuberitahu tentang mengenai hal ini dia pasti senang, sudah lama tidak melihat Bangchan hyung berselimut darah." gumam Felix.

"RS Archie harus dibersihkan dari para tikus"

.

.

Jeno memandang Taeyong yang kini duduk di depannya, mereka berdua membahas tentang sekretaris Han dan beberapa petinggi RS yang nampak mencurigakan gerak-geriknya. Taeyong setelah diangkat menjadi Kepala RS, dia segera meminta Jaehyun memberikan dua orang anak buahnya untuk memata-matai semua para petinggi, dan hal yang mengejutkan didapat, beberapa petinggi nampak sepertinya akan melakukan sesuatu.

"Bibi kan sudah tahu jika aku tak pernah menaruh kepercayaan sedikit pun pada Sekretaris Han, aku sedang menunggu informasi dari anak buahku yang kuminta untuk menyelidiki Sekretaris Han." ujar Jeno dengan tenang, Taeyong menyandarkan tubuhnya ke sofa.

"Jeno, kalau semisal orang-orang ini berniat melengserkanku dan membunuhmu, bagaimana?" tanya Taeyong. Jeno menyeringai.

"Sebelum itu terjadi, kepala mereka sudah akan terlepas dari badan. Ada orang-orang yang tak akan membiarkan itu terjadi, bibi tenang saja aku tak akan membiarkan mereka melengserkan bibi." ujar Jeno masih dengan tenang.

"Kau yakin Jen? Ini membuatku cemas" Jeno mengangguk, dia meraih jemari sang bibi dan mengusap punggung tangannya.

"Trust me, aku tak akan membiarkan orang-orang seperti ini hidup lama dengan tenang." Jeno mengatakannya sembari memberikan sebuah senyum manis pada sang bibi.

"Baiklah"

.

.

Felix mengepalkan tangannya erat, dia merutuk karena Jeno hanya memberikan perintah untuk menyelidiki bukan membunuh sekretaris Han.

"Orang ini- orang ini ternyata- sial!" geram Felix. Dia harus segera melaporkan ini semua pada Jeno dan Bangchan. Dia sudah tak tahan lagi.

"Sekretaris Han aku bersumpah akan membawakanmu neraka, sungguh! Kau benar-benar manusia yang menjijikkan, menjilat sana sini dan kenyataan bahwa kau adalah tangan kanan Nyonya Besar Nakamoto membuatku makin ingin melenyapkanmu. Aku tidak akan pernah membiarkanmu menyentuh Jeno dan Jaemin juga mereka semua seujung kuku pun."

.

.

.

-tbc-

*vote dan komennya yaw~

[NOMIN] Their MaskCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang