RS Archie
Jeno dan Jaemin baru saja sama-sama keluar dari kamar mandi dan pergi ke ruang rapat kemarin. Ruang rapat yang sudah bersih tanpa noda darah ataupun jejak sama sekali.
"Wooahhh~ hyungdeul memang hebat!" puji Jeno, Jaemin geleng kepala. Mereka harusnya memang mengawasi dengan pakaian dinas lapangan mereka, tapi karena ini area umum, jadi mereka hanya membawa senjata seadanya, senapan laras pendek, Desert Eagle dan pisau. Setidaknya kau butuh senjata untuk menebas dan melubangi.
CKLEK
"Oh, Tuan dan Nyonya Jung, silakan duduk, berlaku juga untuk anda berdua, Tuan Muda Jung." ujar Jeno berusaha ramah pada keluarga Jung yang datang ke ruang rapat lebih dulu.
"Anda berdua datang lebih cepat dari perkiraan, jadi? Ada yang ingin anda bicarakan?" tanya Jeno, Jaemin mengambil kursi dan duduk di sebelah Jeno, maunya sih duduk di pangkuan Jeno, tapi dia masih punya sopan.
"Jeno-ya, aku sudah mendapatkan laporan keuangan rumah sakit. Pemasukan dan pengeluarannya juga. Ada yang ganjil akan itu semua. Aku minta tolong orang terpercaya suamiku untuk membahas masalah ini. Dan aku menemukan beberapa hal." mulai Taeyong, dia memang bukan tipe orang yang suka basa-basi.
"Lalu beberapa hal apa itu?" tanya Jeno tenang.
"Uang-uang itu masuk ke dalam kantong beberapa petinggi rumah sakit juga kepada beberapa dokter dan kepala perawat. Dan jumlah yang masuk tidak main-main. Lalu semenjak ayahmu menghilang entah kemana yang ternyata tewas di tangan ayah Eric, beberapa perawat dan dokter bertugas secara semena-mena pada pasien kurang mampu. Biaya perawatan yang digunakan untuk para pasien pun tidak mengalir sebagaimana mestinya." jelas Taeyong, Jeno menghembuskan nafas. Jaehyun, Taeyong, Mark, dan Jisung kaget melihat raut wajah Jeno yang berbeda dari kemarin. Tidak bengis, tapi sirat khawatir dan sedih ada di sana.
"Apa dari kalian ada yang punya usul? Aku sungguh tidak ingin membuat lautan darah, apalagi sampai membunuh dokter, meski tidak berguna sekalipun hanya dokter yang bisa menangani penyakit pasien." ujar Jeno. Mereka terdiam.
"Mungkin diberi teguran keras?" usul Mark. Jeno menggeleng.
"Maaf, bukan maksud menyinggungmu, tapi mereka adalah orang bebal, teguran keras bukanlah hal yang susah untuk mereka. Jadi aku rasa percuma." ujar Jeno.
"Ancamanmu kemarin sepertinya berefek, yang menggunakan pisau itu" timpal Mark. Jeno melirik Jaemin yang menggeleng.
"Bisa kena hukum lagi, soalnya dokternya tidak terlalu memiliki efek besar pada kita." ujar Jaemin, Jeno mengangguk paham.
TOK TOK TOK
Sekretaris Han masuk dengan beberapa dokter.
"Apa itu sudah semua?" tanya Jeno tanpa memberi celah pada Sekretaris Han untuk bicara.
"Belum, yang lain sedang bertugas." jawab Sekretaris Han.
"Begitukah? Bertugas? hahahaha" tawa Jaemin terdengar memecah keheningan, dia merasa lucu, orang-orang yang tadi pagi nampak tak peduli kini bertugas?
"Tuan Jaemin" Jaemin menghentikkan tawanya lalu bangkit dari duduknya. Dia menatap kepala perawat yang ada di sana. Dia melangkah mendekati wanita itu yang kini entah mengapa dia merasa tubuhnya bergetar hebat.
SRET
Jaemin meraih kerah si kepala perawat, dia bisa melihat kalung emas dibalik pakaian itu. Dia menyeringai, dalam sekali hempas dia membuat tubuh kepala perawat jatuh tersungkur ditengah lingkaran meja.
"Lihat? Siapa ini yang memakai perhiasan mewah?" Jaemin punya dendam sendiri pada kepala perawat karena kejadian kemarin.
"T-Tuan ada masalah apa dengan saya?" tanya Kepala perawat dengan nada ketakutan. Jaemin memandangnya polos, namun tak lama seringai terukir.
KAMU SEDANG MEMBACA
[NOMIN] Their Mask
Fiksi PenggemarDua anak yang hidup sebatang kara bersama, hanya bisa bergantung satu sama lain. Tumbuh dari sepasang teman hidup, menjadi sahabat sehidup semati, lalu sepasang kekasih, hingga suami-'istri' di usia muda, 19 tahun. Kisah hidup mereka yang keras memb...
![[NOMIN] Their Mask](https://img.wattpad.com/cover/235719672-64-k573720.jpg)