Apartement
Sudah dua hari Jeno sendiri di apartement, jelas begitu karena dia sendiri yang minta waktu untuk merenung pada sang istri yang kini, mungkin masih ada di kediaman orang tuanya. Jeno rasa sudah cukup dua harinya dia merenung sendirian, sampai akhir pun dia tak bisa jauh dari sang istri tercinta.
"Aku harus menjemputnya di kampus" gumamnya, kebetulan Jeno hari ini tak ada jadwal apapun, dia habiskan waktunya hari ini untuk pergi belanja mengisi persediaan kulkas, membeli sabun cuci, pengharum ruangan yang baru, pasta gigi, sabun, shampoo, pewangi pakaian, dan kebutuhan lainnya. Jeno juga seharian ini membersihkan seluruh apartement, menyambut kepulangan istrinya dengan kebersihan apartement. Dia juga tak lupa mencuci baju-baju kotornya.
Jeno yang sudah nampak rapi kini telah bersiap dengan mobilnya, dia akan menjemput sang kekasih hati. Dia tak mengabari Jaemin satu pun, dia ingin memberi kejutan saja pada Jaemin, lagipula dia hafal semua jadwal Jaemin, dan begitu juga sebaliknya dengan Jaemin yang hafal semua jadwalnya.
Campus
Jeno mengendarai mobil cukup kencang tadi, karena jalanan juga sepi jadi dia mengebut. Sampai di gedung fakultas Jaemin, dia memarkirkan mobilnya diparkiran mahasiswa dan keluar dari sana untuk menjemput Jaemin di fakultasnya.
"Hmm? Ah aku terlalu cepat sepuluh menit" gumam Jeno, daripada capek berdiri, dia masuk dan duduk di sofa tempat biasa beberapa mahasiswa menunggu teman mereka atau hanya duduk bercengkrama di sana.
Tentu saja kedatangan sang pangeran fakultas teknik itu membuat semua orang mengalihkan fokus mereka kepada Jeno, yang sekarang tengah sibuk dengan ponselnya. Dua hari ini Felix belum memberi kabar apapun, dia katanya akan menyelidiki lebih dalam lagi mengenai Sekretaris Han dan Jeno iyakan saja.
Jeno mengabaikan bisik-bisik mahasiswa dan beberapa dosen yang melihat sosoknya duduk di sana. Dia tetap fokus saja pada ponselnya, hingga suara Renjun terdengar masuk ke telinganya, jika ada Renjun biasanya ada Seungmin dan Jaemin bersamanya. Jeno berdiri dan mencoba mencari asal suara, hingga tebakannya benar, dia menemukan Jaemin bersama Renjun dan Seungmin. Senyum manis merekah, membuat semua orang terpesona padanya, bahkan ada yang sampai mengira senyum itu untuk mereka, padahal bukan.
"Nana sayang!" Jeno memanggilnya agak berteriak, membuat semua orang langsung diam. Jaemin, Renjun, dan Seungmin yang juga mendengar itu sontak ikut diam. Mereka bertiga mengarahkan pandangan mereka pada sosok Jeno yang berjalan menghampiri ketiganya. Wajah Jaemin yang tadi agak murung berubah menjadi penuh seri keceriaan.
"NONO!!!" Jaemin melangkah cepat nyaris berlari dan langsung melompat memeluk Jeno, yang tentu saja dengan sigap Jeno menangkap sang istri dan balas memeluknya.
"Aku merindukanmu" bisik Jaemin dia nyaris menangis, berpisah dua hari sudah membuatnya secengeng ini.
"Na do" balas Jeno. Keduanya melepaskan pelukan mereka, Renjun dan Seungmin mendekati keduanya, langsung saja si mungil Na menggeplak kepala Jeno dari belakang.
"YAK LEE JENO! Kau sudah membuat Jaemin murung dua hari ini sialan!" maki Renjun, Jeno meringis dan hanya terkekeh.
"Maaf tidak akan aku ulangi lagi, dua hari kemarin itu yang terakhir." ujar Jeno.
"Awas saja ya sampai kau ulangi lagi, kupastikan kau kehilangan kebanggaanmu!" Jeno meringis ngilu membayangkannya.
"Renjun! Jaemin! Seungmin! Jeno!" Haechan muncul dari arah pintu masuk.
"Haechan!" sapa Jaemin balik dengan ceria.
"Awww~ ada yang sedang bahagia?" goda Haechan, Jaemin mendengus lalu mencubit gemas pipi tembab sahabatnya.
"Chan" Haechan terkekeh.
"Okeoke, pasangan suami istri ini akan pergi berdua kan? Baiklah, ayo Njun, Min! Kita pergi jalan-jalan berdua!" Haechan segera menggaet dua sahabatnya yang lain dan membawa mereka pergi, sedangkan Jeno dan Jaemin ditinggalkan di belakang.
"Dasar beruang gendut!" kesal Jeno. Jaemin tertawa.
"Ayo pulang!" ajak Jaemin, Jeno yang melihat senyum manis Jaemin mengangguk.
"Ayo, kita pulang ke apartement kan?" keduanya berjalan beriringan keluar gedung, dengan tas Jaemin dibawa oleh Jeno.
"Tentu saja!" jawab Jaemin semangat, dia sudah dua hari tak bersama suaminya, dan dia rindu. Terlebih untuk urusan ranjang.
"Jeno"
"Hm?" saat ini keduanya sudah berada di mobil dan dalam perjalan ke apartement.
"Apa sayang?" tanya Jeno saat tak ada sahutan dari istrinya. Saat lampu merah dia menoleh ke arah istrinya yang kini wajahnya merah sempurna.
"Ayo melakukan... itu... malam ini" lirihnya. Jeno yang tak mendengarkan jelas mendekatnya tubuhnya.
"Kau bilang apa?" Jaemin memalingkan wajahnya.
"Emm... ayo bercinta malam ini" lirih Jaemin, namun Jeno bisa menangkapnya dengan jelas. Dia cukup terkejut mendengar istrinya yang mengajaknya duluan.
"Kau yakin?" Jaemin mengangguk.
"Baiklah, siapkan dirimu malam ini sayangku~" Jaemin bisa merasakan bagaimana pipinya memanas karena malu. Jeno terkekeh gemas dan dia mencium Jaemin sekilas, lalu kembali melihat ke depan dan lampu berubah warna.
.
.
"Mari nikmati seharian ini di kasur sayangku~"
.
.
.
-tbc-
*yang ini pendek, bener-bener pendek wkwkwkw
*vote dan komennya yaw~
KAMU SEDANG MEMBACA
[NOMIN] Their Mask
FanfictionDua anak yang hidup sebatang kara bersama, hanya bisa bergantung satu sama lain. Tumbuh dari sepasang teman hidup, menjadi sahabat sehidup semati, lalu sepasang kekasih, hingga suami-'istri' di usia muda, 19 tahun. Kisah hidup mereka yang keras memb...
![[NOMIN] Their Mask](https://img.wattpad.com/cover/235719672-64-k573720.jpg)