"Saya gak suka sama bapak, saya gak cinta sama bapak. Saya terpaksa menerima lamaran bapak satu bulan yang lalu. Terserah bapak mau bilang saya egois, gila, terserah yang terpenting sekarang saya mau bapak pergi dari kehidupan saya!!!" ucap Tyana dengan nafas memburu, air matanya terus mengalir tanpa henti.
"Mak-maksud ka-kamu?" tanya Azfar hati hati. Azfar terkejut? Dia amat sangat terkejut mendengarnya. Bahkan hampir tak percaya.
Tangis Tyana pecah saat mengingat semua kebenaran yang ada. Bukan, bukan karena ia tak cinta pada Azfar, bahkan dia sangat mencintai laki laki dihadapanya sekarang.
Hati Azfar seakan upteriris, ada rasa sakit yang sama dengan yang Tyana rasakan. Terlebih ini merupakan masalah terbesar pertama yang dihadapi Tyana.
Seumur hidupnya Tyana selalu menjadi anak yang ceria dan merasa menjadi anak paling beruntung karena memiliki Ayah dan Bunda yang luar biasa baik juga sayang padanya. Tanpa mengetahui masa lalu mereka seperti apa.
"Saya gak peduli soal."
"Stop pak, saya mohon bapak hargai keputusan saya. Maafin saya pak, saya pamit. Assalamualaikum."
Setelah itu Tyana meninggalkan laki laki yang ia sayangi dengan segala luka yang telah ditorehkan Tyana pada Azfar.
Keduanya merasakan rasa kecewa yang sama. Terlebih semuanya gagal dan hancur bukan karena Tyana tak cinta tapi karena keegoisan Tyana yang kurang dewasa menghadapi masalah.
Flashback on
Pagi buta Tyana bangun hendak mengambil air minum karena kehausan. Dilihatnya jam dingding yang terpajang diatas tv ruang tengah menunjukan pukul 03.45.
Tyana berjalan menuju dapur dengan mata masih terpejam. Saat sedang ngantuk seperti ini bisa bisanya tenggorokannya meminta diberi air.
Setelah berhasil meminum air putih segelas Tyana berniat untuk tidur kembali namun langkahnya terhenti saat mendengar suara sang Ayah dan Bunda yang sedang berbincang. Mereka berdua memang sudah pulang dua hari yang lalu.
Karena dasar sifat Tyana yang kepo itu akhirnya memutuskan untuk menguping sebentar ingin mengetahui topik pembicaraannya saja setelah itu dia akan masuk kamar lagi seperti biasanya.
"Yah, cepat atau lambat Tyana memang harus tau kebenaranya." ucap Bunda lirih.
"Ayah tau Bun, tapi Ayah gak tega bilangnya. Ini semua memang salah kita. Tyana gak salah disini." jawab Ayah frustasi.
Tyana menyerit heran apa maksud dari pembicaraan Ayah dan Bundanya yang terlihat semakin serius. Dan semua itu tak lepas dari namanya yang semakin membuat Tyana penasaran.
"Kita sudah belajar agama cukup lama, dan kita tau hukum hukum pernikahan itu seperti apa." ucap Bunda berusaha menenangkan Ayah.
"Yah, kita semua gak mau kan kalo kita ikut berdosa karena keegoisan Ayah yang gak mau mengakui semuanya?" tanya Bunda lembut seraya mengusap bahu sang Suami.
"Bunda tau, kalo aja pernikahan kita dulu gak ditentang. Mungkin kejadianya gak akan seperti ini." lirih bunda.
"Jadi Ayah harus berbicara jujur pada Tyana sebelum dia menikah, kalo Tyana bukan anak Ayah tapi anak kamu sama Alm Farhan gitu?!." tanya Ayah sedikit emosi. "Bunda tau Ayah sayang banget sama Tyana bahkan melebihi sayang Ayah sama Saka yang jelas darah daging Ayah sendiri." lirihnya.
Degh.
Ucapan Ayah barusan membuat Tyana mematung. Rasanya begitu sesak hingga akhirnya Tyana memberanikan diri untuk masuk kedalam kamar orang tuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Maaf siapa ya? [END] ✓
HumorBagaimana rasanya mempunyai keluarga yang absurd dan tiba tiba didatangkan pasangan yang absurd juga? Penasaran baca ajadeh wkwk. Ini bukan cerita humor yang bisa bikin lo ketawa ngakak guling guling. Jangan terlalu berekspetasi tinggi nanti kalo...
![Maaf siapa ya? [END] ✓](https://img.wattpad.com/cover/236807169-64-k868059.jpg)