Sampai di cafe Tyana langsung menuju ruang Leana karena menurut pemberitahuan Burung Dara, Bosnya sedang diruangannya.
"Minuman keras miras! Takita kita hoekk" teriak Tyana saat dirinya sudah masuk kedalam ruangan Lea.
"Apaan si lo jijik, kebiasaan banget nyanyi nyanyi gajelas." sarkas Leana.
"Bos gausah munafik deh. Gue tau suara gue bagus kok." ujarnya percaya diri. Membuat Lea bergidik jijik.
"Kenapa lo dateng ke cafe gue, mau minta makan lagi hah?" tanya Lea malas.
"Engga yah kali ini gue bakal bayar secara baru aja gue dikasih duit sama tetangga tetangga yang jenguk gue sakit." jawab Tyana sambil memamerkan beberapa lembar uang seratus ribuan.
"Najis lo, sakit juga lo duitin dasar anak konda."
"Gue anak konda lo ibu konda. Udahlah diem bos sekarang kok lo jadi doyan nyinyir sih?" tanya Tyana heran apa mungkin Lea terinfeksi virus nyinyir Azfar.
"Mulut mulut gue repot banget si lo. Btw lo naek apa kesini huh?"
"Naek si Ariana." jawab Tyana sambil mengotak ngatik handphonenya disofa milik Leana.
"Si Ariana? Bukanya kaki lo masih sakit kok bisa naek motor sih?" lea berdecak sebal, bisa bisanya dedemit satu ini naik motor padahal baru saja beberapa jam yang lalu keluar dari rumah sakit.
"Lagian kenapa sih orang orang lebay banget. Gue tuh sehat woy. Lagi gue bete tau dari kemaren cuma rebahan dikasur rs, dikata pasien rsj kali ah. Mangkanya hari ini gue ke cafe lu itu buat merefresh tubuh dan otak sebelum besok musti masuk kuliah lagi." terangnya panjang lebar.
"Serah lo deh pusing gue ngomong sama dedemit solokan." cibirnya.
"Yaudah gue numpang tidur bentaran ya, kepala gue jedak jeduk oyy terus."
"Hmm" Lea hanya berdeham lanjut memeriksa laporan pemasukan Cafe.
Setelah beberapa saat Tyana membaringkan tubuhnya diatas sofa milik Lea. Dia kembali terbangun.
"Bos, minta tolong dong." pinta Tyana.
"Apalagi si ty gue sibuk ah." jawabnya geram masih memeriksa laporanya.
"Bentaran doang suruh anak buah lo beliin gue tolak angin, kenya gue masuk angin nih." ujarnya merasa tak enak badan.
"Lo pusing?" Tyana mengangguk.
"Lo mual?" lagi Tyana mengangguk.
"Ty jangan jangan lo ham.." celetuk Lea membuat Tyana melemparkan bantal kearah Lea.
"Gaga akhlak lo bos fitnah gue sembarangan. Pacaran aja belom pernah gimana bisa bikin dedek bayi." semprotnya.
"Hahaha sorry sorry gue becanda kalik ah lo sensi bener." jawabnya masih tertawa terpingkal pingkal.
"Bos tolong dong ih anak buah lo kan banyak suruh beliin gue tolak angin dulu dong, kalo gak diturutin gue gak bakal balik dari sini ya." seringainya membuat Lea mengalah saja.
"Bawel emang si curut." ujar Lea lalu keluar memanggil karyawannya.
...
"Mas, saya mau tanya. Tyana barusan kesini kan kok gak ada?" tanya Azfar.
Oke aku jelaskan maksud dan tujuan Azfar meminjam motor Niko adalah bukan sulap bukan sihir untuk menyusul Tyana. Semua itu dilakukan karena merasa khawatir.
Kemaren saja jatoh depan komplek. Kalo sampai terjadi lagi dahlah Azfar pusing. Tapi buat apa dia pusing memangnya Tyana siapanya dia?.
"Oh ada mas, tadi mbak Tyty masuk ke ruangan Bos Lea." Jawab Raga.
Bukan hal yang aneh jika semua karyawan cafe Lea mengenal Tyana. Ya gimana gak kenal Tyana pernah naik panggung khusus hiburan band akustik alaala gitu yang ada dicafe Lea. Terus dia memperkenalkan diri deh didepan semua karyawan Lea.
"Aga Vino kemana?" tanya Lea sambil menghampiri Raga dikasir.
"Mas Vino didepan kayaknya bos, kenapa bos?" tanya balik Raga.
"Bilangin Vino beliin si Tyana Tolak angin didepan terus tar anterin keruangan saya." perintah Lea.
"Biar saya aja yang beli." Lea dan Aga saling menatap heran.
"Bapak ini, ohh iya saya inget bapak dosennya Tyana ya?" tanya Lea pada Azfar.
"Iya, biar saya yang beli obatnya buat Tyana." ucapnya lalu berlalu keluar.
"Yaudah lah bodo amat." ujar Lea acuh lalu kembali masuk kedalam ruanganya.
...
"Bos kok anak buah lo lama banget si, beli tolak angin kedepan doangan juga kayak beli tiket umroh aja." gerutunya.
"Ck sabar elah, udah nyuruh bawel pula lo!" Leana berdecak sebal. Temannya yang satu ini tak berhenti bicara padahal sudah jelas Lea sedang menyelesaikan pekerjaannya. Tyana tetap saja menggangu.
Tok tok tok
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, masuk aja Vin." jawab Tyana. Selang beberapa detik berdirilah seorang pria diambang pintu menenteng sekeresek belanjaanya.
"Eh loh kok bapak? Bapak mau ngapain disini?" tanya Tyana kaget.
"Nih." Azfar menyodorkan keresek yang semula ada ditangannya pada Tyana. Lea yang melihatnya hanya terkikik geli. Pasalnya rencananya mengerjai temannya yang konyol itu berhasil.
Tyana mengambil keresek yang ada ditangan Azfar ragu. Saat dibuka Tyana membulatkan mata. Disana terdapat satu kardus kecil Tolak angin, roti sandwich dan sebotol air mineral.
"Ini buat saya pak?" tanya Tyana memastikan. Azfar hanya mengangguk singkat mengiyakan.
"Kok, Bos bukanya lo bilang si vino yang beliin gue tolak angin?" Tyana menatap Lea meminta penjelasan.
"Emang gue suruh Vino, cuma bapak dosen yang baik hati itu minta dia aja yang beli yaudah sih bawel banget lo." jawab Lea santai.
"Makasi pak, maaf jadi merepotkan tapi ini Tolak angin sekardus gini buat apa? Bapak mau bikin saya mabok?"
'Astagfirullah ni orang gak bisa apa berfikiran positif sama orang' batin Azfar.
"Iya biar kamu ngefly." jawabnya santai.
"Gila Bos dia mau bunuh gue secara perlahan ck ck ck." Tyana menggeleng gelengkan kepala.
"Sudahlah cepat minum obatnya. Setelah itu saya antar pulang!" perintah Azfar membuat Lea melotot tak percaya.
"Hey bapak jangan ngatur ngatur saya ya! Lagian saya bawa motor gak perlu dianter anterin segala emang gue anak paud. Gak sudi juga gue dibonceng sama om om." sarkas Tyana.
"Saya juga tau kamu bawa motor. Lagian siapa juga yang mau bonceng kamu. Saya bukan Om om ya Tyana, umur saya baru 25 tahun." jelas Azfar, tyana hanya mengedikan bahu acuh lalu segera meminum tolak anginya.
"Ayo cepat saya antar pulang kamu! Saya ikutin kamu dari belakang takut takut kamu jatoh lagi." ucapnya lagi.
"ck, bawel banget sih pak, iya ayo buruan balik. Gue berasa anak paud disuru buru buru balik bapaknya tau ga." Ujar Tyana kesal.
"Saya tunggu diparkiran!" ujarnya lalu berlalu keluar.
"Hey hey lo ada hubungan apa sama dosen lo? Wah gila jangan jangan lo jadi ayam!"
"Ayam goreng upin ipin maksut lo, tu mulut ya makin sini makin julid aja lo." potong Tyana.
"Abis dosen tadi perhatian banget sama lo anjir. Demi apa lo gada hubungan apa apa?" selidi Lea.
"Demi cafe lo bangkrut!" ucapnya asal lalu pergi meninggalkan Leana yang marah.
"Bangsadd Tyana gilaa. Lo nyumpahin cafe gue bangkrut resign gue jadi temen lo." teriak Lea yang masih didengar Tyana.
Tyana yang mendengar itu hanya terkiki geli. 1-1 sama tadi Lea mengerjainya sekarang sebaliknya.
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Maaf siapa ya? [END] ✓
HumorBagaimana rasanya mempunyai keluarga yang absurd dan tiba tiba didatangkan pasangan yang absurd juga? Penasaran baca ajadeh wkwk. Ini bukan cerita humor yang bisa bikin lo ketawa ngakak guling guling. Jangan terlalu berekspetasi tinggi nanti kalo...
![Maaf siapa ya? [END] ✓](https://img.wattpad.com/cover/236807169-64-k868059.jpg)