<Happy reading!!! Jangan lupa vote dan comentnya, gaboleh pelit-pelit loh dosa xixi>
☆☆☆
Drttt.. Drttt... (anggap aja suara dering ponsel ya)
Mentari terbangun dini hari karena mendengar suara ponselnya yang berdering terus-menerus. Dia bangkit dari tempat tidur dengan berjalan semboyongan menuju meja belajar mengambil ponselnya.
Sesekali mengucek matanya dan melirik jam dinding di kamar tidurnya, jam 02.03 ,siapa coba yang menelponnya di tengah malam seperti ini, kurang kerjaan banget.
Mentari melihat nomor yang tak di kenal. Menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel ditelinganya.
'hallo' Mentari bersuara serak khas orang baru bangun tidur.
Tak ada suara di seberang sana, Mentari melirik teleponnya melihat sambungannya masih terhubung. Tapi kenapa tidak ada yang menjawabnya.
'Hallo ini siapa ya' Mentari kembali bertanya dengan nada jengkelnya.
'Jauhin Rangga, atau lo gue siksa!!'
Mentari menjauhi ponselnya seraya mendengar suara kekehan di sebrang sana.
'Siapa lo hah' Mentari menjawab dengan meninggikan suaranya berusaha memberanikan diri.
'berani lo hah!!' Bentak orang tersebut.
PRANGGG!!
"AAAA!!" Teriakan Mentari mengema mengisi seisi ruangan kamarnya,ia kaget.
Suara bentakan wanita itu terdengar cukup keras dan secara bersamaan jendela kamar Mentari pecah akibat lemparan batu yang cukup kuat. Karna itu dia berteriak kaget. Sekaligus takut orang yang menelponnya saat ini ada di sekitaran rumahnya.
'Sekali lo bantah, lo bakalan musnah!'
Ti
Samar-samar Mentari mendengar ancaman terakhir dari wanita itu, sebelum mematikan telponnya secara sepihak. Mentari berjalan mengecek jendela kamarnya, berjalan perlahan menghindari setiap pecahan beling yang berserakan dilantai kamar.
Melirik ke arah luar, seseorang berjaket hitam dengan menutup kepalanya serta topi hitam yang dikenakannya , seseorang itu berusaha meleset keluar dari gerbang belakang rumahnya dengan berlari pelan.
Mentari tidak salah liat, itu memang seseorang yang berusaha menyelinap ke rumahnya, apakah dia orang yang sama yang menelponnya tadi?
"Gebii!!, nakk! " teriakan mamanya dari arah pintu kamar membuyarkan lamunan Mentari dari arah jendela.
"Dek buka pintunya, cepatt!! " itu pasti suara Gavin kakaknya.
Mentari berjalan perlahan membuka pintu kamarnya.
Ceklek (pintu kamar terbuka )
Mamanya Mentari langsung mengecek Mentari yang hanya berdiam diri mengingat kejadian yang barusan terjadi. Dan menjadi pertanyaan untuknya sekarang. Siapa seseorang tadi? Kenapa dia mengancamnya untuk menjauhi Rangga? Dan kenapa kejadian barusan mengingatkannya pada Rangga.
"Astaghfirullah Gebii" teriak mamanya seraya memeriksa keadaan kamarnya Mentari yang berantakan, beberapa buku pelajaran jatuh ,dan banyak beling-beling yang berserakan.
Gavin langsung menyerbu masuk dan memeriksa seluruh sudut ruangan kamarnya Mentari, entah apa yang dia lihat, mungkin dia hanya memeriksa apa yang telah terjadi barusan.
"Mama dengar kamu teriak nak, kenapa? " tanya mamanya Mentari seraya membawa Mentari duduk disofa kamarnya.
Mentari hanya diam memerhatikan mamanya yang tampak khawatir.
"Gavin tolong ambilkan minum untuk adikmu"
"Iyaa ma" jawab Gavin langsung keluar kamar dan turun ke dapur.
"Gebii? " panggil mamanya.
"Gebi gak apa-apa ma" ucap Mentari berusaha meyakinkan mamanya itu.
Gavin kembali ke kamar Mentari dengan membawa minum ditangannya .
"Nih minum dulu" ujar Gavin seraya memberikan minum kepada Mentari yang langsung disambut hangat oleh Mentari.
"Kenapa kamarnya berantakan gini "? Tanya Gavin kakaknya itu.
Mamanya Mentari terus-terusan mengelus puncak kepala Mentari.
"Gak apa-apa bang" jawab Mentari lagii.
"Terus jendelanya kenapa pecah? " tanya Gavin tak mau basa-basi.
"Kucing berantem dibalkon terus loncat kebawah, jadi kaca jendelanya pecah deh, iya gitu" jawab Mentari kikuk seraya mencari alasan. tak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya terjadi. Dia tak mau membuat mama dan kakaknya khawatir.
"Terus hubungannya apa? " tanya Gavin menatap Mentari curiga, jawaban macam apa itu. Tidak masuk akal.
"Ya gituu, mungkin aja kena jendela" jawab Mentari berusaha terlihat santai.
"Bener? " tanya Gavin memastikan.
"Iya bang, Astaghfirullah" jawab Mentari.
"Lo manggil gue berubah-ubah,kadang bang kadang kak, jangan-jangan bunglon lo?" Tanya Gavin berusaha mencairkan suasana.
"Gavinnn" tegur mamanya.
"Hehe becanda ma" ucap Gavim cengengesan.
"Serah dong, mulut-mulut gue wlee" jawab Mentari mengejek .
"Gak konsisten banget sih"
"Bomatt"
"Sudah-sudah, biar mama panggil bibi buat bersihin kamarnya ya" ucap mamanya Mentari seraya bangkit dan keluar kamar.
Gavin masih menatap Mentari dengan intens, menaruh curiga pada adiknya ini. Seperti ada yang disembunyikan olehnya itu.
Mentari yang merasa diperhatikan,memukul paha kakaknya pelan seraya terkekeh pelan.
"Apasih,gue emang cantik kali bang, gak usah ditatap gitu" Mentari tertawa pelan menutupi kecurigaan kakaknya terhadap Dirinya.
"Mendadak gue mual" ucap Gavin tertawa.
"Awas ya kalau bohong" ujar Gavin menoel pipi Mentari pelan
"Ishh, abang! " teriak Mentari. menjauhkan tangannya kakaknya itu.
"Ayok turun" jawab Gavin menarik Mentari keluar kamar.
Mentari ikut saja karena sudah ada bibi nya yang sedang membersihkan pecahan beling dikamarnya .
☆☆☆
Segini aja dulu,jangan lupa tinggalkan jejak Votecomentnya!!
Votecomentnya ya!.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE 21 DAY
Novela JuvenilSUDAH TERBIT DAN TERSEDIA DI TOKO BUKU ONLINE. Happy shopping & Reading Enjoy your day guys<3 ❗❗FOLLOW DULU SEBELUM BACA YA TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA VOTE AND KOMENTNYA❗❗ Blurb: Namanya Mentari Gebri Crosthrel, gadis cengeng yang begitu ceroboh, b...
