PART 49 ( WHAT SHOULD I DO?)

1K 78 16
                                        

"Akhirnya, kamu ngangkat telfon mami sayang"
"Maaf sebelumnya, ini dengan siapa ya?"
"Ini mami.. Mami Shaloom sayang"
Terdengar seperti suara yang bergetar dan menahan isak tangis
"Maaf mi, Ara baru ngecheck hp hari ini, beberapa hari yang lalu Ara keluar negeri dan ga bawa hp mi. Maaf sekali lagi mi"
"Tolong mami..."
"Loh mami kenapa?!"
"Devino... Mami gatau apa yang terjadi sama Devino... Tolong mami sayang, tolong mami.."
Ara tidak langsung menjawab permintaan Shaloom
"Halo.. Ara? Sayang? Masih disana? Tolong mami sayang... Tolong"
Prangg
"Dev! Devino sayang! Mami disini sayang! Tolong buka pintunya!"
"Halo mi. Aku kesana sekarang mi"
Ara memutus sambungan telfon.

Pagi yang cerah berubah menjadi pagi yang rusuh. Tiba tiba pagi ini, Ara mendapatkan telfon dari Shaloom disertai suara suara seperti benda yang pecah di sana membuat Ara mengesampingkan ego yang dimilikinya sekarang.

"No! Buat apa kamu kesana!? Dia udah nyakitin kamu! Kamu ga usah nolong dia!"
Suara lantang Leo menggema di lantai bawah.
"Kak, aku kesana karena mami shaloom. Bukan karena Dev. Tolong izinin aku buat kesana. Pa.. Bolehkan Ara kesana?"
Ara harap harap cemas melihat papanya. Dari tadi hanya Leo dan Ara yang bersitegang. Sementara Ian hanya diam tidak menanggapi apapun.

"Biar papa yang anter ya sayang"
"Pa!"
"Udah Leo, kamu percayain Ara sama papa"
Ara langsung menarik papanya keluar dari rumah.

15 menit berlalu dan kini Ara dan Bryan telah sampai di kediaman Greyson. Ara dan Bryan langsung disambut dengan Shaloom yang menangis tersedu sedu dan membawa Ara serta Bryan kedepam pintu kamar Devino.

Ara memeluk Shaloom erat, menyalurkan ketenangan agar Shaloom bisa sedikit tenang.
"Aku coba ngetuk pintu kamar Dev dulu ya mi, siapa tau Dev mau bukain pintunya"

Knock knock knock
"AKU MAU SENDIRI MI! JANGAN GANGGU AKU!" Teriak Dev di dalam sana.

Prang
Suara benda seperti kaca berjatuhan membuat Shaloom semakin menangis dibuatnya
"Dev ini aku Ara... Dev buka pintunya!"

Suara kaca berjatuhan itu berhenti tapi pintu masih enggan terbuka.
"pa, tolong dobrakin pintunya yaa? Ara takut Dev kenapa kenapa"

Bryan beberapa kali mencoba mendobrak pintu yang akhirnya terbuka. Pecahan kaca berserakan di lantai kamar Dev. Shaloom kembali menangis melihat anaknya seperti ini lagi. Dev masih belum menghentikan dirinya untuk menghancurkan kamarnya sendiri.
"DEV! CUKUP!"

Ara berteriak dan membuat Dev menoleh ke arah pintu. Wanita yang  beberapa hari ini terus menerus ada dalam pikirannya dan membuatnya ketakutan setengah mati jika dia akan pergi dan tidak akan kembali sekarang ada di rumahnya.

Dev masih mematung. Berfikir jika ini hanyalah halusinasi yang ia ciptakan sendiri. Ara berjalan kearah Dev dengan hati hati agar tidak menginjak pecahan kaca. Mengambil gelas yang akan dipecahkan dari genggaman Dev. Membuat Dev menyadari bahwa ini bukan sekedar halusinasi ini sebuah kenyataan.

Dev yang mulai terkulai lemas dan akan duduk langsung ditahan oleh Ara dan dibawa agar duduk di kasur. Ini kali kedua Ara melihat Dev menangis. Ara sungguh tak tega melihatnya. Ara membawa Dev kepelukannya, menyalurkan kehangatan dan ketenangan.

"Baby... Baby.. I'm sorry... I'm really sorry... Please don't leave me"
Dev mengulang terus perkataan itu. Sedangkan Ara hanya diam sembari mengelus punggungnya. Entahlah, Ara pun tak tahu apa yang harus ia katakan.

Setelah agak tenang, Ara mulai melonggarkan pelukannya. Tapi Dev malah mengeratkan pelukannya pada Ara.
"Please... Please... Don't leave me... I'm so sorry"
"Lepasin dulu Dev, aku mau ngambil kotak P3K. Liat tangan kamu berdarah"
Dev menggeleng keras dan mulai meracau lagi.

Shaloom memasuki kamar Dev dan merasa lebih tenang ketika Ara memeluk anaknya.
"Dev, lepasin dulu sayang... Ara mau ngobatin kamu dulu"
"Aku bilang engga ya engga!"
"Dev!! Jangan bentak mami!" Kini Ara yang berbicara.
"Lepasin pelukannya atau aku yang ngelepas paksa dan aku pulang sama papa!"

Dev masih menggeleng
"DEV!"
Dev tidak bergeming sama sekali malahan makin memeluk Ara dengan sangat erat.
"Devino sayang.... Liat Ara, jangan erat erat ya meluknya nanti Ara nya kesakitan"
Akhirnya Dev mau melonggarkan sedikit pelukannya.
"Ara gapapakan tunggu disini? Mami mau panggil dokter dulu ya"
"Iya gapapa mi"

Setelah memberikan beberapa pengertian kepada Dev akhirnya Dev mau berbaring dengan tangan yang masih erat memegang tangan Ara. 15 menit kemudian dokter baru datang.
"Saya membersihkan luka di tangannya dulu ya"

Setelah dokter tadi membersihkan luka, lalu memeriksa Dev dan memberikan beberapa obat untuk Dev. Shaloom datang dengan membawa bubur.
"Sayang.. Makan dulu ya, abis itu minum obat terus istirahat ya"
Akhirnya Dev mau makan bubur dan minum obat.
"By.. Jangan pergi yaa" setelah beberapa menit kemudian entah efek obat atau memang Dev yang terlalu lelah membuatnya tertidur.

Ara keluar dari kamar Dev dan menghampiri Shaloom serta Bryan di ruang tamu.
"Sayang... Makasih banyak yaa. Maaf mami ngerepotin kamu terus"
"Gapapa mi... Maaf ya mi aku baru ngangkat telfon mami hari ini"
"Oh iya, sayang kamu udah sarapan?"
Ara hanya tersenyum, tidak tega untuk menjawab.

"Aduh sayang maafin mami... Ayo sekarang ikut ke meja makan. Ayo Bryan sarapan dulu"

Di perjalanan pulang, Ara hanya melamun. Ada perasaan tidak tega melihat Shaloom yang kerepotan mengurus Dev dan keadaan Dev yang sedikit banyaknya membuat ia khawatir.
"Baby nya papa kenapa hmm?"
Ara menggeleng dan tersenyum seakan berbicara bahwa ia baik baik saja.
"Papa tau Ara pasti lagi bingung kan? Kenapa ga minta Vino buat jelasin semuanya ajaa? Papa yakin Vino ngelakuin itu semua karena ada alasannya dan papa juga yakin dia ga ada maksud buat sakitin hati anak kesayang papa... Tapi... Kalaupun kamu gamau dengerin penjelasan Vino, papa tetep akan dukung kamu sayang..."
Ara memeluk Bryan dan mengeluarkan tangisannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa chap ini bakal tamat hehe maaf ya kalo ini ga ada feel nya lagi. Aku bingung banget sebenernya mau nerusin ini atau engga:( soalnya kaya udh gaada feel nya gitu loh

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 14, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

My Protective FamilyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang