"Kamu yakin ga mau ditemenin kakak atau papa?"
Dari tadi pagi, Ara mencoba meyakinkan 2 pria itu untuk percaya padanya. Agar meninggalkan Ara di rumah bersama pengawal dan pegawai di rumah.
Sebenarnya Ara juga ingin kakak atau papanya bisa menemaninya. Tapi meeting kali ini membuat Ara tidak boleh egois.
Davenya pun sama. Dev baru saja berangkat ke Paris tadi jam 5. Itu juga paksaan dari Ara. Karena Ara tahu sedang ada masalah perusahaan Dev di Paris.
Tidak mungkinkan Ara harus menahan Ian untuk tidak sekolah demi menemaninya?. Sebenarnya Ian juga pasti akan lebih memilih kakak nya dibanding sekolah. Tapi Ara tidak mau Ian meninggalkan sekolahnya.
Ara lagi lagi menggeleng.
"Baby, papa agak khawatir kalo ninggalin kamu disini sendiri"
"Aku udah biasa pa, semuanya bakal baik baik aja"
"Yaudah biar kakak aja ya yang nemenin kamu ya by?"
"Gausah kak, lagian meeting kali ini penting kan? Ara bakal baik baik aja"
Bryan dan Leo sama sama menghela nafas. Entah kenapa hari ini terasa lebih berat untuk meninggalkan Ara di rumah sendirian.
Leo memeluk Ara dan terakhir Bryan memeluk Ara sangat erat.
"You have to promise that you'll be okay baby girl"
"I'll be okay pa"
Setelah Bryan dan Leo pergi. Ara tertidur hingga pukul 10.
Duk duk duk duk
Ara menggeliat karena merasa terusik
Sebenarnya itu suara apa sih? Ko rame banget!?
Ara turun dari tempat tidurnya. Baru saja jalan beberapa langkah.
Brak
Ara terkejut melihat ada seseorang yang tidak dikenalnya sama sekali mendobrak pintu kamarnya.
Orang itu terus menerus mendekat. Ara tidak bisa kabur.
"Tolong... Jangan... Jangan"
Orang itu menarik paksa tangan Ara. Ara terus saja berontak.
"Lepasin!! Ara ga mau!!! Lepasin!!"
Orang itu melepaskan tangan Ara. Sialnya Ara tidak siap dan malah terjengkang kebelakang. Kepala belakangnya membentur lemari kecil. Menyisakan bercak darah.
Di sisi lain...
Bryan sejak tadi tidak bisa fokus. Fikirannya selalu mengingat Ara. Leo pun tidak berbeda jauh.
Knock knock
Tidak biasanya setelah ketukan pintu orang diluar langsung masuk. Apalagi sekarang sedang ada meeting.
"Sir, maaf.."
Ash terlihat sangat kacau. Tanpa pikir panjang Bryan langsung keluar ruangan diikuti Leo.
Bryan dan Leo sangat marah setelah melihat keadaan kamar Ara. Ditambah ada bercak darah di lemari kecil itu membuat Bryan maupun Leo semakin murka.
"Ash, jemput Ian sekarang!"
Ash langsung pergi untuk menemui Ian.
Knock knock
"Maaf pak, saya izin untuk membawa pulang Ian"
Ian menoleh. Kekhawatirannya bertambah saat melihat Ash.
"Maaf tuan, Nona.."
"DON'T SAY IT!"
Ian berteriak. Tidak peduli itu dikelas. Bahkan ia tidak peduli saat semua orang menatap takut pada Ian.
"Tapi tuan, nona Ara..."
"DON'T YOU DARE TO SAY IT ASH!"
Ian meninggalkan kelasnya.
Aww shh
Ara mulai sadar. Dia dalam keadaan terikat. Dengan mulut terlakban.
Matanya melihat orang yang tadi membawanya di kaca spion.
"Akhirnya kau bangun juga anak manis"
Ara menatap takut orang itu. Mulai menangis.
"Siapa yang suruh kamu nangis?!"
Ara memberhentikan tangisnya. Tapi masih saja air matanya mengalir.
Maafin Ara pa, Ara gabisa nepatin janji Ara..
