Part 32 (Clarity)

3.1K 189 6
                                        

"Le, yakin ga akan stay aja di Jakarta?"

"Ga bisa Ara sayang, gue ada kerjaan di Jepang. Nanti gue secepetnya pulang. Lagian nih ya inituh zaman modern. Ada vid call Ara!"

Ara hanya mengangguk diantara pelukan ini.

"Yaudah, safe flight Le, cepetan pulang ya"

Alea mengangguk dan langsung pergi. Begitupun Ara. Ara datang kesini hanya dengan Bodyguard. Kenapa bisa? Karena Ara berjanji tidak akan jauh jauh dari bodyguard nya.

Meski sebenarnya berat bagi Bryan untuk melepas Ara sendiri. Tapi Bryan sendiri punya masalah yang penting.

"Kak Ash, Ara mau ke makam mama. Anterin ya"

"Maaf nona, saya sudah berjanji pada tuan untuk segera pulang setelah mengatar non Alea"

"Huftt.. Yaudah Ara mau telfon papa dulu"

"Halo pa, boleh ga Ara ke..."

"No baby, kamu harus pulang langsung"

"Tapi Ara kangen mama. Ara pengen ketemu mama pa"

"Jangan sekarang ya baby, nanti sore papa janji akan nganter kamu. Tapi jangan sekarang alright?"

"Ya udah, gapapa"

"give your phone to Ash baby"

Ara langsung masuk ke mobil. Entah ini terlalu pagi atau Ara yang tidur terlalu malam kemarin.

"Woaahh"

Ara membuka matanya dan terkaget.

"Dev!?"

Dev hanya tersenyum memandang Ara.

"Ko.. Ko.. Ada kamu?"

Dev mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dan membukanya didepan Ara.

"I'm so sorry because i was not going back to your birthday party"

Ara lagi lagi terkejut.

"Kamu suka?"

Ara mengangguk.

"Tapi aku..."

"Udah sini aku pakein"

Ara membiarkan Dev untuk memakaikan kalung itu.

"Dev, apa ini ga berlebihan?"

Ara merasa dirinya tidak pantas memakai itu. Bukan karena merk dan harganya. Tapi masalahnya Dev yang memberi kalung ini.

"Berlebihan apa? Aku cuma ngasih hadiah spesial ke orang yang juga spesial dalam hidup aku"

"Spesial?"

Ara masih bingung dengan perkataan Dev ditambah Ara mengingat ngingat apa yang Lele katakan kemarin soal Dev.

"Iya. Kamu orang spesial dalam hidup aku. Entah kenapa wajah kamu selalu hadir dalam mimpiku setelah kita pertama bertemu. Mengubah semua mimpi buruk yang selalu datang tiap malamnya. Hidupku dulu hanya sebatas pekerjaan tanpa tujuan. Tapi setelah tuhan mempertemukan aku dengan kamu, aku tahu tujuan tuhan melahirkanku kedunia. Tuhan ingin aku menjaga dan menyayangi satu bidadari yang ada didepan mataku sekarang. So, will you be mine?"

Ara yang sedari tadi mendengarkan Dev dengan terus menatap mata Dev mulai mencucurkan air mata.

"Hey, don't cry. Kalo kamu gabisa jawab sekarang gapapa. Aku bisa nunggu kamu sampai kapan pun"

Meski hatinya sakit, Dev memeluk Ara, dan membuat Ara tenang.

Ditengah pelukan itu Ara tiba tiba mengangguk.

"Kenapa?"

"Iya"

"Iya apa?"

Dev melepaskan pelukan untuk melihat Ara.

"Iya Dev!!"

"Iya apa?"

Ara langsung memeluk Dev lagi. Karena Ara malu untuk melihat wajah Dev.

Dev yang melihat itu, tersenyum sangat bahagia. Dan terus mencium pucuk kepala Ara.

"Thanks baby"

Ara hanya mengangguk dan tidak mau melepaskan pelukan itu karena Ara terlalu malu untuk menampilkan wajahnya saat ini.

Tiba tiba Ara menjauhkan badanya.

"Loh kenapa by?"

"Aku kan belom izin sama papa, kak Leo sama Ian"

Dev tertawa melihat Ara sekarang. Wajah Ara sangat menggemaskan.

"Ihh... Dev!! Jangan ngetawain aku!"

"Iya iya sayang aku ga ngetawain kamu"

"Terus gimana?"

"Udah gausah difikirin, ok?"

Ara hanya mengangguk pelan. Mobil terus melaju hingga sampai di kantor Bryan. Kantor papa Ara.

"Loh kok kita kesini? Dev mending pulang aja ya, please"

"Engga bisa sayang"

"Tapi nanti kalo Dev dihajar papa atau kak Leo gimana?"

"Gaakan mungkin sayang. Udah yu turun"

Ara sedari tadi sudah berkeringat. Ara sangat heran kenapa bisa bisanya Dev terlihat sangat tenang. Malah dengan sengaja menggenggam tangan Ara.

Knock knock

"Masuk Le"

"Loh kok ada Ara? Kamu sama siapa kesini by?"

Setelah berada dihadapan Ara, rahang Leo seketika mengeras. Melihat adiknya tengah digenggam lelaki yang bahkan bukan salah satu keluarganya.

"Duduk dulu Leo"

Mata tajam Leo terus diberikan secara terang terangan kepada Dev. Ara sendiri tidak bisa menatap Leo untuk kali ini. Karena dia terlalu takut.

"By duduk disini, sebelah kakak"

Ara menggeleng.

Bryan menepuk pelan pundak Leo.

"Udah, Ara duduk sini sebelah papa aja"

"Udah sayang, aku gaakan kenapa napa"

Ara sebenarnya sangat keberatan untuk pindah tempat. Tapi harus bagaimana lagi?

"Jadi apa yang sebenarnya mau kamu omongin?"

My Protective FamilyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang