Tak terasa sudah 1 bulan Ara melewati check up wajib yang di jadwalkan oleh Dev. Hari ini hari terakhir jadwal check up Ara, namun hari ini Dev tidak bisa mengantar Ara dan berakhir Leo yang mengantar Ara.
"By tunggu dulu disini ya, kakak mau ke toilet sebentar"
Ara mengangguk, sejenak melihat-lihat keadaan sekitar. Tiba tiba ada seorang lelaki yang memberikan amplop coklat dan langsung berlari setelahnya.
To: Adriana Velsya Miller
Ara menyimpan amplop tersebut ke dalam tasnya, karena dia agak merasa takut jika ini surat ancaman atau sesuatu yang berbahaya.
"By? Kenapa kok kaya kaget gitu?"
Ara menerbitkan senyumnya dan berharap Leo tidak bertanya lebih lanjut
"Engga ko kak, Ara laper pengen makan kak"
"Ayo, baby girlnya kakak mau makan dimana?"
"ish kakak! Malu tuh diliatin orang orang!!"
Leo tertawa sembari mengacak pelan rambut adiknya.
"Kakak!!!"
Ara sedikit berteriak karena Leo malah mencubit pipinya.
"Udah dongg, jangan marah byy"
Leo menarik narik tangan Ara, tapi itu saja belum bisa menarik perhatian Ara.
"Yah padahal kakak mau ngajak drive thru mcd"
Ara langsung membalikan badannya, menggandeng tangan Leo dan mulai menyeret Leo agar segera naik ke mobil.
Semangat Ara!! Demi McD!!
Leo mengantarkan Ara ke rumah dan meninggakkannya bersama Ian.
"Kok tumben bang Leo bolehin kakak makan McD?"
"
Dari dulu juga boleh Yan, tapi dibates"
"Itumah sama aja jarang alias tumben kakaku sayang, jadi kenapa kak?"
"Ini hari terakhir kakak check up Yan"
"Yaudah, kakak sekarang istirahat di kamar ya. Nanti Ian nyusul kakak abis makan"
Ara mengangguk dan naik ke atas. Setelah makan tadi rasanya jadi super duper ngantuk. Ara langsung ke kamar mandi dan mengganti bajunya. Menyimpan tas di tempatnya.
Suara hp berdering
"Halo sayang? Gimana kata dokter? Maaf ya aku baru nelpon kamu sekarang"
"Kata dokter ini jadi hari terakhir aku check up. Iya gapapa Dev, kan kamu juga ada meeting"
"Nanti aku ke rumah ya by"
"Tapi jangan sekarang ya Dev, akunya ngantuk"
"Oke by, sleep tight. Love you by"
"Love you too Dev"
Sambungan itu berakhir dan juga Ara yang tertidur.
Hari ini Ara berangkat ke kantor bersama papanya. Dev tidak bisa menjemput Ara karena ada sesuatu yang diurus.
"Kamu kok ngelamun sayang?"
Ara menggeleng dan hanya memberikan senyuman.
"Yaudah kalo ada apa apa kasi tau papa ya. Oh iya, papa mau ke perusahaan temen papa. Jadi abis turun dari mobil langsung ke ruangan Leo ok?"
Ara mengangguk. Entah kenapa setelah pulang dari rumah sakit kemarin Ara merasa ada sesuatu yang tidak biasa pada Dev. Otaknya mencoba untuk mempercayai Dev tapi hatinya seperti mempertanyakan semuanya.
Setelah turun dari mobil, Ara langsung masuk ke kantor Leo. Ruangan Leo berada di lantai 10. Ara menggunakan lift khusus untuk karyawan entah kenapa. Beberapa karyawan pun mulai menyapa dan Ara diam di paling belakang karena dia yang akan terakhir turun.
Setelah sampai di lantai 8, para karyawan keluar dari lift dan menyisakan Ara yang seorang diri. Ara merasa seperti mengeminjak sesuatu. Dan ternyata itu amplop coklat lagi.
To : Adriana Velsya Miller
Lagi?! Bahkan yang sebelumnya pun masih ada di tas yang aku bawa sekarang.
Ting
Ara telah sampai di lantai 10 dan memasukan ampop tersebut ke tasnya.
"Pagi by, udah makan kan?"
"Udah kak, kakak udah makan?"
"Udah by, mau mulai sekarang?"
Pekerjaan Leo dan Ara telah selesai. Ara mempunyai janji untuk makan siang bersama Dev.
"Hati-hati ya by, kalo dia ngapa ngapain kamu langsung telpon kaka ok!?"
Ara tertawa, kadang kakak nya yang satu ini terlalu berlebihan. Ara memeluk Leo dan berjalan ke arah lift. Setelah sampai di Lobby, Ara melihat Dev dan langsung pergi ke mobil.
"Kamu akhir akhir ini sibuk ya Dev?"
"Iya sayang, maaf ya. Setelah ini, aku janji buat ngeluangin waktu sama kamu lebih banyak lagi"
Dev mencium kening Ara.
"Yaudah ke tempat biasa ya?"
Ara mengangguk. Jarak kantor dengan restoran yang biasa mereka kunjungi tidak terlalu jauh. Tempatnya private. Dalam satu ruangan hanya ada meja mereka saja.
Mereka memesan makan dan minuman. Saat sedang makan tidak segaja minuman Ara tersenggol dan mengenai rok, kaki dan sepatunya.
"Ya ampun baby hati hati"
Dev mengambil lap dan memberikan lap tersebut pada Ara untuk mengelao bagian roknya tapi ternyata tetap belum kering seutuhnya, hingga Dev pergi ke luar ruangan untuk mencari tambahan lap.
Ara mencari tissue di tasnya, tapi ternyata hari ini dia lupa bawa tissue. Akhirnya Ara merobek amplop coklat tersebut dan mulai mengelapkan amplop itu ke kakinya.
Setidaknya kakiku tidak akan sebasah tadi
"Loh by? Ko pake kertas? Udah udah sini biar aku yang lapin sepatu kamu"
Drama minuman tumpah telah selesai dan mereka mulai makan kembali dan menunggu rok dan sepatu baru yang akan datang sebentar lagi.
"tunggu sebentar ya by, sekertaris aku bakal dateng sebentar lagi"
"iya sayang gapapa, udah makannya lanjutin lagi"
Dev lagi lagi tersenyum hanya karena Ara memanggilnya sayang.
"Byy, sering sering ya panggil aku sayang. Aku seneng bangett"
Ara terkekeh dan mengangguk. Tak lama kemudian benar saja, sekertaris Dev datang membawa segala perlengkapannya.
Ara pergi ke kamar mandi membawa tote bag berisi pakaian dan juga tasnya. Setelah rapih, saat Ara membuka tasnya ada kertas foto terbalik dan ada sedikit tulisan di belakang foto itu.
Perasaan aku ga bawa foto deh? Oh!! Atau ini isi amplop itu ya...
Ara mengambil tumpukan foto itu dan setelah melihatnya , Ara tanpa sadar menjatuhkan foto tersebut.
Lagi?
Perasaan bahagia Ara mendadak hilang, semuanya terenggut begitu saja. Ara melamun, entahlah rasanya seakan tidak percaya. Namun foto ini dan semua detail kejadian pun ada. Apa lagi yang harus Ia sangkal?.
Apa aku se ga pantes itu buat dapetin cinta dari orang orang yang aku sayang?! Kenapa harus seperti ini lagi Tuhann?! Apa aku harus menangis lagi seperti dulu? Aku bingung harus apa Tuhan.. Tolong
Perlahan Ara mengumpulkan foto foto itu dan kembali ke meja makan.
Dev kaget melihat Ara yang mengeluarkan air mata.
"By, kamu kenapa?! Kamu gapapa kan?! Kamu nangis kenapa by?! By tolong jawab! Aku khawatir by! Tolong jangan kaya gini, bilang sama aku by..."
Ara terdiam sekejap.
"Aku udah selesai makan Dev, aku mau pulang"
Ara beranjak pergi, menyimpan semua foto dan langsung pergi meninggalkan Dev. Dev yang melihat semua foto itu kaget. Ini semua tidak seperti yang Ara fikirkan. Dev berlari dan langsung meraih tangan Ara.
"By, aku bisa jelasin semua itu. Ini semua ga seperti yang kamu fikirkan by!! By tolong kasi aku kesempatan buat ngejelasin itu semya by, tolong!!"
Ara berhenti dan membalikan badannya.
"Lepasin tangan aku Dev! Aku mau pulang!"
"By, tolong kasih aku kesempatan by!"
"Devino cukup! Aku mau pulang"
"Okee, tapi biarin aku anterin kamu. Aku takut kamu kenapa napa by"
