PART 43 (DEV)

1.1K 91 6
                                        

Leo datang ke kamar rawat Ara dengan wajah yang agak sedikit sebal.
"Loh kakak kenapa?"

Ara bingung melihatnya. Perasaan tadi sebelum keluar kamar, kakaknya tersenyum cerah tapi sekaranf datang dengan wajah yang kesal.

"kamu boleh pulang hari ini by" terdapat helaan nafas di akhir yang lagi lagi membuat Ara bingung.

"Kakak kenapa sih?"
Leo menggeleng.
"Kakak ga suka Ara pulang hari ini?"
Leo menggeleng lagi.
"Terus kakak kenapa? Ara jadi bingung tauu"
"Kakak pengen peluk aja deh by"

Leo memeluk Ara sesekali mencium kepala Ara.
"Kakak lagi galau ya?"
"Iya byyy"
"LOH!!!! KOK KAKAK GABILANG KALO UDAH PUNYA PACAR!!??"
"Siapa yang bilang kakak punya pacar?"
"Kakak bilang lagi galau, itu artinya punya pacar kan?!"
"Ishh byy!! Udah ah kakak males ngomonginnya, nanti liat aja sendiri!"

Leo melepaskan pelukannya dan mengambil makanan di nakas lalu menyuapi Ara.

Semuanya telah selesai. Ara dan Leo sudah siap turun ke lobby. Ara kali ini memaksa Leo agar dia tidak perlu menggunakan kursi roda.

Ara membulatkan matanya saat melihat orang yang sangat ia rindukan beberapa hari ini.

"DEV!?"
Diujung sana Devino berdiri dengan senyum yang jarang ia tampilkan dan merentangkan tangannya berharap dia dapat segera memeluk gadisnya.

"No no no, baby kakak udah izinin kamu gapake kursi roda. Gaboleh lari! Inget gaboleh lari!!"

"Hfft. Iya iya kak, Ara ga lari. Tapi jalannya bisa dicepetin ga??"
"BYY"
Suara merajuk yang terdengar sedikit nyaring membuat semua yang sejak tadi menoleh ke arah Dev berbalik menoleh ke arah Leo.

Ara tertawa geli karena dia yakin Leo sekarang sedang malu tapi mana ada seorang Leovin Rivadle menunjukkan sisi malunya dan berubah menjadi muka yang menahan marah.

"Babyy... I miss you, i miss you so bad" Pelukan Dev yang mengerat seakan tidak ingin Ara pergi barang sejengkal. "Lets go baby, lets have some fun"

Di dalam mobil tautan kedua tangan itu tidak pernah terlepas. Ara bersandar pada bahu Dev merasakan kenyamanan yang beberapa hari ini tidak pernah dirasakan Ara.
"Dev, kita mau kemana?"
"Kita akan ke rumah ku. Mami tidak sabar bertemu denganmu by"
Sontak Ara melepaskan tautan itu dan duduknya menjadi tegak kembali.

"Byy tangannya!!!"
"DEV!!" Ara setengah berteriak membuat lelaki di sampingnya bingung.
"kenapa sih by? Siniin tangannya, kok kamu lepas sih?!"
Ini pertama kalinya Ara dikenalkan ke orang tua pacarnya. Yah memang setelah Fian hanya Dev yang mengisi hatinya hingga saat ini.

"Dev aku tak membawa apapun, lihat aku Dev! Aku baru saja keluar dari rumah sakit, aku bahkan tidak berpakaian rapi, aku... Akuu..."
Isakan isakan kecil mulai terdengar dan itu membuat Dev kalang kabut. Dev mulai mendekatkan dirinya dan membawa Ara kepelukannya.

"Shhh.... Sayang coba liat aku sekarang. Kamu ga usah khawatirin itu semua, kamu lebih dari sekedar cantik sayang. Dan kamu juga ga butuh bawa apapun buat mami, mami hanya ingin melihat calon menantunya yang paling ditunggu sejak lama"
"Dev!" Ara memukul pelan lengan kiri Dev dan menghentikan tangisnya.
"Pokonya Aranya Dev jangan nangis lagi kecuali nangis bahagia karena Dev , janji?!" Dev mengeluarkan kelingkingnya untuk perjanjian ini.
"Janji!" Dev mulai membersihkan sisa tangis yang ada di pipi Ara dan mereka berdua telah memasuki pekarangan rumah keluarga Greyson.

"Ayo by, tapi jangan kaget ya by" Dev menggenggam tangan Ara. Ara dibuat bingung dan waswas dengan pernyataan Dev tadi. Apakah mami Dev galak?

Belum juga sempat membuka pintu, pintu sudah terbuka dari dalam dan menampilkan permpuan dengan mata berbinarnya.

"Ya ampun Dev!!! Kamu lama banget sih bawa calon mantu mami! Awas sana sana!!" Mami Dev melepas paksa tautan tangan Dev dengan Ara dan langsung merangkul Ara masuk ke rumah dan meninggalkan Dev sendiri di luar

"Maaf ya sayang, kamu pasti kepanasan ya di luar? Ya ampun Dev tuh gangerti banget sih!" Ara sekarang bernafas lebih lega karena ternyata tidak seburuk apa yang dia fikirkan.
"Engga ko tan ga panas, Dev dan aku juga baru nyampe tan"
"Loh sayang.. Gaboleh manggil tante dong. Panggilnya mami, ok?"
Dev datang denga muka yang sebal. Kedua wanita yang tengah duduk di kursi ruang keluarga langsung menoleh.

"Apa!? Kenapa!? Kamu ga suka mami ngobrol sama calon mantu mami!?" Dev salah membawa Ara kemari. Niatnya ingin berduaan ternyata malah akan dimonopoli oleh mamanya sendiri.
"Hft, terserah. Sayang, aku ke atas dulu ya mau ganti baju gerah. Kalo ada apa apa langsung teriak aja ya"
Devino langsung sedikit berlari agar tidak terkena amukan maminya. Dan benar saja, maminya teriak teriak tidak terima.
"DEVINO!!! JADI MAKSUD KAMU MAMI BAKALAN NGAPA NGAPAIN ARA GITU! AWAS KAMU!"

Ara terkekeh melihat kebersamaan antara Dev dan maminya. Membuatnya seakan teringat kenangan masa lalunya. Saat mamanya membela Ara tiap dijahili Ian dan papanya tiap sarapan, saat Ara mengacau saat mamanya sedang membuat kue yang berakhir tepung dimana mana. Ingatan itu rasanya terputar terus menerus hingga..

"Ara, kamu gapapa sayang? Apa kamu pusing? Atau kamu pengen tiduran?"
"Engga ko mi, Ara gapapa"
"Mami seneng banget sayang, akhirnya anak pertama mami yang dingin itu bisa mulai tersenyum lagi. Mami berhutang banyak padamu sayang. Mami sungguh sungguh bersyukur pada tuhan yang telah mempertemukan kalian berdua" Pandangan Shaloom yang kini sudah terhiasi embun menarik Ara untuk masuk kepelukannya. Sisi keibuan Shaloom membuat Ara yanv sejak tadi menahan tangis akhirnya mengeluarkan air matanya kembali.
"Mami sayang banget sama kamu, walaupun ini kali pertama kita bertemu tapi mami udah sayang banget. Setelah ini kamu gaboleh sungkan sungkan sama mami sayang. Kamu boleh kapanpun datang ke rumah ini, malah mami seneng kalo ada kamu soalnya mami punya temen dan satu lagi yang harus kamu inget mami adalah salah satu mama kamu. Mami pokonya gamau nerima alesan, intinya kamu anak mami titik gapake koma"

Sejenak pelukan yang diiringi tangis tadi berubah menjadi tawa bahagia. Ma, Ara seneng banget hari ini. Ternyata apa yang Ara fikirkan salah. Gapapa kan ma, mami masuk ke dalam daftar ibu yang paling Ara sayang setelah mama dan bunda?

Setelah itu, Ara yang juga menceritakan bagaimana Dev dan dia bertemu. Dan Shaloom mulai menceritakan masa kecil Dev. Memberi tahu hal hal yang memalukan selama masa smp sma Dev.

"Kalian tidak sadar sejak tadi menertawakan cerita cerita masa lalu ku?" Dev kini semakin sebal dengan maminya. Bagaimana bisa dia menceritakan itu semua? Bahkan sejak tadi Dev mendengarkan semuanya tapi tidak ada satupun dari mereka tersadar akan keberadaan Dev.

My Protective FamilyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang