PART 46 (Thanks Pa💛)

1.2K 111 6
                                        

Ara langsung keluar dari mobil tanpa sepatah kata pun dan masuk ke rumah lalu mengunci pintu. Teriakan Dev di rumah itu terdengar, namun Ara terus berjalan menuju kamarnya. Para pembantu di rumah itu pun tidak berani membukakan pintu karena melihat nonanya menangis tanpa suara.

"Den maaf, bukannya bapak ngusir aden. Tapi lebih baik aden pulang dulu ya, biarin non Ara istirahat dulu"
"Saya pulang dulu pak, tolong jagain Ara ya pak, kalo ada apa apa tolong hubungin saya pak"
Dev sebenernya masih tidak rela pergi dari rumah itu, tapi ini memang salahnya sendiri karena sejak awal malah berbohong.

Di dalam kamar, Ara terduduk di belakang pintu kamar dan hanya bisa menangis tanpa mengeluarkan suara. Semuanya terasa dejavu. Suara deringan telpon terdengar, membuat Ara memeriksa ponselnya

Papa is calling

"Sayang, papa mau ke Paris, ada beberapa hal yang harus papa urus disana"
Tidak terdengar jawaban Ara sama sekali. Biasanya jika Bryan pergi maka Ara setidaknya akan merajuk atau bahkan marah karena terlalu mendadak.
"Is everything alright baby?"
Suara papanya yang sangat lembut membuat Ara bisa mengeluarkan suara tangis yang sejak tadi tidak terdengar.
"Papa jemput kamu, kamu dimana sekarang?"
"di rumah"
"Oke tunggu sebentar"
Terdengar suara Bryan yang terburu buru masuk ke dalam mobil dan menyetir dengan cepat, telfon itu tidak terputus dan suara tangis Ara yang menyebabkan Bryan bahkan ugal ugalan di jalan.

25 menit kemudian, Bryan datang dan ternyata sudah ada bibi yang menunggu di depan kamar Ara karena khawatir dengannya.
"Tuan, nona..."
"iya, bibi ke dapur aja. Biar saya yang ngomong sama Ara"
"baik tuan"
Bryan mengetuk pintu kamar Ara.
"Sayang, buka pintunya ya.. Ini papa sayang"
Bryan terus mengetuk pintu kamar Ara, dan terdengar suara kunci pintu yang terbuka.

Bryan segera memeluk dan menenangkan Ara.
" Kenapa baby girl, ada apa?"
Ara terus terusan menggelengkan kepalanya.
"Yaudah ikut papa aja ya ke paris?"
Ara menganggukkan kepalanya tapi masih tetap memeluk papanya.
"mau papa gendong?"
Ara menggeleng lagi.
"Yaudah sini coba liat papa, baby girl nya papa kenapa?? Kalo ada masalah bilang ke papa sayang, jangan nangis terus kaya gini. Udah yah sekarang kita langsung berangkat"
Bryan menghapus sisa tangisan di pipi Ara dan membawa Ara pergi dari rumah.

"Perlengkapan kamu semua nanti kamu beli aja di Paris ya biar gampang"
"Maaf ya pa, Ara selalu bikin papa repot. Dan Ara bikin papa delay 1 jam maaf.."
"Sstt, gaada yang lebih penting dari anak anak papa. Mau cerita sekarang?"
Ara lagi lagi menggeleng
"Yaudah, biar papa yang cari tau sendiri"
"Pa, jangan kasih tau apa apa sama Ian sama kakak ya. Jangan kasi tau juga aku dimana"
"Iya baby girl, udah yah sekarang kamu istirahat. Pasti kamu capek. Nanti papa bangunin kalo udah di bandara"

Nyatanya Bryan tidak membangunkan Ara sama sekali, dan Ara terbangun saat pesawat ini masih mengudara. Ara keluar dari kamar itu dan melihat papanya sedang bekerja.
"Papa ga istirahat?"
"Udah tadi, baby girlnya papa udah baikan?"
"Paa, stop calling me like that. Aku udah gede paa"
"Iya iyaa"
Bryan tersenyum, setidaknya Ara bisa sedikit melupakan kejadian tadi.
"Makan dulu ya sayang? Ini udah sore kamu belom makan loh"
"Ara ga laper paa, ara pengen minum air putih aja"
"Ga kamu harus makan!"
"Ara ga laper paa, nanti deh pas udah sampe Ara janji bakal makan"
"Kita baru 3 jam flight sayang, masih 15 jam lagi. Pokonya kamu harus makan"
"Paa please... Ara bener bener ga laper"
"Ok, tapi kamu harus makan cake yang tadi papa beli di bandara"

Mau tidak mau Ara memakan cake itu. Red velvet cake, Ara suka cake ini semenjak check up nya yang pertama. Dev orang yang memberinya red velvet cake. Ara mulai mengeluarkan air mata lagi, hingga Bryan menyadari ada yang aneh dengan Ara.
"loh sayangnya papa kenapa nangis? Cake nya ga enak ya? Atau kamu sakit perut? Atau..."
Ara langsung memeluk erat papanya mengeluarkan lagi semua tangisnya.
"Apa ara ga berhak bahagia paa?"
"No, baby.. Kamu sangat berhak bahagia. Ga boleh ngomong kaya gitu lagi, papa ga suka"
"Tapi kenapa Dev bohong sama aku pa? Kenapa harus bohong?! Aku takut Dev sama kaya Fian paa"
"Kamu udah dengerin penjelasan vano baby?"
Ara menggelengkan kepalanya.
"Baby, dengerin papa. Vano pasti punya alasan tersendiri kenapa dia bohong. Lagian papa percaya ko, dia tulus sama baby girlnya papa. Ga kaya itu tuh yang tadi kamu sebut sebut"

Ara sejenak tertawa. Bryan senang melihat putrinya bisa tertawa lagi.
"Nanti papa mau ngajak kamu ke suatu tempat"
"Kemana pa??"
"Rahasia dong... Ini harusnya jadi tempat sejarah papa sama mama"
"Ih ko aku ga pernah dikasih tau?!"
"Lagian kamunya ga nanya, terus akhir akhir ini sibuk banget sama Vano. Sama papanya jarang banget makan siang berdua lagi"
"Hihii... Maaf ya papanya akuu. Aku janji deh nanti kita makan siang berdua lagi"

Bryan mengusap kepala Ara pelan.
"yaudah makan lagi ya cake nya?"
"Gamau paa"
"Yaudah mau makan apa?"
"Pengen sandwich, tapi papa yang bikin. yaaa yaaa please!!"
Bryan langsung pergi ke minibar dan di ikuti oleh Ara di belakangnya.

Malam mulai menjelang, Ara serta Bryan masih berada di tempat duduk nya masing-masing. Bryan sibuk dengen pekerjaan nya. Ara sibuk dengan netflix nya.
"Maaf sir mengganggu, tuan Ian kini sedang mengamuk karena tidak mendapatkan informasi apapun tentang anda dan nona"
"Sudah tidak apa Ash, biarkan saja dia mengamuk oh iya tolong beri pesan kepada Ian jangan ganggu liburan ayah dan anak perempuannya, jangan juga membuat kekacauan berlebihan, dan jangan lupa masuk sekolah. Dan jika Ian tidak mau, maka motor kesayangannya akan di tarik kembali"
"Baik sir, kalo begitu saya kembali ke tempat duduk saya sir"

Bryan mengangguk dan Ash akan pergi tapi tiba tiba Ara memanggilnya.
"Kak Ash!!"
"Iya nona, ada yang bisa saya bantu?"
"Jangan kasih tau siapa pun ya kak"
"Baik nona, semua perjalan anda dan sir Bryan tidak akan diketahui siapa pun"
"Mmm, kak boleh minta satu lagi?"
"Tentu nona, apa lagi yang bisa saya bantu"
"Tolong bikinin rencana jalan jalan aku buat besok ya kak, soalnya besok pasti papa sibuk terus aku pasti sendiri"
"Baik nona, ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Udah kak, makasih ya kak"
"Sama sama nona, kalo begitu saya kembali ke tempat duduk saya"

"Besok kamu ditemenin Ash aja ya, jangan sendirian. Papa khawatir"
"Tapi kan harusnya kak Ash sama papa, gapapa nanti aku sama supir aja"
"Udah gapapa sayang, kan besok ada sekertaris papa. Papa cuman mau kamu aman"
Ara mengangguk.
"Paa aku ngantuk"
"Yaudah ayo papa anterin ke kamar"
"Papa ga tidur?"
"Nanti sayang, papa masih ada kerjaan dikit lagi. Udah ya good night baby girl papa"

Bryan merapihkan selimut tak lupa memberikan kecupan selamat tidur untuk putrinya.
"papa jangan malem malem tidurnya, tuhkan papa mah masih pangididbh"
Bryan mengusap ngusap kening Ara dengan sangat pelan.
Ckck padahal udah ngantuk berat tapi tetep aja maksa ngomel. Kan jadi gajelas. Good night baby girlnya papa, love you

Bryan kembali mencium kening putrinya lalu mematikan lampu kamar dan pelan pelan keluar dari kamar itu.

My Protective FamilyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang