Ara terbangun saat mendengar suara berisik. Dan suara itu sangat dikenalinya.
Itu Ian?? Kenapa kaya lagi berantem?"
Baru saja Ara akan turun dari tempat tidur, tapi pintu kamar itu dibuka. Menampakkan seseorang yang terlihat sedikit kacau.
Orang itu langsung memeluk Ara, membuat yang di peluk memeluk lebih erat. Tidak ada yang berbicara, hanya berpelukan dan terjadi isakan isakan kecil.
"Papa.."
"Miss you baby girl"
Kecupan lama di kening Ara, membuat hatinya terasa tenang. Seakan ingatan tentang apa yang terjadi beberapa jam yang lalu hilang begitu saja.
"Kamu tunggu disini ya sayang, papa bawa dokter biar kamu langsung di obatin"
"Tapi.. Jangan lama ya pa"
Bryan mengangguk lalu pergi. Kemudian datang membawa dokter dengan Ian yang mengekor di belakangnya.
"Kakak...."
Ian memeluk kakaknya. Dokter itu juga hanya diam karena terlalu segan jiga mengintrupsi kakak beradik itu.
"Kakak.. Ian.. Ian takut, ian takut kakak kenapa napa, ian marah karena Ian gabisa jagain kakak. Ian gabisa hidup tanpa kakak, Ian kangen kakakk"
Ian menangis tersedu sedu. Ara juga menangis tapi di akhir Ara tersenyum.
"kakak juga kangen Ian"
"Ian, lepasin kakaknya! Itu dokternya mau ngobatin kakak kamu"
"Engga mau! Dia cowok! Nanti modusin kakak pa!!"
Bryan dan dokter tercengang.
"Ian!!!"
Bryan menggeram, ditambah dengan tatapan datar yang menatap Ian.
"Gamau, pokonya gamau!"
"Ian, badan kakak lagi sakit, kalo ga di obatin nanti tambah sakit. Ian mau kakak tambah sakit?"
"Gamauu... Ya udah.. Dia boleh ngobatin kakak tapi Ian tetep disini!"
Dokter itu tersenyum melihat Ian yang sangat protective pada kakaknya.
"Saya obatin dulu ya nona"
"Panggil Ara saja dok"
"Baik"
Dokter itu mulai membersihkan luka luka di tangan dan mulai mengobati luka yang ada di muka dan kepalanya.
"Apa adalagi yang terluka Ara?"
"punggung saya agak perih dok, kayanya kemaren kebentur lemari"
"ENG...."
Baru aja mau bilang ga boleh, tapi Bryan udah melototin Ian. Dan itu bikin Ian meringis. Meskipun sebenarnya kurang ikhlas membiarkan dokter itu mengobati punggung ara, tapi mau bagaimana lagi.
Bryan terpaku melihat luka yang ada di punggung anak perempuannya. Dia menggeram.
Bisa bisanya mereka lakuin itu semua! Awas kalian! Saya akan membalas lebih dari apa yang kalian lakukan ke Ara!"
"Semuanya sudah saya obati, sir. Ini salep dan obat Ara. Untuk ketentuannya saya sudah tuliskan di kertas ini. Saya sarankan agar Ara bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait benturan dikepalanya sir"
"baik, terimakasih dokter"
"Sama sama sir, saya izin pulang semuanya. Lekas sembuh Ara"
Dokter itu pulang dan meninggalkan Bryan, Ian dan Ara di kamar itu.
"Oh iya pa, Keenan kemana ko ga kesini?"
"Tanya saja adik kamu yang nakal itu, dia bikin anak orang nangis baby girl"
Ian cemberut.
Apasih papa, ngapain bilang bilang! Kaya ibu ibu gosip! Nyebelin!
"Kan Ian juga pengen ketemu sama kakak. Salah?"
"Tapi Ian, Keenan itu masih kecil. Kan kasian Keenan"
Ian melepaskan pelukannya dari Ara. Dia kesal!.
"Tau ah, dulu kak Leo! Sekarang Keenan! Besok siapa lagi??!"
Ian berlalu begitu saja dan meninggalkan Bryan dan Ara.
"Udah gapapa, biar papa yang bicara sama Ian"
Ara mengangguk. Sebenarnya ada yang ingin Ara tanyakan. Tapi ara takut jika Bryan akan marah.
"Kenapa baby girl? Hmm"
"Ara... Ara pengen tau soal kemati..."
"Jangan sekarang ya sayang, pasti papa akan jelasin semuanya ke kamu. Tapi bukan sekarang oke?. Sekarang kamu tidur ya, nanti malem kita pulang. Leo titip salam buat baby girlnya"
Sebelum menutup pintu.
"Baby girl, hp kamu papa simpen diatas nakas. Coba telfon Leo dan mungkin Vano?"
Pipi Ara memerah, Bryan malah menertawakannya.
Papaaa Ara maluu.
