"Gimana Do, udah ada perkembangan?"
"Saya masih melacak mobil itu om, takutnya dia ganti mobil"
Ando terus menatap ke layar tanpa memperhatikan keaadaan sekitar.
"SHIT!!"
Dugaan Ando benar. Orang itu berganti mobil di sebuah parkiran Mall. Akan memakan waktu lama untuk mencari mobil itu.
Dev masuk ke ruangan itu.
"Ando, tolong lacakkan no seri ini"
"Kenapa van?"
"Saya baru ingat om, saya pernah memberi Ara kalung dan kalung itu memang ada gpsnya"
Ando mengetik no seri itu.
"KETEMU!"
Sudah 3 Jam dari kejadian. Tapi anehnya kenapa lokasinya ada di tengah laut.
Bryan dan Dev mendekat ke arah Ando. Bingung dan kalut, kenapa bisa lokasinya ada di laut?
Apa jangan jangan...
"Enggak, ini ga mungkin.... Pasti... Pasti dia akan membawa Ara ke negara lain lewat kapal ini. Ando cepat kamu liat tujuan kemana kapal ini pergi!"
"Tolongg... Aku pengen buang air kecil"
Dua orang itu tampak berpikir.
"Tolong aku bener bener gak tahan!!"
"Re! Antar dia ke kamar mandi! Dan KAMU! INGAT KAMU GA AKAN BISA KEMANA MANA!!"
Ara tidak berbohong, dia ingin buang air kecil. Ara terus merapalkan doa doa semoga ada dewi fortuna yang bisa menyelematkan dia.
Jalan menuju ke tempat kamar mandi memang ramai. Karena terburu-buru Renald tidak sengaja menabrak ibu-ibu yang sedang hamil hingga...
Dukk
"Ya ampun sayang... Mas kalo jalan liat liat dong, istri saya sedang hamil!"
Semua tatapan melihat ke arahnya.
"Ibu nya sendiri ga liat liat, udah tau ini jalan lalu lalang masih aja diem disana"
Tatapan tatapan itu berubah menajam akibat omongan pedas renald. Dan membuat renald tidak fokus.
Semua orang mulai mendekati mereka dan membuat cekalan renald pada Ara melonggar.
Ara memanfaatkan keadaan itu. Semakin banyak orang yang mendesak semakin gampang ara keluar dari sana.
Ara berjalan menjauh dari kerumunan itu dan menjauh dari arah datang nya dia. Dia sedikit berlari dan tidak sengaja berpapasan dengan anak kecil dan seorang wanita di sampingnya.
"Tolong, tolong saya saya sedang diculik"
Wanita itu agak takut melihat keadaan Ara karena kepala nya ada bekas darah yang mengering disana.
"Nama saya Adriana Velsya Miller, saya tidak bohong, tolong keluarga saya pasti khawatir"
"Ayo ikut saya"
Wanita itu menggandeng Ara dan kembali ke sebuah ruangan yang lumayan luas.
"Terimakasih...terimakasih... Telah menolong saya. Boleh saya meminjam hp anda nyonya?"
Tatapan wanita itu melembut, dia merasa iba dengan penampilan Ara saat ini.
"Ini sayang, hubungi keluarga kamu"
Suara dering telfon di ruang tengah itu terus mengalun.
"Halo dengan keluarga Miller, ini dengan siapa?"
"Ini aku Ara, tolo..."
Seseorang disana langsung berteriak.
"Tuan... Tuan ini nona Ara"
Suara derap langkah kaki yang terburu buru mendatangi telfon itu.
"Ara, baby kamu baik baik aja kan sayang?"
Ara mulai menangis. Dia sangat ingin pergi ke pelukan papanya saat ini.
"baby.. Tolong bilang kalo kamu baik baik aja sayang... Papa khawatir.."
Nada suara Bryan sangat kentara seperti ingin menangis tapi ditahan.
"Ara, ara baik baik aja papa. Ara di tolong sama orang baik"
"Papa pasti jemput kamu sayang, itu pasti. Sekarang kamu kasih telfonnya papa mau bicara"
Ara langsung memberikan telfon itu.
Setelah telfon itu berakhir, wanita itu menatap Ara dan memberikan sebuah pelukan. Ara menyambutnya dan memeluk wanita itu tak kalah erat.
"Kamu pasti kuat sayang"
Ara mengangguk lemah dan melepaskan pelukan itu.
"Panggil aku Kak Sandra"
"Terimakasih banyak kak, aku sangat sangat berhutang budi kepada kakak"
Sandra sangat tahu rasanya berada di posisi itu. Sandra tersenyum.
"Mommy, kenapa dengan aunty itu?? Apa aunty sakit? Kenapa mukanya pucat mommy?"
Wanita itu malah lupa dengan luka Ara.
"Kamu main dulu sama mba ya sayang, mommy mau bicara sama aunty"
Anak kecil itu pergi.
"Kamu tunggu disini, biar kakak bawa P3k dulu"
Baru beranjak, tapi Ara sudah memegang tangan Sandra. Dia menggelengkan kepala.
Sandra lagi lagi tersenyum agar Ara bisa tenang. Akhirnya sandra menyuruh salah satu pembantunya untuk membawa P3K.
"Astaga, luka dikepala kamu ga bisa pake obat obatan disini, kamu harus ke rumah sakit"
Ara menggelengkan kepalanya. Sungguh Ara tidak ingin pergi kali ini, Ara terlalu takut untuk keluar.
"Oke oke sekarang kakak obatin kamu, abis itu kamu tidur di kamar tidur kakak ya"
Sebenarnya Ara tidak mau. Ara terlalu takut jika ditinggal oleh Sandra. Tapi ara tidak ingin merepotkan Sandra. Akhirnya Ara mengangguk.
