Aku sedang berjalan dihamparan padang rumput yang juga ditumbuhi bunga. Aku merasa aku belum pernah berkunjung ke daerah sini.
Yang ku lakukan hanya terus berjalan dengan pagar sebagai penunjuk jalan. Hingga aku tiba pada kursi panjang yang berada di bawah pohon dan seorang perempuan yang sedang duduk disana.
Entah kenapa aku merasa sangat mengenali perempuan itu, tapi aku masih belum bisa melihat wajahnya. Akhirnya aku mendekat padanya.
"Mama"
Aku langsung memeluknya erat.
"Anak mama jangan nangis, anak mama kan kuat"
Aku tak ingin melepaskan pelukan ini, aku tak ingin melepas mama pergi lagi, aku hanya ingin bersana mama.
Akhirnya pelukanku terlepas karena mama yang melonggarkan pelukan ini.
"Sweetheart, liat sini"
Aku menatap mama dengan air mata yang masih mengalir.
"Dengerin mama, setiap manusia punya batas waktunya hidup di dunia, kita gabisa pungkirin itu, kamu adalah anak yang paling kuat, anak mama yang akan jadi mutiara dikeluarga mama, everything will be fine, papa, Ian dan juga ka Leo pasti akan ngelindungin kamu"
"Tapi ma... Aku sekarang takut sama yang akan aku hadepin, aku takut bikin papa Ian sama ka Leo sedih, aku takut gabisa..."
"Sshhhh, dengerin mama, tuhan akan selalu menjaga kamu dalam keadaan apapun, jadi kamu gaperlu takut"
"Aku pengen ikut mama boleh?"
"Sayang inget apa yang mama tadi bilang?"
Aku mengangguk.
"Jangan menangis lagi, ok? Mom always love you, inget itu ok?"
Entah kenapa dunia tiba tiba putih.
Aku terbangun.
Aku melihat Ian yang memandangku dengan tangisan.
"Ian kenapa nangis?"
