Part 5(The Night)

10.2K 534 0
                                        

Kenangan itu cuma hantu disudut pikir. Selama kita diam dan ngga berbuat apa-apa, selamanya dia tetap jadi hantu, ngga akan pernah jadi kenyataan.
DEE LESTARI

"Yan, papa pulang jam berapa?"
"Biasanya jam 4 ka, kaka istirahat sana nanti biar ian yang bangunin kalo udh ada papa"

Aku menaiki tangga satu demi satu seakan aku mengingat putaran semua memori saat berada disini. Hatiku kembali sakit saat mengingat satu memori yang sudah lama aku hindari.

"Ka"
Aku mendengar ian memanggil ku namun entah mengapa pikiranku masih memutar ulang kejadian itu.

Tiba tiba aku merasa tubuhku melayang.

"Ian, kenapa kamu gendong kaka?"
Ian hanya terus berjalan tanpa nenjawab pertanyaanku.

Dan mulai memasuki sebuah kamar yang tidak berubah semenjak dulu. Akhirnya aku berbaring di kasurku.

"Ian ga suka kaka kaya tadi"
"Iya, kaka ga akan kaya gitu lagi"
"Kaka harus janji sama Ian"
"Iya"
"Bilang dulu janji"
"Udah ah kaka mau istirahat, kamu pergi sana ke kamar kamu!"
"Yaudah deh, sleep tight ka"
Dia mencium keningku seperti biasa, aneh bukan? Harusnya aku yang mencium keningnya, aku kan kakanya. Tapi mereka selalu melakukan itu seperti aku seorang bayi.

Setelah ian keluar dari kamarku, aku merasa mataku mulai berat.

7pm
Aku sudah bangun dari tadi dan sudah ada di meja makan untuk menyiapkan semuanya.

"Kaka!! Kaka dimana?!"
Huftt Ian selalu saja berteriak.
"Kaka didapur!"
Ian berjalan dengan tergesa gesa dan aku rasa nafasnya sudah tidak teratur.

"Kaka...tuh.."
"Udah duduk sana ngapain sih kamu lari lari, nih minun dulu"
"Aku tuh takut kaka kenapa napa, kirain kaka kabur kemana!"
"Dih kamu tuh ya, suka ngaco! Ya ga mungkin kaka kabur dari rumah"
"Ya bisa aja lah! Makannya kaka tuh kalo kemana mana bilang dulu sama Ian biar Ian ga hawatir!"
"Uluuluulu.. Adik kaka hawatir sama kaka? Uhh so sweet banget sih adik kaka yang satu ini!"
"Apaansih ka!"
"yah dia ngambek"

Aku mendengar suara ketukan sepatu dan ya aku kenal siapa orang itu.

"PAPAAA!!!"
Aku berlari ke arahnya, langsung memeluknya dan untungnya dia tidak terjungkal kebelakang, ternyata ada untungnya juga papaku memiliki badan yang tinggi dan kekar.

"BABY!! Kamu tuh jangan suka lari lari! Kalo kamu jatoh gimana?"
Aku hanya bisa tersenyum cengengesan.

"Tuh pa liat kelakuan bayi besar papa tuh, tadi tuh pas dateng dateng malah nge..."
"Udahlah pa gausah dengerin ian, mendingan kita makan yu pa"
Aku takut papa khawatir dengan keadaan ku.

Selesai makan aku dan Ian pergi ke ruang tv sementara papa pergi ke kamarnya untuk bersih bersih.

Aku yang terus terus dijahili Ian, sudah sangat kesal ingin menendang Ian dari sini.

"Pa.. Tuh Ian masa jailin kakanya kan ga sopan!"
"Haha, harusnya emang Ian yang jadi kaka deh ra"
"Ih papa tuh ya sama aja kaya Ian bikin aku kesel!"

Setelah itu mereka mulai menatapku, sepertinya melakukan kerja sama yang akan melibatkanku jadi korbannya.

"Ayo pa serbuu!!!!!"
Aku ingin berlari tapi sudah tertangkap oleh papa. Dan mereka mulai menggelitik perut ku.

"Aduh...hahaha... pa.... Ian udah dong ara geli"

Akhirnya merekapun menyelesaikan itu semua dan aku mulai bercerita tentang kehidupan ku di london
Dan disusul dengan pertanyaan pertanyaan bodoh Ian. Haha maafkan aku Ian tapi memang pertanyaan mu sangat bodoh.

"Udah udah ceritanya nanti lagi, ara ian ayo segera kekamar masing masing!"
"Yah papa padahal kan ka Ara belum selesai ceritanya"
"Adrian!"
Jika papa ku sudah seperti itu berarti papa tidak ingin ucapannya di bantah.

"Ka kaka yakin gamau tidur aja di kamar ian? Atau atau kaka tidur bareng sama Ian sama papa bertiga?"
"Iya sayang, kamu mau sendiri aja disini?"
"Iya ian,papa, ara disini aja, kan dikamar ga akan ada apa apa"
"Yasudah good night baby girl"
"Good night ka"
"night pa, yan"

Entah aku yang sangat cape atau aku yang terlalu kebo mataku sekarang mulai merasakan berat lagi seperti ingin terus menutup, tapi aku seperti mendengar sayup sayup orang yang sedang mengobrol didepan kamarku, tapi lagi lagi mataku ini sulit di ajak kompromi.

Aku melihat jam disebelahku menunjukan angka 12.35, aku baru 3 jam tidur dan sekarang terbangun karena haus.

Aku harus segera ke dapur karna tidak ada minum di mejaku.

Baru saja aku meletakkan gelas diatas meja bar seluruh lampu rumah ku mati.

Aku kaget dan merasakan dadaku sesak, aku tidak bisa bernafas teratur aku yang berniat untuk bangun dari duduk malah menjatuhkan gelas yang tadi berada di atas meja.

Prangg...
Aku yang ingin menggerakan kaki malah terjatuh sehingga merasakan lutut dan kaki ku terkena pecahan gelas.

Kejadian ini seperti membawaku ke masa lalu, kepalaku sakit, nafasku sudah seperti di ujung hayatku.

"Kepala ara sakit, bunda tolong ara, ahhh"
Aku berteriak kesakitan berharap akan ada yang menemukan ku.

"Ka Ara!! Kaka dimana?!!!"
Aku sudah tak mampu menjawab pertanyaan itu, badanku seperti ingin jatuh karna sudah tak kuat lagi, tuhan apa ini akhir ceritaku?.

.
.
Oh iya hehe kalo ada yang baca bisa nge vote ga? Cuman pengen tau siapa aja yang baca hehe. Atau engga komen aja gapapa ko hehe

My Protective FamilyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang