Hari ini, sudah diputuskan bahwa Ara akan bersikap seolah olah tidak ada yang terjadi kemarin. Ara tidak mau keluarganya terus khawatir tentang kondisinya.
#at dining room "Kaka ko ga bangunin Ian sih?" Tiba tiba saja Ian memeluk kakanya dari belakang.
"Ian pules banget tidurnya, kaka jadi gatega banguninnya. Udah ah, sekarang kamu mandi terus siap siap ke sekolah"
"Loh Ian kan gaakan sekolah, Ian mau nemenin kaka disini biar ga bosen" "Emang kata siapa kaka mau diem di rumah?" "Jangan bilang kaka mau...." "Ih kamu bawel banget sih, udah sana mandi!"
"Kaka ko pergi ngantor sih? Emang bang Leo sama papa ngizinin?" "Udah ko, malah papa sama ka Leo ngedukung banget, wlee"
Ian yang kebingungan karena sangat tidak mungkin jika bang Leo dan papanya mengizinkan ka Ara.
Setelah papa dan bang Leo ada, Ian akhirnya menyusul tapi baru saja dia duduk dia sudah menanyakan pertanyaan yang tadi sangat mengganggunya.
"Pa ko bis..." "Ian mau nasi goreng atau roti?" Ka Ara memotong ucapan Ian. "Roti aja ka" "Pa ko bisa sih..." "Ian mau selai apa?" Lagi lagu ka Ara memotong ucapan Ian. "Cokelat ka" "Pa ko bisa ka Ara.." "Ian makan yang lahap ya rotinya"
"Ih kaka kenapasih dari tadi motong ucapan Ian terus" "Lagian kita lagi di ruang makan Yan, di ruang makan tuh tempatnya makan, masa ga ngerti sih lu?" "Dih apaansi bang, gue ga ngomong sama lu ya"
"Udah udah sekarang kalian semua makan dulu. Ian nanti papa jelasin, tapi ga disini"
Akhirnya mereka didalam mobil, dan kalian tau Ian yang biasanya menaiki motor atau mobil sendiri sekarang malah naik mobil bersama keluarganya. Yah meskipun banyak perdebatan sebelumnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ian ayo keluar, papa bang Leo sama kaka mau ngantor nanti telat" "Kenapa sih semua orang kaya yang gasuka Ian bareng mobil ini"
Akhirnya Ian pergi. Mobil yang akan melaju pun tiba tiba terhenti karena suara teriakan. "Pa stop pa, hp Ian ketinggalan" "Ya ampun baby girl kaka tuh kira ada apa, yaudah kasih aja ke pengawal" "Gabisa ka, Ian gasuka barang barangnya disentuh orang lain yang ga dia kenal, biar aku aja yang keluar"
Aku berlari karena Ian aga sedikit berlari, dan itu membuatku harus masuk ke lingkungan sekolah itu. Yah kalian harus tahu saat ini papa nya memberikan pengawalan khusus untuk Ara.
"Ian..Ian...Ian.." Akhirnya Ian berlari dan langsung memeluk kakanya.
"Kaka kenapa lari sih? Gimana kalo kaka jatoh?" Masih dengan acara pelukan mereka, sebagian murid menatap kagum kepada pasangan yang menurut mereka pasangan ini adalah sepasang kekasih.
"Yan, ini disekolah kamu loh, banyak yang liatin kaka tau!! Udah ah lepasin pelukannya!" "Yaudah, tapi Ian ikut ngantor aja ya nemenin kaka"
"Aww" Ara menggetokan hp ke kepala Ian. "Kamu tuh ya! Udah ah sana sekolah yang bener nih hp kamu ketinggalan" "Yaudah Ian bakal sekolah yang bener hari ini, tapi kiss Ian dulu!"
"Yan udah ah kaka mau pergi! Kamu tuh kenapa minta kiss terus sih" Ara beranjak dari sana tapi lagi lagi karena kekuatan Ian lebih besar akhirnya Ara terperangkap pelukan Ian lagi.
"Ian lepasin!! Nanti kaka telat ngantor!" "Yaudah kiss dulu sini" Dengan menunjuk ke pipinya dan bertingkah seperti anak kecil.
Akhirnya dengan pasrah Ara harus mencium Ian dan setelah itu dia pergi dan berlari. Tapi jangan kira tingkah konyol Ian hanya sampai disana.
"Bye bye baby imutnya Ian! Hati hati ya kalo ada apa apa hubungin Ian"
Dan Ara sudah menutupi seluruh mukanya yang menahan malu dengan para pengawal didepannya.
Setelah sampai mobil, tidak jauh beda dengan yang tadi. "Ko kamu kaya kesel gitu ra, kamu kenapa?" "Gimana ga kesel coba pah, Ian tuh mana meluk meluk aku depan umum terus minta cium terus..." "Terus kamu cium Ian ga by?" "Iyalah, kalo aku ga cium Ian aku bakal lebih lama lagi disana!" "Oh kalo gitu kamu juga harus nyium kaka dan papa by, ya ga pah?" "Wah bener tuh!"
Ternyata sama saja, mereka semua selalu menganggap Ara anak kecil. Dan arti ciuman di pipi menurut keluarga mereka adalah tanda kasih sayang dan itu sudah hal yang wajar.
Akhirnya Ara hanya memutar bolanya dan mencium kaka nya dan papanya.