Bab 30 : Dipilih

3 0 0
                                        

Lelah teramat mendera jiwa sekarang. Beban yang awalnya ringan sekarang bertambah berkali lipat. Awalnya mudah dan ringan sekarang jadi sedemikian sulit dan berat. Itu rasa yang dialami Robi sekarang.

Tidak ada yang menginginkan ini terjadi. Awalnya Robi hanya membagi rahasia kecil di hatinya kepada Amang, agar orang tua ini bisa dengan bijaksana memberikan solusi kepadanya.

Tapi yang didapatnya kini bukan bahagia tapi nestapa. Sebuah rahasia masa lalu terpaksa harus diketahuinya, sebuah kisah yang akan melibatkan dirinya di sana. Ingin berlalu tapi hati tetap ingin tahu, agar ia bisa menentukan awalnya seperti apa untuk mengakhirinya nanti dengan cara bagaimana.

"Ceritakan semuanya, Amang," desak Robi tanpa ragu.

Laki-laki tua yang semakin bertambah tua dengan kerutan dikeningnya. Mencoba mengumpulkan semua kenangan masa lalu yang berhubungan dengan kehidupan anak muda ini di masa sekarang. Mencoba mencari awal dan meluruskan akhir, walau ia sendiri tidak yakin akan hasilnya nanti seperti apa.

"Amang!" Robi menyentakkan lamunan laki-laki tua tersebut.

Sejenak terdengar tarikan napas dalam dan membuangnya perlahan. Sekedar memberi waktu untuk paru-paru menghirup sebanyak-banyaknya oksigen yang sempurna agar tidak menimbulkan sesak di dada.

"Perusahaan ini pernah mengalami masa mati suri." Amang memulai kisahnya. Robi menyimak setiap kalimat yang terlontar.

"Pada kondisi itu, peluang untuk menyelamatkannya adalah dengan menyuntikkan dana segar. Aku dan Ayahmu sudah berjuang, meminjam tambahan dana ke bank selalu berujung penolakan, karena memang waktu itu perusahaan ini tidak menjanjikan."

"Lalu, Ayah Evita datang sebagai dewa penyelamat bagi perusahaan. Dengan bantuan dana dari beliau perusahaan dapat kembali berdiri dan berjaya sampai sekarang."

Robi tidak menemukan hubungan sedikitpun tentang bantuan Ayah Evita dengan perjodohan dirinya dengan Evita. Atau mungkin cerita Amang belum selesai.

"Setelah bantuan dana tersebut mengalir, perusahaan ini memilik 3 pemegang saham. Aku dan Ayahmu masing-masing 30% dan Ayah Evita 40%. Semuanya berjalan baik sampai akhirnya. Ayah Evita meminta sesuatu kepada Ayahmu."

Amang terdiam. Dipandangnya dalam diam wajah pemuda yang duduk tepat dihadapannya. Robi hanya diam. Tidak protes atau membantah. Setiap kalimat yang diucapkan oleh Amang diserapnya dengan baik. Walau berbagai tanya muncul, biarkan saja.

"Ketika perusahaan ini sudah stabil. Aku dan Ayahmu menawarkan pada Ayah Evita untuk membeli saham miliknya. Tapi ditolak mentah-mentah. Justru ia mengancam untuk mencabut saham tersebut dan menarik semua aset yang sudah di serahkannya pada perusahaan ini. Jika itu kami biarkan, tentu saja perusahaan hancur. Karena tahu sumber kelemahan kami, Ayah Evita menawarkan sesuatu kepada Ayahmu."

"Tawaran apa?"

"Ia akan menyerahkan seluruh sahamnya kepada kita dengan syarat kau harus mau menjadi suami dari Evita."

Robi terdiam. Begitu kejam konspirasi yang terjadi jauh sebelum ia mengenal cinta, jauh sebelum ia mengenal Evita. Bagaimana mungkin para orang tua ini berpikir seperti itu. Mengatur hati dan masa depan anaknya hanya demi sebuah simbol yang harus diselamatkan. Robi tidak bisa menerima ini semua.

"Kenapa harus aku yang dikorbankan!" protes Robi dengan tegas

"Perusahaan ini membawahi hampir ratusan karyawan. Ayahmu memikirkan nasib para karyawan tersebut, bagaimana mereka makan, membayar uang sekolah anak-anaknya, memberi uang bulanan pada istrinya dan masih banyak yang jadi pemikiran ayahmu pada waktu itu."

TAKDIR CINTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang