Taman di belakang rumah ini adalah sebuah tempat yang paling pas untuk merenung. Kesunyian, keasrian dan sejuknya udara yang dipengaruhi oleh pelepasan oksigen dari tumbuhan disekitarnya, menyebabkan siapapun yang berada di sini akan merasakan ketenangan.
Rara mencoba menikmati suasana di sini. Sudah hampir 2 jam sejak lepas subuh tadi, ia duduk dan menikmati keindahan hasil karya Mang Asep dan kawan-kawannya. Panggilan sarapan bersama dari Mama ditolaknya dengan halus dengan alasan ia masih kenyang. Padahal Rara keadaan sebenarnya Rara masih enggan untuk berjumpa dengan Papa dan Sri Anna.
Kenyataan yang didapatnya tadi malam bersama Robi betul-betul membuat gadis mungil itu penuh dengan kebimbangan. Ingin menghindar, namun takdir sudah mengatakan lingkaran hidupnya ternyata terarah pada Robi, Papa dan juga Sri Anna.
"Apa yang harus dilakukannya?" tanya batin Rara dengan resah. Disaat pertanyaan belum terjawab sebuah suara yang amat dikenali menghentikan lamunannya.
"Ada apa?" tanya Bagas langsung. Saudara laki-laki Rara ini sangat mengenali jiwa dari gadis ini. Jadi tidak ada yang harus disembunyikan Rara pada Bagas.
"Ternyata pusaran takdirku tidak juga mau lepas dari Papa dan Sri Anna," jawab Rara dengan resah.
Bagas terdiam. Sejak Sri Anna hadir ditengah mereka dan pada akhirnya Papa mengakui pengkhianatan yang dilakukannya dibelakang Mama, sebenarnya hal ini sudah merupakan takdir keluarga ini. Bukan hanya takdir Rara, tapi takdir mereka semua. Perlahan perjalanan waktu membuat sedikit demi sedikit Rara bisa menerima takdir tersebut.
"Lalu bagaimana mungkin sekarang Rara mengatakan hanya takdirnya?" Bagas bertanya dalam hati, sambil menatap saudara satu-satunya yang sedang tertunduk lesu.
"Ada apa lagi Ra? Jika kau percaya padaku, ceritakan dari awal jangan sepotong-sepotong," desak Bagas penasaran.
Rara menghela napas panjang. Bagas adalah orang yang tepat untuk berbagi saat ini. Rara percaya Bagas pasti akan memberikan solusi yang terbaik untuknya.
"Ada kabar yang mengejutkanku tadi malam," ucap Rara memulai kisah.
"Kau jumpa dengan wanita lain yang mengklaim Robi sebagai pacarnya," tebak Bagas mencoba membuat suasana tidak terlalu tegang.
"Bukan!"
"Lalu apa?" tanya Bagas semakin penasaran.
"Papa, Robi dan Sri Anna berada dalam satu lingkaran kehidupan."
Jika Rara hanya menyebutkan Papa dan Sri Anna, tentu hal ini tidak membuat Bagas merasa heran. Namun, sekarang ada Robi diantara Papa dan Sri Anna. Apakah ini kebetulan atau memang sebuah kenyataan?
"Pencarian ibu kandung Robi, membawa kami mendatangi seorang perempuan yang membantu kelahiran Robi di Solo. Dan yang membuatku merasa tidak nyaman adalah Sri Anna dan Robi ternyata satu Ibu. Mereka sama-sama lahir dari rahim wanita yang bernama Sri Wijiati yang tidak lain adalah istri siri Papa."
Rara menghentikan kisahnya, mencoba menghirup sebanyak-banyaknya oksigen yang terdapat ada udara yang sejuk pagi ini. Menikmati aliran darah yang sedikit lebih cepat gejolaknya karena menceritakan apa yang membuat ia tidak nyaman kali ini.
"Apa yang harus aku lakukan, Mas?" tanya Rara putus asa.
Bagas mencoba mencerna terlebih dahulu, cerita ini sungguh diluar dugaannya. Menerima Sri Anna hadir ditengah mereka sampai sekarang masih teramat sulit bagi Rara. Belum pulih Rara menata hatinya, sekarang goncangan kembali datang, ketika mengetahui bahwa Robi - laki-laki yang tengah dekat dengannya ternyata adalah saudara satu ibu dengan Sri Anna. Bagas harus sangat hati-hati sebagai orang yang dipercaya Rara untuk membantunya keluar dari permasalahan ini.
"Aku mungkin akan belajar menerima status baru Robi. Atau kembali melapangkan hati bahwa Sri Anna ada hubungan darah dengan Robi. Tapi yang aku khawatirkan bukan itu." Kali ini Rara terhenti, ada semacam keraguan untuk meneruskannya.
"Kenapa?"
"Mas, aku takut Robi sangat membenci Papa," ucap Rara lirih.
"Ada alasan kuat Robi untuk melakukan hal itu?" tanya Robi, karena melihat keakraban Robi dan Papa waktu makan malam kemarin rasanya tidak mungkin hal ini terjadi.
"Yang kau khawatirkan Robi atau dirimu Nona Rara?" tanya Bagas kembali. Kening Rara berkerut, gadis ini tidak paham akan tanya yang dialamatkan Bagas kepadanya.
"Apa kau khawatir, dengan situasi ini Robi akan berhenti mencintaimu?"
Sekali ini Rara semakin tersudut. Hal ini tidak pernah dipikirkannya. Sampai tadi malam, walau terasa beda Rara tetap merasa bahwa belum ada yang berbeda dari sikap Robi kepadanya. Laki-laki itu tetap saja mengingat pesannya, tetap memberitahukan keadaannya.
"Dengar Ra. Keadaan antara Robi, Papa dan Sri Anna tidak akan menggangu hubunganmu dengan Robi. Tidak ada alasan yang paling tepat untuk menghindar darimu atau berhenti berhubungan denganmu," tegas Bagas.
"Jika Robi membenci Papa, ia akan punya alasan untuk menjauh dariku, Mas."
"Kenapa harus membenci Papa?" Kali ini Bagas kembali heran.
"Karena Papa yang menyebabkan Robi ditinggalkan oleh Ibu kandungnya," ucap Rara sambil berbisik. Takut ada yang mendengar apa yang mereka bincangkan.
"Itu yang membuatku gelisah Mas. Jika itu terjadi aku pastikan aku akan kehilangan Robi."
Bagas tidak mampu berkata apa-apa. Cerita yang disampaikan Rara, sungguh diluar dugaannya. Dengan karakter Papa yang sangat dipahaminya, rasanya tidak mungkin jika Papa memisahkan Ibu dan anaknya. Namun, tidak mungkin Rara saat ini sedang menjalani sebuah drama untuk menarik perhatiannya.
"Papa pasti punya alasan Ra,"
"Bu Rahmah hanya mengatakan bahwa Papa bersedia menikah dengan Bu Sri tapi tidak bisa menerima anak yang dilahirkan Bu Sri. Alasan sebenarnya hanya Papa yang tahu Mas."
Kedua anak manusia ini terdiam dalam pikirannya masing-masing. Sampai pada akhirnya Bagas memecah kebisuan diantara mereka.
"Bicaralah dengan Papa, Ra. Lebih baik kau mencari tahu alasan yang sebenarnya dari Papa. Walau pada akhirnya nanti Robi juga akan menuntut sebuah alasan dari Papa, setidaknya kau sudah terlebih dahulu mengetahuinya." Sebuah saran yang sempat terpikirkan oleh Rara.
"Kau mau menemaniku, Mas?" pinta Rara.
"Jika Papa tidak keberatan aku akan ada di sampingmu."
"Haruskan Papa keberatan?" tanya Rara heran.
"Ra, ini adalah rahasia lain milik Papa. Beliau pasti punya alasan kenapa menutupi ini. Jadi lebih baik kita ikuti saja keinginan Papa seperti apa," nasihat Bagas.
"Baiklah. Aku bicara di kantor saja tentang hal ini," usul Rara, karena kantor adalah tempat yang aman untuk menghindari Mama mengetahui hal ini.
Bagas tersenyum tanda setuju. Walau belum bisa membebaskan Rara dari kegelisahannya. Tapi setidaknya, ia sudah menjadi tempat Rara berbagi.
"Aku berangkat dulu. Tunggu kabar dariku tentang jadwal Papa hari ini. Masuklah!" Sebuah perintah diberikan Bagas pada Rara.
Selang beberapa menit setelah Bagas meninggalkan Rara sendiri di taman, gadis itu menyusul Bagas masuk kedalam rumah. Semoga hari ini ia bisa menemukan sedikit pencerahan dari penjelasan Papa nanti. Dan berharap ini tidak akan mempengaruhi kedekatannya saat ini dengan Robi.
Sebelum Rara mandi, sebuah pesan disampaikan gadis itu kepada Robi. Ia tidak ingin membuat Robi memikul beban ini sendiri, biarlah kali ini ia akan bantu menyelesaikannya, walau belum bisa memastikan apakah cara yang ditempuhnya nanti akan membawa ketenangan bagi mereka.
[Aku akan menemukan alasan kenapa Papa melakukan hal itu terhadapmu]
[Tunggu kabar dariku]
[Baik-baik kau di sana]
KAMU SEDANG MEMBACA
TAKDIR CINTA
RomantizmPertemuan Rara dan Robi membuka sebuah kisah dan rahasia kehidupan mereka masing-masing. Cinta yang hadir di antara mereka, tidak mengurangi permasalahan yang mereka hadapi dalam detak kehidupan yang merek jalani. Mampukah Rara dan Robi keluar dari...
