Bab 35 : Kejutan Pahit

5 0 0
                                        

Sepasang anak manusia itu masih duduk dalam gelisahnya. Si laki-laki terlihat sesekali menggigit bibir bawahnya, semester si gadis duduk sambil merapikan rok kembang ungunya yang  sebenarnya sudah rapi.

Di ujung sana terlihat wanita tua yang tetap tenang dalam ceritanya. Tidak ada ekspresi yang tergambar dari wajahnya yang masih terlihat pesona kecantikan masa mudanya. Semuanya datar dan tenang, setenang ketika ia memulai kisah berikutnya.

Solo 1986

"Aku bersedia menerimamu apa adanya Dek, tapi aku tidak bisa menerima anak yang ada dalam perutmu."

Waktu itu ia ingat betul tanggal dan tahun kejadiannya. Dimana Sri yang tinggal bersama dengannya memperkenalkan seorang laki-laki gagah dan mapan. Sri menyebutkan laki-laki itu adalah calon suaminya yang bernama Arya Bagas.

"Aku tidak setuju jika itu yang akan menjadi keputusan kalian." Kali ini wanita yang bernama Rahmah itu protes dengan kerasnya.

"Jangan kau lakukan itu Sri. Kau akan menyesal nantinya," nasihat Rahmah pada Sri.

Namun, cinta yang dimiliki oleh dua anak manusia itu mengalahkan logika dan perasaan kemanusiaan. Tepat tiga bulan setelah Sri melahirkan seorang bayi laki-laki dengan bantuan Bidan Rahmah, Sri pun menikah dengan Arya Bagas dan langsung di bawa ke Jakarta. Bayi laki-laki yang sampai usia tiga bulan belum juga diberi nama ditinggalkan begitu saja pada Bidan Rahmah tanpa pesan apapun.

Akhirnya dengan ikhlas ia merawat bayi Sri tersebut sampai akhirnya bayi tersebut diadopsi oleh sepasang suami istri dari Jakarta. Bidan Rahmah yang waktu itu hanya bisa menyerahkan semua nasib bayi Sri pada takdir. Ketika ia melihat pasangan yang mengadopsi adalah orang baik dan berkecukupan, akhirnya Bidan Rahmah pun menyerahkan bayi tersebut pada mereka.

***

Sekarang tiga puluh tahun berlalu. Bayi Sri sudah tumbuh menjadi laki-laki yang tampan, laki-laki yang sempurna secara fisik dan sepertinya juga mapan secara materi. Bidan Rahmah merasa bersyukur bahwa apa yang diputuskannya waktu itu adalah tepat, walau pada akhirnya ia tetap merasa bersalah pada Sri yang tidak bisa menjaga amanah itu dengan baik.

"Bisa Ibu ceritakan tentang foto itu?"

Dengan segala rasa yang tidak bisa diuraikan Robi satu persatu, laki-laki itu mencoba mencari jawaban terhadap sebuah teka-teki yang sudah ia dapati ketika berada di rumah Rara tadi. Segala kejutan yang diterimanya malam ini, bukanlah sebuah kabar yang membahagiakan.

Di satu sisi ia merasa tenang karena pencariannya akhirnya selesai. Ibu kandung yang di carinya selama ini betul bernama Sri, dan rumah yang ditempati oleh Bu Rahmah sekarang adalah rumah ibunya dan di rumah ini pula ibunya meninggal. Akhirnya Robi mengetahui bahwa kedua orang tua kandungannya telah tiada.

Sekarang yang menjadi pertanyaan baginya benarkah objek yang berada di dalam foto keluarga miliki ibunya adalah orang yang sama yang ada dalam pikiran Robi saat ini.

"Foto itu di ambil ketika ulang tahun ke lima anak mereka. Laki-laki ini adalah suami Sri yang bernama Arya Bagas dan gadis kecil ini adalah anak mereka yang bernama Sri Anna."

Penjelasan kali ini, betul-betul bagaikan petir ditengah hari bagi Robi dan juga Rara. Ternyata pencarian yang Robi lakukan ternyata bermuara kepada Rara. Apakah ini kebetulan atau inikah yang dinamakan takdir.

Sampai mereka pamit pulang dan mengucapkan terimakasih. Robi dan Rara pun masih belum bisa menerima kenyataan yang mereka dapati malam ini. Perjalanan pulang, kali ini sungguh berbeda dengan perjalan pergi tadi. Mereka saling diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

Tidak ada yang berani memulai terlebih dahulu. Sampai keheningan dipecahkan oleh deringan ponsel Robi.

Sejenak laki-laki itu menyingkirkan badai besar yang sedang menderanya sekarang. Nama Evita yang tertera di layar ponselnya membuat ia semakin merasa semakin terjatuh dalam lubang terdalam dan tergelap. Tidak ada tangga dan cahaya yang akan menuntunnya keluar. Dengan berat diangkatnya telepon masuk tersebut.

"Ya Evi," sapa Robi senatural mungkin. Agar lawan bicara di seberang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.

Sejenak hanya diam yang ada. Kemudian terdengar Isak tangis dari seberang sana dan dengan terbata-bata mengatakan.

"Mama sekarang di rumah sakit, Bang," isak tangis Evita terdengar jelas. Robi mencoba menganalisa apa yang baru dikatakan oleh Evita. Sebuah kejutan lagi buat Robi.

"Satu jam yang lalu, Rose mendapat serangan jantung. Sekarang kondisinya masih belum sadar. Kalau sudah selesai urusanmu, kemarilah," perintah Amang Theo yang mengambil alih telepon Evita.

"Baik Amang. Aku antar Rara pulang dulu," ucap Robi dan kemudian mematikan telepon genggamnya.

"Ada apa?" Rara bertanya hati-hati. Malam ini bukan hanya Robi yang menerima kejutan, iapun menerimanya. Dan sudah dipastikan Rara tidak menyukai kejutan ini.

"Namboruku masuk rumah sakit serangan jantung," jawab Robi.

"Perlukan aku ikut denganmu?" tanya Rara kembali.

Sejenak Robi diam. Di satu sisi ada beberapa hal yang akan dibicarakannya dengan Rara terkait berita yang disampaikan Bu Rahmah tadi. Namun, pertimbangan kondisi emosi mereka berdua yang belum stabil, ditambah lagi Evita juga dalam kondisi tidak baik, akhirnya Robi memutuskan untuk pergi sendiri ke rumah sakit.

"Tidak usah mengantarku pulang. Turunkan saja aku di cafe mahoni, nanti biar Bagas yang menjemputku," usul Rara.

"Tidak aku harus menjaga kepercayaan orangtuamu. Mudah-mudahan jalan tidak lagi macet."

Entah karena ingin cepat sampai, atau mungkin juga karena kepadatan jalan raya sudah mulai berkurang. Tidak sampai 45 menit, Robi sudah sampai di rumah Rara. Setelah mematikan mesin mobil, Robi dan Rara melangkah masuk.

"Aku pulang dulu. Sampaikan salam ku buat Mama dan Bagas," ucap Robi. Kali ini ada semacam rasa enggan untuk menyebutkan nama Papa dan Anna bagi Robi.

"Baiklah. Hati-hati di jalan. Sampaikan salamku buat Evita."

Akhirnya mereka betul-betul berpisah. Masing-masing pergi dengan sebuah tanya yang bergelantung di hati. Jika tidak ada musibah malam ini, tentu saja mungkin akan diisi oleh diskusi panjang mereka tentang sikap dan tindakan terbaik yang harus dilakukan.

Namun, takdir berkata lain. Sakitnya Rose-ibu Evita adalah sebuah alasan untuk menunda pembahasan ini. Bukan berarti diabaikan tapi ditunda untuk dibahas. Semoga saja penundaan ini bisa memberikan solusi terbaik bagi Rara dan Robi yang sama-sama mendapatkan sebuah kejutan pahit dalam kehidupan.

Kejutan ini bukanlah hal yang baik buat mereka. Dan ini akan berimbas pada hubungan mereka selama ini. Walau tidak terucap dari bibir mereka, namun Robi dan Rara menyakini bahwa apa yang didengar dan diterima mereka malam ini sangat besar pengaruhnya bagi perasaan cinta yang mereka miliki.

TAKDIR CINTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang