Sepagi ini rumah besar ini sudah heboh. Ada yang memotong rumput di halaman, ada yang membersihkan seluruh permadani ruang dengan vacum cleaner, ada yang sibuk membersihkan semua perabotan di dalam rumah dan ada yang mengganti semua seprai dan alas kursi dengan yang baru.
Rara yang baru terbagun dari tidurnya seakan menemukan sesuatu yang beda. Tadi malam adalah malam pertama dimana ia kembali tidur di kamarnya sendiri. Alas tempat tidur dan bed cover kesayangannya masih menempel dengan rapi di tempat tidur ukuran besar yang memenuhi sebagian kecil dari kamarnya yang berukuran luas ini. Rara pikir tadi malam ia akan sulit untuk tidur. Tapi ternyata ia menemukan ketenangan dalam tidurnya.
Setelah menyelesaikan makan malam bersama Mama dan Bagas, serta ngobrol sebentar di ruang keluarga sambil menyimak acara sinetron di Indosiar yang menjadi kegemaran Mama, akhirnya tepat pukul sepuluh malam, Rara pamit untuk tidur. Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian yang dikenakannya dengan piyama, tanpa memerlukan waktu yang lama akhirnya Rara tertidur pulas. Sampai kehebohan pagi ini membangunkannya.
"Sudah jam berapa ini Mbok?" tanya Rara yang melihat Mbok Rah dan Asih tengah sibuk menyibak gorden kamarnya dan membersihkannya.
"Jam delapan Non. Maaf, Nyonya yang minta saya membersihkan kamar Non sekarang." Mbok Jum menjelaskan seakan takut Nona mudanya marah karena merasa terganggu.
Setelah berbenah dan rapi, Rara turun ke bawah mencari Mama. Hari ini penampilan Rara cukup sederhana. Kaos oblong dengan celana jeans serta dilengkapi oleh sendal boneka kesayangannya menjadi sebuah pilihan yang tepat untuk menyambut hari ini.
"Pagi, Ma," sapa Rara sambil mencium pipi Mama yang terasa lembut dan mengambil sepotong roti cium dan menuangkan segelas air jeruk.
"Tidak makan nasi? Mbok Rah tadi masak nasi goreng, kalau mau, tinggal Mama panaskan," usul Mama.
"Nggak usah Mama, roti ciumnya sudah cukup."
Mama tersenyum. Hanya Rara yang menyebut roti tawar yang dioles selai dan didempetkan dengan roti tawar yang lain disebut dengan roti cium. Sudah lama wanita paruh baya ini tidak mendengar istilah itu.
Ruang makan ini sejak gadis ini melarikan diri hanya diisi oleh orang-orang tua. Bagas dengan alasan tidak bisa makan pagi, hanya menghabiskan secangkir kopi hitam yang diletakkan Mama setiap pagi di dalam kamarnya. Hanya Papa yang menjadi teman Mama di meja makan, itupun kalau Papa berada di rumah.
Ruang makan ini akan kembali terisi dengan permintaan, cerita, impian dan khayalan Rara. Ia selalu punya kebiasaan menceritakan apa yang menjadi mimpinya tadi malam dan apa yang akan dilaluinya hari ini.
Rara mampu menghidupkan kekakuan yang ada, dari awalnya diam menjadi lebih ceria. Sehingga kepulangan Rara ke rumah ini membuat kehangatan itu kembali terasa.
Tanpa disadari, netra bening yang dibatasi oleh kacamata berbingkai emas, sudah kabur oleh genangan air mata yang perlahan mulai mendesak untuk dicurahkan. Wanita yang masih terlihat cantik di usia senjanya ini tersenyum bahagia, air mata ini bukan air mata duka, tapi air mata bahagia. Gadisnya sudah kembali, ia tidak akan kesepian lagi. Sekarang sudah ada tempat ia bersandar dan berbagi isi hati.
"Nah, Mama sedih lagikan?" Sungut Rara sambil menyerahkan dua lembar tisu bersih ke tangan Mama.
"Mama sedang bahagia sekarang, Nak."
"Kenapa Mama harus menangis lagi?"
Mama berjalan mendekati Rara, mengeser kursi agar lebih dekat satu sama lain dan menyampaikan satu permohonan kepada Rara, "Setelah ini jangan pernah lagi meninggalkan Mama."
Rara menganggukkan kepala. Tidak membantah. Rara paham betul seperti apa gejolak batin yang di alami Mama selama ia di Solo. Keluhan Mama yang mengatakan selalu sendiri di rumah, tidak ada teman bicara adalah sebagian besar dari keluhan-keluhan yang biasa didengar Rara kalau lagi menelepon Mama.
"Kalau aku pergi lagi. Nanti Mama kuajak ya?" canda Rara.
"Kau akan pergi lagi, Nduk?"
Rara terkekeh, ia senang bisa mencandai Mama. Dengan begini ia bisa sedikit mencoba mengobati kesedihan Mama.
"Aku tidak akan meninggalkan Mama lagi." Janji Rara dengan pasti.
Pernyataan itu sudah mampu membuat wanita kebanggaan Rara ini tenang. Senyumnya mulai merekah, matanya tidak lagi sendu dan keyakinan dirinya semakin bertambah, mulai sekarang dan nanti gadisnya akan tetap ada di sini untuknya dan keluarga ini.
"Ma, kenapa begitu hebohnya orang-orang di rumah ini?" tanya Rara seakan baru menyadari, bahwa ia telah melupakan sesuatu yang penting.
"Kau lupa? Dua hari lagi, Papa ulang tahun. Tadi malam Mama minta izin untuk mengadakan acara sederhana untuk ulang tahun Papa, sekaligus acara menyambut kepulanganmu kembali."
"Ya, Allah!" batin Rara tersentak kaget. Kemana selama ini pikiran melayang? Biasanya di rumah ini ia yang paling hapal tanggal bersejarah Papa, tapi kali ini kenapa bisa terlupakan. Rara malu.
"Maafkan Rara, Ma."
"Tak apa-apa. Yang penting sekarang kau sudah tahu."
"Ayo cepat ganti pakaian. Temani Mama belanja keperluan untuk acara," ajak Mama sambil meninggalkan ruang makan.
Rara beranjak dari kursi yang didudukinya. Air jeruk yang masih bersisa segera dihabiskannya. Gelas dan piring kotor diletakkan pada tempat cuci yang nanti akan di cuci oleh Mbok Rah
Hari ini ia akan memanfaatkan waktu yang ada untuk kembali mengenal dan mengisi hati Mama yang selama enam bulan ini kosong karena kepergiannya. Kesempatan ini juga akan dimanfaatkannya untuk mencari sebuah bingkisan yang akan diperuntukkannya buat Papa.
Sebuah benda istimewa sudah terpikirkan okeh Rara. Ia ingat sebelum ia berangkat ke Solo, Rara sempat menitipkan benda tersebut kepada Mbok Rah.
"Mbok, masih ingat kotak merah yang aku titipkan ke Mbok sebelum aku ke Solo?" tanya Rara pada Mbok Rah yang masih sibuk dengan sapu, kemoceng dan kain pelnya.
Sejenak perempuan paruh baya itu menghentikan kegiatannya. Terlihat Mbok Jum berpikir.
"Pena Papa yang sudah rusak itu Mbok," jelas Rara membantu ingatan Mbok Jum.
"Kotak merah yang Nona temui di Bufet depan."
Tanpa minta pamit, segera Mbok Rah bergegas menuju lantai dua. Entah dibagian mana ia meletakkan benda tersebut, yang pasti ketika ia menyerahkan benda tersebut ke tangan Rara, gadis itu tersenyum puas.
"Terimakasih, Mbok."
Rara membuka kotak tersebut dengan hati-hati. Sebuah pena sederhana terdapat di dalam kotak yang dilapisi oleh kain beludru berwarna hitam. Sekilas pena itu terlihat biasa saja. Tapi jika diamati ada keunikan pada pena tersebut. Dimana pada bagian badan pena tersebut terukir indah nama Papa di sana.
Pena ini adalah sebuah benda yang paling berharga buat Papa. Pena bersejarah, karena tinta pena ini digunakan Papa pertama kali menandatangani kontrak kerja sama. Dan itu adalah awal dari kejayaan perusahaan yang dimiliki Papa.
Tinta yang dikeluarkan pena ini adalah sebuah sejarah yang menandakan jatuh bangunnya kejayaan usaha yang dibangun Papa. Sampai pada satu keadaan, pena tersebut tidak bisa dipergunakan lagi. Papa tidak membuangnya, tapi menyimpannya dengan baik.
Rara akan mencoba mencari replika serupa dengan pena milik Papa ini. Jika berhasil ia akan hadiahkan sebagai kado untuk ulang tahun Papa.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAKDIR CINTA
CintaPertemuan Rara dan Robi membuka sebuah kisah dan rahasia kehidupan mereka masing-masing. Cinta yang hadir di antara mereka, tidak mengurangi permasalahan yang mereka hadapi dalam detak kehidupan yang merek jalani. Mampukah Rara dan Robi keluar dari...
