Bab 40 : Tak Perlu Ragu

4 0 0
                                        

Galau melanda dua anak manusia yang berada pada dimensi yang sama. Sudah hampir setengah jam yang lalu, Rara dan Robi berada di ruang terbuka ini. Dari matahari masih belum terlalu terik sampai akhirnya bersinar dengan gagahnya. Yang terjadi mereka tetap diam. Masing-masing berada dalam dunianya sendiri.

"Apa yang akan kita bahas kali ini?" tanya Rara memecah sunyi. Ada semacam ketidak nyaman ketika mereka berdiam diri seperti ini. Oleh karena itu Rara berinisiatif untuk memulai kata.

Namun, laki-laki yang berada di depannya ini hanya diam. Menatap ke arah lain dengan pikiran panjangnya. Gadis manis dengan gaun violet semi sutranya tidak menarik sama sekali bagi Robi kali ini. Biasanya, Robi akan memuji Rara jika gadis itu berpakaian seindah ini.

"Aku minta maaf mewakili Papa," ucap Rara lirih.

Kali ini Robi menatapnya. Ada padangan terluka pada mata tajam yang sangat dipuja Rara.

"Kenapa bukan dia yang datang padaku menjelaskan ini semua? Kenapa justru dia memintamu untuk mewakilinya bicara."

Robi menuntut penjelasan. Sejak mereka mengetahui benang merah antara Robi, Rara, Arya Bagas dan Sri Anna. Robi memang tidak pernah meminta waktu kepada Rara untuk berjumpa dengan ayahnya. Dalam pemikirannya, setelah Rara bercerita dengan Ayahnya, pasti Arya Bagas akan meminta waktu untuk berjumpa dan menjelaskan semua ini padanya.

Namun, yang diharapkan Robi tidak pernah terjadi. Sudah dua minggu berlalu sejak kepulangan mereka dari rumah mendiang Bu Sri, Arya Bagas tidak pernah menghubunginya. Robi yang berinisiatif untuk menghubungi Rara, sekaligus ingin memastikan seberapa banyak yang telah dilakukan gadis itu ketika mengetahui informasi yang melibatkan diri dan keluarganya.

"Aku datang memenuhi ajakanmu bukan untuk mewakili Papaku. Kehadiranku bersamamu saat ini murni mewakili diriku sendiri."

Rara kecewa dengan tuduhan Robi. Dalam kondisi ini, bukan hanya Robi yang menjadi serba salah, ia juga merasakan hal yang sama. Namun, kesan yang terlihat sekarang luka itu hanya milik Robi seorang sedang bagi Rara hanya bahagia yang dirasa.

"Maafkan aku," ucap Robi. Diambilnya tangan Rara. Digenggamnya seakan meminta sedikit kekuatan pada gadis itu untuk menyelesaikan semua ini.

"Luka itu bukan hanya milikmu. Aku juga terluka. Namun, apakah harus kita berdua sama-sama lebur di dalamnya? Takdir sudah menuntun kita untuk berada dalam sebuah lingkaran yang sama, suka ataupun tidak itu harus kita hadapi dan selesaikan. Agar kita berdua bisa bahagia bersama."

Rara melepaskan tangannya yang masih berada dalam genggaman tangan Robi. Kali ini, ia tidak ingin membiarkan masalah ini menjadi semakin besar. Tangan Robi yang masih terkepal digenggamnya, seakan memberikan sebuah sugesti bahwa ia semua bisa selesai dengan indah.

"Bagaimana aku harus menghadapi Ayahmu, Ra. Apakah aku sanggup menatap wajah laki-laki yang telah membuat aku seperti ini, ketika nanti aku meminta anak gadisnya menjadi pendampingku?" tanya Robi kecewa.

"Boleh aku bercerita tentang diskusiku dengan Papa?" tanya Rara mencoba mengurangi luka yang sudah terbuka di hati Robi.

"Setelah kunjungan kita ke Bu Rahmah. Keesokkan harinya aku langsung mengklarifikasi informasi itu dengan Papa."

"Dia tidak mengakuinya?" tuduh Robi.

"Kau salah. Justru tidak ada yang ditutupi Papa. Beliau menceritakan semuanya. Awal berjumpa dengan Ibumu, kemudian memutuskan menikahi ibumu sampai pada permintaan Papa kepada ibumu untuk meninggalkan dirimu di Solo."

Sejenak Rara terdiam. Selain memberi udara baru pada dadanya yang mulai sesak, juga memberi ruang pada Robi untuk meredakan sedikit kekecewaannya.

"Papa hanya mengatakan, ia hanya sebagai pihak yang meminta, bukan sebagai pihak yang memutuskan. Seandainya waktu itu Bu Sri tidak menyetujui permintaan beliau. Bagi beliau itu tidak apa-apa," jelas Rara.

"Omong kosong!" Robi menolak penjelasan tersebut.

"Papa tidak minta kau mempercayai apa yang diceritakannya. Bagaimanapun yang mengetahui alasan sebenarnya kenapa kau di tinggalkan adalah Ibumu sendiri."

"Lalu haruskah aku gali kuburnya dan bertanya pada arwahnya?" tanya Robi dengan kesalnya pada Rara.

"Itu tidak pernah ku minta," jawab Rara dengan kekesalan yang sama. Ia sangat memahami seperti apa kecewanya Robi sekarang pada Papa. Namun, bagi Rara yang terpenting adalah sikap Papa tetap mendukung kedekatannya dengan laki-laki ini walau beliau mengetahui bahwa Robi adalah anak dari istri sirinya. Itu semua sudah cukup bagi Rara.

"Maafkan kami. Jika ku tanyakan sesuatu padamu tentang makna kedekatan kita selama ini, apakah kecewamu pada Papa tetap tidak akan berkurang?" tanya Rara.

Robi terdiam, sejenak emosi yang memuncak terhenti karena pertanyaan tersebut. Ada kalanya Rara jauh lebih dewasa dari pada dirinya dalam menghadapi masalah. Kecewa yang selalu menemani kehidupannya, membuat Robi sulit untuk menerima kenyataan yang ada. Walau pada kenyataannya ia sebenarnya adalah laki-laki yang kuat dan tegar. Namun kali ini ia merasa begitu sulit untuk menerima takdir ini. Mungkin karena begitu berartinya Rara di hatinya, sehingga  Robi ingin hubungan ini berjalan sempurna.

"Bagiku saat ini yang paling penting adalah kekuatan cinta yang kita miliki. Seperti apa kenyataan yang ada dihadapan kita, tidak ada salahnya kita terima dengan ikhlas sebagai bunga kehidupan. Beginilah nasihatmu ketika kau memintaku untuk menerima Sri Anna hadir dalam kehidupanku."

"Entahlah, Ra. Saat ini begitu sulit bagiku. Aku tidak bisa memutuskan apapun sekarang, terlebih lagi ketika aku harus menghadapi Papamu dan Sri Anna," jelas Robi putus asa.

"Kau masih menyukaiku?" tanya Rara.

"Rasaku padamu tidak akan berubah Rara. Walau untuk saat ini aku belum bisa berjanji yang indah untukmu. Yang ku khawatir terlalu banyak, Ra."

Sejenak Rara terdiam, ditatapnya laki-laki yang sedang tertunduk lesu tersebut. Laki-laki yang belum terlalu lama dikenalnya, tapi mampu membuat Rara menitipkan sebentuk hati untuk dijaganya. Laki-laki yang tanpa ikrar, janji dan kepastian selalu mampu membuat Rara berkhayal pada suatu saat, ia akan hidup bersama dengan laki-laki ini sampai tua.

Sekarang laki-laki itu sedang dalam kebimbangan. Bukan karena meragukan rasa yang ada dihatinya. Tapi bimbang akan sebuah kenyataan yang nanti akan dihadapinya jika mereka tetap bersama.

"Bicaralah kau dengan Papa dan Sri Anna. Kau katakan segala kecewa, marah dan benci mu pada Papa. Kau juga harus katakan rencana apa yang akan kau susun untuk Sri Anna. Mudah-mudahan setelah itu kau bisa memutuskan, menyudahinya seperti pecundang atau menjalaninya seperti pemenang."

Rara bangkit dari duduknya. Bangku taman kota yang sudah hampir dua jam didukuinya terasa mulai panas. Rara tidak akan mungkin bertahan lama di tempat ini. Saatnya ia memberi ruang untuk berpikir pada Robi.

Sebelum Rara pamit, gadis manis dengan mata bening itu berpesan, "Aku tidak akan lari dari hadapanmu. Jika kau memutuskan lebih baik berakhir aku akan tetap menjadi sahabatmu. Namun jika kau memutuskan untuk melanjutkan aku akan berjuang bersamamu mengobati luka yang akan selalu ada di antara kita."

Robi tidak mampu bicara banyak. Ia hanya menatap hampa punggung Rara yang lambat laun menjauh dan menghilang di antara rindangnya pepohonan di taman kota tersebut. Ia belum mampu memikirkan yang terbaik saat ini. Menemui Arya Bagas dan Sri Anna adalah agenda yang belum terpikirkan saat ini, walau itu disarankan oleh Rara. Namun satu yang diyakininya, seperti apapun pahitnya kecewa yang mendera hidupnya kini, ia tetap menginginkan Rara yang mendampinginya pada waktunya nanti.

TAKDIR CINTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang