"Bagaimana kejadiannya Amang?" tanya Robi ketika dalam keadaan letih jasmani dan rohani pada Amang yang menunggu dengan gelisah di luar pintu ruangan UGD salah satu rumah sakit di ibukota.
Evita tidak terlihat sama sekali. Robi pun tidak berniat untuk mengetahuinya. Robi teringat sesuatu, menjauh dari Amang sejenak dan menghubungi seseorang menggunakan ponsel pintarnya.
"Aku sudah di rumah sakit sekarang Ra. Kau tidurlah, jangan pikirkan apa yang kita alami malam ini. Lain waktu kita diskusikan apa yang terbaik." Sebuah pesan disampaikan Robi pada Rara yang menanti kabar darinya.
Sedikit melapangkan sesak di dada, namun tetap tidak mengangkat beban yang menghimpit. Itu yang dirasakan Rara di kamar tidurnya yang luas. Entah karena sudah tenang Robi sampai dengan selamat atau mungkin karena pesan dari Robi tadi, yang pasti akhirnya gadis itu menyerah kalah pada tuntutan jasmani yang memaksanya untuk beristirahat dan akhirnya terlelap.
Di tempat lain, Robi masih setia menunggu bersama Amang Theo di ruang tunggu UGD. Sudah hampir satu jam Robi di sini belum ada juga tanda-tanda seseorang dari dalam mengabari mereka. Apa yang terjadi? Baik-baikkah semuanya atau sebaliknya. Di tengah kegelisahan, tiba-tiba pintu ruang UGD tersebut terbuka. Evita keluar dengan mata sembab, mencoba menyembunyikan air mata tapi bekas cucuran air mata tersebut tergambar nyata pada kedua pipinya.
"Mama ingin bertemu dengan kalian," ucapnya lirih. Tidak menunggu komentar dari Amang dan Robi, Evita pun bergegas masuk.
Dua laki-laki berbeda generasi itu berjalan mengikuti Evita. Bagi Robi aroma khas dari rumah sakit sangat tidak disukainya. Kepergian orang tua angkatnya akibat kecelakaan, membuat Robi sangat mengenali aroma ini. Sejak kejadian tersebut rumah sakit adalah salah satu yang sangat dihindarinya. Jika keadaan memaksa Robi lebih memilih memanggil dokter perusahaan untuk memeriksa dan mengobati sakitnya.
Evita berhenti pada ujung dari ruangan ini, dibukanya tirai penghalang yang berwarna putih dan dibiarkannya Amang dan Robi melangkah masuk baru kemudian ditutupnya kembali.
Rose - Ibu Evita yang merupakan Namboru Robi terbaring tak berdaya. Pandangan matanya demikian lemahnya ketika melihat ke dua laki-laki tersebut masuk. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya ia mengisyaratkan kepada Amang dan Robi untuk mendekat.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Amang.
Rose memaksakan diri untuk tersenyum walau pada akhirnya yang ada hanya ia merasa kesulitan.
"Jangan dipaksakan. Tidak usah berpikir yang lain. Yang penting sekarang fokus dengan kesehatanmu," nasihat Amang pada wanita tersebut.
Dengan kondisinya yang masih lemah. Rose mencoba menggapai tangan Robi. Setelah tangan pemuda itu digenggamnya sebuah pesan disampaikan.
"Umurku tidak akan lama lagi. Bisakah kau berjanji padaku untuk selalu ada di samping Evita?" Sebuah pinta yang tidak mampu dijawab Robi dengan bijak. Pemuda gagah itu hanya terdiam. Dan hanya bisa memberikan sebuah jalan dan bukan janji.
"Namboru pasti akan sembuh. Bukan cuma aku yang ada untuk Evita, kita semua, Namboru dan juga Amang Theo akan selalu ada untuk Evita." Robi memaksakan diri untuk tersenyum ketika mengakhiri kalimatnya. Sebuah senyum keterpaksaan karena menghadapi umat Tuhan yang mulai putus asa terhadap hidupnya.
"Aku ingin mereka menikah secepatnya," ucap Rose lirih pada Amang Theo.
Kali kedua Robi mendapat sengatan listrik ribuan volt, yang merontokkan semua persendiannya. Kalau terus begini, bisa-bisa ia akan mati muda.
"Kau bersediakan mengabulkan pinta Namborumu ini?" tanya Rose sambil memandang Robi yang berdiri disisi kiri tempat tidurnya.
Robi mundur teratur. Menghindari untuk bicara, sekaligus membuang sesak di dada yang semakin penuh.
"Kita akan rencana itu dengan baik. Untuk kali ini fokus dulu dengan kesehatanmu." Kali ini Amang mencoba menyelamatkan Robi.
Tanpa pamit, Robi meninggalkan ruangan itu. Dari pada ia semakin terbebani lebih baik pergi menghindar. Ia percayakan nasib hidupnya pada Amang yang mudah-mudahan bisa dengan bijaksana menghadapi semua permintaan Namborunya.
"Aku minta maaf, Bang," ucap Evita ketika berhasil menyusul Robi yang bergegas meninggalkan lorong UGD.
"Anggap apa yang diucapkan Mama tadi hanya sebuah canda semata."
Robi menghentikan langkahnya. Ditatapnya Evita dengan pandangan yang menusuk.
"Semua tergantung padamu Evi? Apakah kau akan mengikuti keinginan Mamamu atau mengikuti keinginanku."
Evita terdiam. Siapapun yang mengenal Evita dengan baik, sudah pasti mengetahui pada siapa Evita jatuh cinta setengah mati. Sejak gadis itu mengenal cinta, sejak itu pula hanya nama Robi yang ada dihatinya. Dalam kondisi sekarang, ini adalah sebuah keberuntungan buat gadis bertubuh jangkung ini. Permintaan orang tua akan membawa ia mendapatkan laki-laki impiannya ini. Namun mampukah Evita menjalani kehidupan dengan sebuah cinta yang hanya besar di satu sisi? Jika ia bersedia, Evita harus siap dengan segala konsekuensi yang terjadi.
"Kau tidak bisa menjawabnya?" ejek Robi.
"Dari awal sudah ku tegaskan. Perjodohan yang diatur oleh adat ini aku tidak menyetujui dan tidak menyukainya. Aku menghormati ibumu dan aku akan melindungimu sebagai Adek perempuanku. Tidak ada yang lebih tinggi tingkatannya yang akan kau dapati nanti. Jadi berhentilah bermimpi," tegas Robi sambil berjalan menjauhi Evita.
Hari ini cukup sampai disini badai yang diterimanya. Pulang ke rumah, lalu mandi dan membaringkan badan lelahnya pada peraduan hangatnya adalah alternatif yang terbayang saat ini. Setelah berpamitan pada Amang melalui telepon, laki-laki yang kehilangan separuh dari semangat hidupnya itu meninggalkan rumah sakit.
Tidak ia pedulikan lagi Evita yang masih terisak dalam tangis mendengar pernyataannya tadi. Tidak ia hiraukan ketika Amang tetap memintanya bertahan di sini sampai kondisi Namborunya stabil. Semuanya ia abaikan, yang ada saat ini Robi hanya memikirkan dirinya dan kebahagiaannya.
Walau bahagia itu masih jauh dari harapan yang tergambar, namun setidaknya ujung hari ini ia ingin bebas dari belenggu yang hampir mencekiknya hingga mati. Ternyata takdir bahagia masih belum mau menghampirinya saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAKDIR CINTA
RomancePertemuan Rara dan Robi membuka sebuah kisah dan rahasia kehidupan mereka masing-masing. Cinta yang hadir di antara mereka, tidak mengurangi permasalahan yang mereka hadapi dalam detak kehidupan yang merek jalani. Mampukah Rara dan Robi keluar dari...
