"Cepatlah tidur. Besok sepagi mungkin kita berangkat," pesan Robi ketika mengantar Rara ke kamar home stay tempat mereka menginap malam ini.
Setelah Rara masuk ke dalam, Robi pun bergegas menuju kamarnya. Hari ini cukup melelahkan, ia ingin segera mandi dan berbaring untuk memulihkan stamina.
***Di kamar Rara***
Sangat jelas tergambar kegelisahan di wajah Rara malam ini. Segelas susu hangat yang dimintanya dari resepsionis ternyata tidak mampu membuatnya cepat tertidur. Padahal tadi, Robi berpesan padanya untuk segera tidur.
Apa yang salah dengan malam ini? Rara sendiri tidak mengetahui jawaban pastinya. Ia merasa ada sesuatu yang menganjal, sesuatu yang tertahan dan sesuatu yang mengambang. Tapi untuk diperjelas pun Rara tidak tahu harus memulainya dari mana.
"Mungkin ini gara-gara Robi mau ke Jakarta," gumam Rara dalam hati.
Sebenarnya tidak ada salahnya dengan rencana kepergian Robi ke Jakarta. Toh Robi manusia bebas, bisa pergi kemana saja yang ia suka. Tapi yang menjadi masalah besar buatnya adalah, keinginan Robi untuk mengajaknya ikut serta. Dan itu sudah tergambar tadi.
Sudah hampir enam bulan Rara meninggalkan Jakarta atau tepatnya rumah. Enam bulan pula tidak berjumpa dengan orang tua dan kakak laki-lakinya. Jika ditanya rindu sudah tidak dapat ia gambarkan lagi seperti apa rupa dan bentuknya. Tapi jika ia kembali, sudah bisa dipastikan ia bukan hanya bertemu dengan Papa, Mama dan Bagas. Pasti Rara juga akan bertemu dengan Anna. Inilah yang belum bisa untuk diterima dan dihadapinya.
Masih teringat bagaimana bujukan dan pertanyaan dari Bagas ketika ia punya kesempatan untuk menghubungi kakak laki-lakinya itu.
"Sampai kapan kau pergi?" tanya Bagas.
"Sampai aku bisa menerima anak Papa itu." jawabnya gusar, karena setiap orang rumah menelponnya pasti ini yang selalu ditanyakan. Tidak Bagas, Mama bahkan Papa, pasti hal ini yang ditanyakan. Kapan ia pulang? Apa tidak rindu dengan mereka? Semua bujuk rayu yang sampai kini belum berhasil melunakkan kekerasan hatinya.
"Bagaimana bisa kau menerima Anna, sementara kau tidak memberi ruang dan waktu untuk mengenalnya," cerca Bagas
"Kau jangan desak aku!" protes Rara keras
"Ra, aku mohon pulanglah," pinta Bagas.
Lama terdiam
"Pikirkanlah kami, Papa, Mama dan Aku. Jangan kau pikir kami bisa tenang. Walau kau tinggal dirumah Eyang, bukan berarti kami tidak mengkhawatirkanmu. Kami rindu, Ra." jelas Bagas sebelum mengakhiri pembicaraan.
Sangat tergambar bahwa Bagas berbicara apa adanya. Penegasan kata pada kalimat kami rindu, sudah merupakan cerminan perasaan keluarga Rara selama enam bulan ini.
Sekarang kondisi yang sama terjadi lagi. Tapi kali ini yang meminta bukan keluarganya. Jika mereka kembali meminta Rara untuk pulang, mungkin akan banyak alasan yang bisa diutarakannya. Tentu saja akan banyak pemahaman dan pengertian yang bisa diterima keluarga Rara, sehingga kembali bersabar menunggu kepulangannya.
Tapi kini yang memintanya kembali ke Jakarta adalah Robi. Tidak akan mungkin ia memberi alasan yang berkaitan dengan Anna. Karena bagi Robi itu bukan alasan. Ditambah enam bulan mengenal Robi, laki-laki ini bukan tipe lelaki yang gampang menyerah. Ia akan berusaha mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Perjalan waktu yang bersama Robi selama ini, bisa menjadi saksi bagaimana Robi mampu melunakkan kerasnya hati Rara.
Capek berpikir tentang sebuah alasan dan menjawab tanya, tanpa terasa jam di tangan kirinya sudah menunjukkan pukul 23.45, sudah mendekati tengah malam, akhirnya Rara menyerah pada alam. Badannya sudah tidak sanggup lagi untuk bangun dan berpikir. Biarlah masalah ini terurai dengan sendirinya. Berharap ketika bangun nanti ia sudah menemukan jawaban untuknya dan Robi.
***Di kamar Robi***
Setelah mandi, Robi membuka ranselnya dan mengeluarkan agenda kerja berwarna hitam. Pada lembar pertama dikeluarkannya foto lama yang didapatnya dari kerabat ayahnya. Diletakkannya dengan hati-hati pada meja kecil disamping ranjang. Dipandangnya foto itu, dilihatnya dalam-dalam pada sosok wanita yang tersenyum bahagia tersebut.
"Kenapa harus kau tinggalkan aku, Bu?" tanya hati Robi.
"Apa salahku, sehingga kau tidak mengajakku bersama keluarga barumu?" Sesalnya seakan menyalahkan diri sendiri.
"Aku harus menemukanmu, akan kutanyakan semuanya," tekat Robi dalam hatinya.
Tepat ketika Robi mengembalikan foto tersebut, pada saat itu gawai yang terletak di atas meja bergetar. Sebuah nomor yang tidak memiliki identitas tergambar dilayar depan. Ada keraguan untuk mengangkat. Robi ingin tidur, ia ingin beristirahat. Perjalan pulang kembali ke Solo serta ajakan untuk membawa Rara ke Jakarta membutuhkan pemikiran yang cerdas agar Rara bersedia untuk ikut pulang bersamanya. Oleh sebab itu ia butuh istirahat sekarang. Tapi gawainya tetap bergetar.
Panggilan pertama berhasil diabaikan Robi. Berharap nomor itu tidak menghubunginya kembali, ternyata sia-sia belaka. Tepat ketika Robi membaringkan badannya, kembali gawai pintarnya bergetar. Masih nomor yang sama, dan kali ini Robi terpaksa menerima panggilan masuk tersebut. Siapa tahu memang panggilan mendesak.
"Halo," sapa Robi keras, sengaja biar lawan bicaranya tahu ia tidak ingin berlama-lama
"Bang, ini aku. Evita."
Robi diam, berpikir, ada apa ini? Setelah kepulangan ia dan Amang dari Sleman. Robi tidak pernah lagi mengingat Evita. Bahkan menelpon untuk sekedar mengucapkan terimakasih karena sudah membantunya juga tidak dilakukannya. Malam ini gadis yang sudah ia lupakan menelepon.
"Darimana ia tahu nomor kontakku?" tanya Robi dalam hati.
"Maaf menganggu Abang malam-malam." terdengar lagi suara gadis itu.
"Ada apa kau meneleponku malam-malam. O ya darimana kau dapat nomorku?"tanya Robi dengan nada ketus.
Ia tidak menyukai kerabatnya yang satu ini. Atau tepatnya ia tidak menyukai ibu dari gadis ini, sehingga berpengaruh pada keramahannya pada Evita. Apalagi ia sudah mengetahui maksud terselubung mereka, ketika Robi berkenalan dengan Evita.
"Amang Theo yang memberikannya." jawabnya
"Jadi ada apa ni? Katakan cepat. Aku mau tidur."Desak Robi, ia tidak ingin berlama-lama berbincang dengan Evita. Selain badannya capek, Robi juga menghindari menjalin keakraban dengan Evita.
"Jika Abang sudah pulang ke Solo, tolong langsung telpon aku. Aku punya informasi yang berhubungan dengan Bu Sri." ucapnya buru-buru sambil menutup telpon tanpa mengucapkan salam, dan tanpa memberi kesempatan Robi untuk bertanya.
Robi sudah tidak mampu lagi untuk berpikir maksud dari kalimat Evita tadi. Ia hanya membuat catatan pengingat di gawainya untuk melaksanakan perintah dari Evita. Kali ini bukan karena ia sudah tunduk kepada Evita, namun hanya untuk mengumpulkan seluruh informasi yang mendukung proses pencariannya.
Untuk saat ini ia ingin tidur dan tidak memikirkan apa-apa. Disingkirkan semua gundah hati karena sebuah pencarian untuk seorang ibu. Dan diabaikan semua ketidaksukaannya pada kerabat dekatnya yang sangat mengganggu kenyamanannya.
Sebuah janji terpatri di hati, bahwa esok hari ia akan bangun dan menikmati hari-harinya bersama Rara. Menikmati segumpal hati yang sudah berubah bentuk dan rasa, dimana Robi merasakan bahwa kehadiran gadis berhidung mancung itu sangat berarti buatnya, bukan lagi sebagai teman atau sahabat tapi sebagai orang yang tepat untuk menjaga hati yang dititipkan Robi pada masanya nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAKDIR CINTA
RomancePertemuan Rara dan Robi membuka sebuah kisah dan rahasia kehidupan mereka masing-masing. Cinta yang hadir di antara mereka, tidak mengurangi permasalahan yang mereka hadapi dalam detak kehidupan yang merek jalani. Mampukah Rara dan Robi keluar dari...
