Previous title: Los Angeles
"Hidup itu memilih dan dipilih. Keuntungan dan resiko mengikutinya dari belakang."
***
Berawal dari kehilangan dompet, Adinda Putri mendapatkan pertolongan dari Daniel Seavey. Namun, rasa curiga tiba-tiba muncul dalam ben...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Chapter 19 -Canceled
Dinda tak banyak bicara. Hanya diam, memandang kosong ke depan. Hatinya masih sakit atas perkataan Alice kemarin, ucapan istri Kennedy itu masih terngiang jelas di kepala, dan itu membuat Bellova beserta Noah tak terurus sama sekali. Keduanya sama-sama teracuhkan. Daniel terkadang kewalahan menghadapi Noah yang terus-menerus rewel, tapi untungnya the boys selalu siap sedia.
Sekarang perempuan kelahiran Surabaya itu menonton televisi, tetapi otaknya tak sinkron dengan arah pandangan. Bahkan smartphonenya, yang sejak tadi, berdering nyaring akibat video call dari Astrid pun tak di angkat.
Mau tak mau, Daniel menerima telepon tersebut. Sejenak ia memejamkan mata, rasa bersalah dan bingung memenuhi tubuhnya.
"Hai, Din," sapa wanita paruh baya itu, terlihat sedang merajut sepatu.
Daniel menghembuskan napas, tak tahu harus memberi sebuah alasan seperti apa. "Halo, Mrs. Maaf, dia sedang tak enak badan. Sepertinya."
Astrid tersenyum lebar, menyambut alasan Daniel dengan ramah. "Oh, hai, Daniel. Bisakah kau memberikan smartphonenya kepada Dinda? we want to talk a little."
"Who's that?" tanya Jack mendekat ke arah Daniel seraya membuka kaleng soda.
"Astrid, Dinda's Mom," jawabnya singkat menengadahkan kepala. "Aku tidak tahu harus bagaimana, Jack. Merasa bersalah dan bingung. Aku yakin, beliau takkan tega melihat kondisi Dinda sekarang," bisiknya.
"Bilang saja, dia masih tidur." Jack memberi ide tanpa bersuara.
Tuhan, maafkan aku.
"Eh, dia-dia... Masih tidur. Semalam kami syuting dan ya, sepertinya dia kelelahan." Daniel tak tahu harus menjawab apalagi. Tak ada kalimat yang terpikirkan di otaknya saat ini, hanya kalimat itu yang langsung keluar dari bibirnya. Semoga saja, Astrid percaya atas ucapan lelaki itu.
"Oh, astaga. Dia masih tertidur? By the way, terima kasih telah menolongnya. Aku tak tahu harus bagaimana jika kau tidak ada saat itu," terang Astrid menyambungkan satu benang ke benang lainnya dan Daniel hanya terkekeh. "Maaf jika telah merepotkan kalian berlima."
"Tak apa, kami senang bisa membantu. So yeah," balas Daniel sekenanya.
Percakapan itu singkat. Hanya beberapa menit saja, sebelum akhirnya Astrid mengakhiri telepon karena orderan rajut yang begitu banyak. Meletakkan benda pipi itu di atas meja, Daniel bersandar pada seat sofa. Menatap langit-langit ruang keluarga dan menghembuskan napas panjangnya. Ia kehilangan akal atas tingkah laku Dinda kemarin dan menyatakan apa yang di lakukannya kepada Astrid itu salah.