Previous title: Los Angeles
"Hidup itu memilih dan dipilih. Keuntungan dan resiko mengikutinya dari belakang."
***
Berawal dari kehilangan dompet, Adinda Putri mendapatkan pertolongan dari Daniel Seavey. Namun, rasa curiga tiba-tiba muncul dalam ben...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Chapter 5 - Keep Her
Daniel dan Dinda berjalan kaki di sekitar kawasan Baverly Hills--tempat mansion Why Don't We tinggal sebelum matahari terbenam bersama Noah. Keduanya saling berbincang satu sama lain, membahas segala hal dan menceritakan segala peristiwa yang mereka alami—termasuk mengenai siapa Bellova yang sebenarnya. Dan, tentunya paparazi menangkap momen-momen tersebut.
Namun, Daniel tak memedulikan hal itu. Ia ingin menghabiskan waktu bersama Dinda, Noah, dan Kobe. Tanpa Bellova tentunya. Karena, gadis itu tengah menyibukkan diri dengan menggarap novel yang rencananya akan rilis tahun depan.
"Lalu, apakah hubungan kalian membaik?" tanya Daniel ketika Dinda membagikan sebuah cerita mengenai masa lalunya.
"Tidak. Berakhir di persidangan." Dinda mengusap air matanya, mengedipkannya beberapa kali. "Karena, aku sudah tidak kuat lagi dengan sikapnya."
Daniel menghentikan kakinya, menghadap ke arah Dinda. "Don't cry. Kau akan mendapatkan seseorang yang lebih baik darinya," jelasnya mengusap kedua sudut mata gadis itu. Tentunya, perilaku lelaki itu membuat detak jantung Dinda berdegup kencang. Apalagi, mata biru laut yang begitu indah nan menyejukkan dapat mengakit wanita itu sedikit terhipnotis.
"I feel like I'm in bondage, ugh. Hehehe." Setelah kedua sudut matanya di usap oleh Daniel, Dinda mengibaskan tangan kanan ke depan wajah di sertai sedikit kekehan-seakan-akan mengeringkan sisa-sisa air mata di sana. Entah mengapa, setelah mencurahkan isi hatinya kepada Daniel yang bernotabene orang asing, rasanya ia seperti menghirup udara segar kembali selepas setahun lamanya. Padahal, dia pernah mencurahkan semua ini terhadap para sahabatnya, tetapi tetap saja dadanya masih terasa sesak.
"Bagaimana jika kita pergi ke taman? Membeli Es Krim? Setahuku, Es Krim bisa merubah mood wanita menjadi lebih baik," jelas Daniel polos sembari mengedikkan bahu.
Dinda terkekeh. "Boleh."
"I want!" sahut Noah senang dan mendapatkan kekehan dari Daniel juga di sambut senyuman tipis milik Dinda.
Berada di dekat Daniel, Dinda merasa nyaman. Aman. Dan, terlindungi. Entah apa maksud dari semuanya di balik ini, hal itu telah ia rasakan semenjak pertemuan pertama mereka di LAX Airport.
Tanpa Dinda sadari, mereka bertiga telah tiba di taman. Banyak sekali orang yang berkunjung, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Daniel pergi menuju salah satu penjual es krim bersama Noah, sebelum akhirnya balita itu memilih bermain di Playground daripada bergabung bersama Daniel dan Mommynya. Sedangkan Dinda, ia mematung di tempat mengamati pergerakan putranya.
"Kenapa kau berdiri di situ?" tanya Daniel menghampiri Dinda seraya membawa dua cup Es Krim--Coklat dan Vanilla, duduk di salah satu bangku taman.
Dinda pun langsung duduk di sebelah Daniel dan mata teduhnya mengawasi Noah. Tetapi, yang terlintas dipikirannya saat ini malah kejadian yang paling menyedihkan dalam hidupnya. Sudah satu tahun lamanya ia berusaha melupakannya dengan cara menyibukkan diri dan pergi liburan ke Los Angeles--walaupun berujung seperti ini. Daniel datang menolongnya dan ia bersama Bellova dan Noah menginap di mansion pria itu--tapi, tetap saja. Kenyataannya tak semudah itu untuk melupakan saking menyakitkannya.