Previous title: Los Angeles
"Hidup itu memilih dan dipilih. Keuntungan dan resiko mengikutinya dari belakang."
***
Berawal dari kehilangan dompet, Adinda Putri mendapatkan pertolongan dari Daniel Seavey. Namun, rasa curiga tiba-tiba muncul dalam ben...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Chapter 21 - The Good Times and The Bad Ones
"Awshh!! Pelan-pelan!"
"Ini sudah terlalu pelan, Daniel. Sebentar lagi akan selesai dan kau bisa beristirahat selepas itu."
Kamar Daniel di penuhi the boys, Ersya, Bellova, dan Noah. Pria kelahiran 2 April 1999 itu sesekali mengeluh kesakitan saat kepala bagian belakangnya tersentuh oleh handuk kecil.
Dinda sedikit ngilu membayangkan kejadian beberapa jam tadi--Daniel terkena pukulan keras dari tongkat baseball milik Ilham di bagian kepala belakang.
Flashback on
"DANIEL!" Daniel tersungkur ke tanah selepas sebuah tongkat baseball menghantam kepala bagian belakangnya.
Dinda menoleh ke kanan dan matanya melotot tak percaya atas apa yang ia lihat. Bergegas menghampiri Daniel yang telah menutup rapat matanya, kedua tangan mulai mengepal erat sampai-sampai berwarna putih. "Wake up, Daniel! Please..."
Bayangan-bayangan mengerikan terlintas dibenaknya. Tapi, ia takkan membiarkan hal itu terjadi. Kehilangan Dania dan Darren saja sudah membuat hatinya terpecah belah menjadi berkeping-keping. Bagaimanapun juga, Daniel harus bisa di selamatkan. Dan, lagi-lagi, kalimat tajam yang keluar dari mulut Alice muncul kembali di dalam otaknya. Namun, perkataan Daniel membuatnya menepis ucapan Alice.
Tidak. Dia bukan sumber masalah. Hanya saja, takdirnya sudah digariskan sedemikian rupa oleh Tuhan. Dan, tak ada yang bisa merubahnya.
Jonah langsung membopong Daniel keluar dari tempat menyeramkan ini, selepas Dinda memandang Ilham yang telah di borgol oleh pihak kepolisian--entah sejak kapan datang--dengan tatapan maut. Sedangkan Bellova digendong oleh Corbyn masuk ke dalam mobil.
Flashback off
Satu mutiara berwarna putih yang telah keluar dari kelopak mata meluncur melewati pipi tirusnya, perlahan turun ke dagu, dan menetes di tepat di atas punggung tangan kanan Daniel yang tergeletak di atas ranjang. Kemudian, di susul mutiara-mutiara bening lainnya.
Pergelangan tangan kanan yang cukup kekar pun bergerak mengusap cairan sebening kristal pada kedua sudut mata Dinda secara bergantian menggunakan pergerakan yang lembut tapi mematikan. Dinda pun seketika terpaku atas perlakuan Daniel padanya. Innocent but deadly. Itu kata yang tepat untuk mendeskripsikan perilaku Daniel saat ini. Tapi, satu pertanyaan melintas di kepalanya secara tiba-tiba.
Apakah Daniel akan selalu bersikap seperti ini kepadanya?
Bukan bermaksud untuk mencari perhatian. Itu membuang-buang waktu dan tenaga saja. Tentu. Namun, apakah memang akan selalu sama atau akan berbeda lagi untuk ke depannya?
"Aku tidak suka melihatmu sedih, menangis seperti ini. Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."
Dinda tak menjawab ucapan Daniel melainkan langsung memeluk kekasihnya, selepas pandangannya beralih. Melampiaskan segalanya melalui pelukan tersebut. "Maafkan aku. Karena aku, kau jadi terseret dalam masalah," ucapnya penuh perasaan bersalah dan mendadak kamar ini pun diselimuti rasa iba dan haru.