Previous title: Los Angeles
"Hidup itu memilih dan dipilih. Keuntungan dan resiko mengikutinya dari belakang."
***
Berawal dari kehilangan dompet, Adinda Putri mendapatkan pertolongan dari Daniel Seavey. Namun, rasa curiga tiba-tiba muncul dalam ben...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Chapter 20 - Kidnapping
Dinda dan Ersya berkeliling di salah satu pusat perbelanjaan yang berada di Los Angeles. Sebenarnya, Dinda tidak ingin berbelanja. Mengingat ia tak pernah memegang uang, hanya di akibatkan dompetnya yang telah musnah entah kemana. Namun, Ersya tetap memaksanya untuk berbelanja. Perempuan pemakai hoodie, hot pants, topi, serta sepatu boots yang masing-masing warnanya sama-sama gelap itu mau tak mau mengiyakan. Dan, ini kesempatan bagus untuk Bellova belajar berjalan.
"Dikit lagi, Bells," kata Ersya memberi semangat.
Bellova menghembuskan napas, "Udah, Te. Capek."
"Ga boleh nyerah, ok?" Dinda mengecup dahi Bellova dengan penuh kasih sayang.
"Please..."
"Ya udah, istirahat dulu."
"Gue beli minum dulu, ye," kata Ersya melengos pergi, meninggalkan Dinda di salah satu kursi yang tersedia bersama Bellova dan Noah. "Tungguin di situ!" Teriakan terakhir Ersya menyita perhatian banyak orang, tetapi Dinda lah yang merasa malu atas perilaku sahabatnya itu.
Situ yang ngelakuin, gue yang malu. Bangke.
"Mom, pingin pipis," keluh Noah secara tiba-tiba, sehingga langsung menarik pergelangan tangan Dinda yang sibuk mencari smartphonennya. "Ayo!"
"Ehh, bentar, Noah--" Noah tak mendengarkan ucapan ibunya. Ia segera menarik Dinda menuju toilet, alhasil Bellova duduk seorang diri di depan store.
Perasaan Dinda tak enak ketika menoleh ke belakang, melihat Bellova duduk seorang diri memandangi parkiran. Sorot kebingungan dan kekhawatiran yang besar terlihat dari dua matanya di saat bersamaan. Langkah kaki semakin jauh dari jarak Bellova berada dan suara derapnya semakin bertambah cepat mengekori Noah yang tengah berlari saat ini. Perlahan, sosok gadis dengan rambut panjang yang terurai lenyap dari pandangannya. Di gantikan oleh tembok pembatas toilet umum di mall ini.
Noah masuk ke dalam, sementara Dinda menunggu di depan toilet. Kakinya melangkah sedikit keluar dari tempat itu guna mengecek keberadaan Bellova, sekali-kali mengintip ke arah bilik toilet yang di masuki oleh putranya.
Dahinya mengernyit ketika tak menemukan Bellova tak ada di tempatnya tadi. Ia segera masuk ke dalam toilet, menghampiri Noah. Untungnya, balita itu telah menyelesaikan acaranya. Dinda pun menggendong Noah meninggalkan toilet dan menuju ke tempat Bellova berada.
"Din, ini--" Ersya datang membawa empat botol air mineral, namun tatapannya terpaku pada kursi kosong di depannya. "Lho, Bells mana?"
"Kita langsung cari aja dia." Dinda bertindak cepat.
Mereka berlari masuk ke dalam parkiran, melangkah lebih cepat dari biasanya, dan tak memedulikan tatapan orang-orang sekitar.
Perasaan buruk disertai bayangan mengerikan telah menghantam dada dan pikiran Dinda, bagaikan bom atom yang meledak di kota Hiroshima secara tiba-tiba. Keringat dingin membasahi pipinya, napasnya tersengal-sengal disaat rasa juangnya masih tersisa banyak. Ia merogoh backpack, kemudian mengambil smartphone, dan menelepon Daniel.