Previous title: Los Angeles
"Hidup itu memilih dan dipilih. Keuntungan dan resiko mengikutinya dari belakang."
***
Berawal dari kehilangan dompet, Adinda Putri mendapatkan pertolongan dari Daniel Seavey. Namun, rasa curiga tiba-tiba muncul dalam ben...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Chapter 33 - Aftertaste
Ibu jari Dinda tak berhenti men-scroll layar touchscreen yang menampilkan beranda aplikasi Instagram. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan hari ini, rasanya sangat bosan. Selain memainkan smartphone di kursi sofa dengan berbagai snack di depannya dan televisi yang menyala tetapi tak ditonton olehnya, hanya itu yang bisa dilakukan. Biasanya, jika seperti ini, Dinda bermain bersama Noah atau, bertukar pesan dengan Daniel.
Giraffe Calling...
"Tuh kan...," gumamnya melihat Daniel tiba-tiba menelepon dirinya dan langsung menggeser ikon telepon berwarna hijau ke atas.
"Hi!" sapa Daniel dengan suara seraknya.
Mulut Dinda terasa keluh seketika mendengar satu kata keluar Daniel. Hanya demi bisa membalas sapaan lelaki itu, ia menelan ludah dan rasanya sangat sulit untuk dicoba. Dadanya terasa sesak ketika mengingat peristiwa yang terjadi di The Kasablanka Hall waktu itu. Kini, ia sebatas terpaku seraya memandangi smartphonennya dengan lekat.
"Are you there, babe?"
Dinda mengedipkan mata. Panggilan itu seharusnya tak melekat pada perannya lagi saat ini dan ia sebenarnya juga merasa tak pantas mendapatkan panggilan itu dari Daniel ketika mereka masih menjalin hubungan kemarin. "Don't call me like that again. We're just... friend right now, okay?" ucapnya berusaha mengangkat suaranya setelah sekian lama terhanyut dalam kebisuan.
"Listen to me, I'm not scared to jump if you want to. Let's just fall in love for the hell of it," jelas Daniel menyakinkan.
"I can't." Wanita itu pasrah. Memijat batang hidungnya dan mengusahakan diri agar tidak terbawa arus kata-kata pria tersebut. Dan, saat itu juga, panggilan telepon diputus oleh Daniel.
Dinda bernapas lega tapi rasa bersalah juga terselip dalam hatinya. Entahlah, intinya ialah perasaannya saat ini sedang bercampur aduk menjadi satu. Mengapa menjadi rumit seperti ini? Namun, layarnya lagi-lagi menunjukkan foto profil Daniel. Bukan melalui panggilan suara, melainkan panggilan video. Ia spontan menerima panggilan video tersebut dan di sana, Daniel duduk sambil memangku gitarnya.
Baru saja Dinda ingin bersuara, Daniel memotongnya dengan nyanyian sembari memetik senar gitar dan menghasilkan nada-nada yang indah.
"I've got scars, even though they can't always be seen And pain gets hard, but now you're here and I don't feel a thing Pay attention, I hope that you listen cause I let my guard down Right now I'm completely defenseless~"
Dinda menutup mata, mengambil udara sebanyak-banyaknya. Mengharapkan hatinya agar tidak terhanyut dalam suara Daniel yang melantunkan lagu If I Could Fly dari One Direction, tetapi tetap saja. Dirinya tertarik ke dalam suara emas pria itu yang berpaduan dengan nada-nada hasil genjrengan gitar akustik.