Happy Reading
"Kamu duduk sini, aku mau ke dapur duluan." Ucap Azzar kepada Dijah, sebelum berjalan keluar dari kamar Mama-nya itu.
"I-iya, Mas."
Setelah Suaminya keluar, Dijah pun langsung memposisikan dirinya untuk duduk di pinggir ranjang dan bersiap untuk menyuapi Syifa.
"Mama malah merepotkan kamu, Nak."
"Ngak akan pernah ngrepotin Dijah kok, Ma. Malahan Dijah bahagia bisa selalu merawat Mama, sekaligus bisa selalu dekat dengan Mama juga. Nah, sekarang Mama makan dulu ya." Ucap Dijah, seraya mengarahkan sendok berisi bubur ke mulut Syifa.
"Huh, kamu ngeyel deh." Akhirnya Syifa menerima setiap suapan dari Dijah ,sembari mendengarkan Dijah yang bercerita berbagai hal kepadanya.
"Beruntungnya diriku mendapatkan menantu sepertimu, Nak. Mama sepertinya akan bahagia dan tenang meninggalkan Azzar dengan kamu." Ucap batin Syifa, yang sangat bersyukur dengan kehidupannya saat ini.
>>>...............<<<
"Alhamdulillah, Mama lahap banget makannya. Dijah kira Mama masih merasa tidak enak badannya." Ujar Dijah setelah selesai menyuapi Syifa.
"Enak banget gini kok masa ngak suka sih, buktinya habis kan buburnya. Alhamdulillah, Mama sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Kamu itu kaya paket komplit banget, tahu. Udah pinter masak, lemah lembut, baik hati, sholehah lagi. Mama bersyukur punya menantu kaya Dijah."
"Mama bisa aja mujinya, Dijah ngak sesempurna itu kok. Nah, sekarang Mama minum obatnya ya." Balas Dijah sembari memberikan kapsul obat untuk Syifa.
"Tapi kamau layak untuk di puji, terima kasih ya." Syifa pun menerima obat yang di berikan oleh Dijah dan segera meminumnya.
"Alhamdulillah." Ucap Syifa setelah meminum obat dan air putih.
"Dijah mau beresin ini dulu ya, Ma. Sama mau nyiapin sarapan buat Mas Azzar."
"Iya, Sayang. Terima kasih ya, udah anterin sarapan untuk Mama dan merawat Mama terus."
"Ya Allah, Mama tidak perlu berterima kasih kepada Dijah. Ini sudah menjadi kewajiban Dijah, untuk selalu merawat dan menyayangi Mama seperti Ibu kandung Dijah sendiri." Balas Dijah dengan nada lembutnya, seraya menggenggam tangan Syifa.
"Iya, Nak. Mama sangat bersyukur, dimasa tua Mama ini bisa selalu mendapatkan kasih sayang dari anak dan menantu Mama."
"Alhamdulillah, Ma. Kalau begitu Dijah ke dapur dulu ya, Ma. Dijah juga sebentar lagi mau siap-siap berangkat bekerja."
"Iya, Nak."
-
-
-
-
Kini Dijah tengah meletakkan piring kotor yang di gunakan oleh Syifa tadi di wastafel, dirinya langsung membalikkan badannya dan pandangannya terfokus pada Azzar yang berada di meja makan.
"M-Mas belum sarapan ya?" Tanya Dijah ketika sudah berada di depan Suaminya itu, yang masih asik bermain ponsel.
"Belum." Balas Azzar singkat, dengan nada datar dan dinginnya.
"Mas harus cepat sarapan, nanti telat loh. Sekarang Dijah ambilkan, Mas mau sarapan pakai apa?" Ujar Dijah dengan nada lembutnya, seraya mengambil piring kosong yang berada di hadapan Azzar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Imam Mudaku [End]
Romance{Part masih lengkap} *Tahap Revisi* Ketika Cinta Tak Memandang Tempat Berlabuh
![Imam Mudaku [End]](https://img.wattpad.com/cover/252300306-64-k495036.jpg)