Bantuan

10.3K 691 8
                                        




Happy Reading

"Gila lo, Zar. Berani banget lo godain guru." Ujar Naufal ketika Dijah sudah pergi dari kelasnya dan Azzar yang telah kembali duduk di kursi yang berada di sampingnya.

"Bener tuh sih kantung semar, lo kalau pengen pacar bilang sama kita masa sekali suka sama cewek langsung godain guru." Sahut Rangga yang kini sudah duduk di kursi yang berada di depan Naufal dan Azzar.

"Emang ada yang salah?" Balas Azzar dengan nada datarnya.

"Ya iya-lah, kita emang suka sama Bu Dijah tapi karena Bu Dijah lebih dewasa dari kita pasti dia akan memilih seseorang yang juga dewasa seperti dirinya." Ucap Naufal, seraya menepuk pelan bahu sahabatnya itu.

"Tumben bener lo, biasanya ngomong sesuatu yang gelay banget." Celetuk Rangga yang langsung mendapat toyoran dari Naufal.

"Maksud lo apa? Heh?, Rangga kuyuk bungkus soto. Netijen julid dasar."

"Memang umurnya dewasa, tapi sifatnya udah dewasa atau belum? Itu yang terpenting menurut gue." Sahut Azzar.

"Heh?, maksud lo?." Jawab Naufal dan Rangga berbarengan, karena merasa bingung dengan ucapan sahabatnya itu.

>>>...................<<<


Setelah kejadian di kelas dimana Azzar yang terus-menerus menggoda Istrinya itu yang membuat kedua pipi Dijah tidak berhenti merona, membuat hubungan antara Azzar dan Dijah semakin dekat. Mungkin dekat dalam artian sudah merasakan nyaman satu sama lain. Azzar yang dulunya begitu dingin dan cuek menjadi pribadi yang berubah selama hidup bersama dengan Dijah, ia lebih hangat ketika berbicara dengan Dijah dan tidak ada raut wajah yang terkesan dingin dan datar.

"Dijah? Dijah?" Panggil Azzar ketika tidak menemukan keberadaan Dijah sedari tadi, seraya berjalan dengan tergesa-gesa menuruni anak tangga. Ia sebenarnya agak canggung memanggil Dijah dengan nama saja tanpa embel-embel apa-apa, tapi ia harus berusaha menghilangkan kecanggungan itu karena bagaimanapun sekarang dirinya-lah yang menjadi kepala keluarga.

"Iya, Mas." Sahut Dijah yang baru saja keluar dari kamar Syifa, dan mendengar suara sang Suami yang tengah memanggil namanya.

"Kamu dari mana aja, aku cariin lo dari tadi." Ujar Azzar dengan nada lembut, setelah berada di hadapan Istrinya itu.

"Dijah minta maaf, Mas. Dijah tadi lihat Mama sebentar. Memangnya ada apa, Mas? Mas butuh sesuatu?"

"A-aku mau minta bantuan kamu." Tiba-tiba Azzar menjadi salah tingkah sendiri, ketika ingin mengutarakan keinginannya.

"Bantuan apa, Mas?"

"Ikut aku." Bukannya menjawab pertanyaan dari Dijah, tetapi Azzar malah menggenggam tangan Dijah dan menarik tangan mungil itu menuju kamar mereka.

Dijah yang diperlakukan seperti itu tentu saja terkejut, selama ini mereka jarang sekali kontak fisik seperti ini. Hal tersebut tentu saja membuat kedua pipi Dijah menjadi merona, ketika merasakan tekstur kulit telapak tangan Azzar yang terasa kasar itu menyentuh lembut tangannya.


"Ya Allah, jantung hamba." Ucap batin Dijah, dengan mata yang masih melihat  ke arah tangan mungilnya yang terlingkupi tangan besar milik Azzar.

-

-

-

*Cklek...*

Imam Mudaku [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang